Menjelaskan Struktur Antigen dan Transmisi dengan singkat

Struktur antigen

Antigen flagella (H), somatic (O) dan antigen spora  dapat dijumpai pada Clostridium tetani. Antigen spora berbeda dari antigen H  dan antigen O pada sel somatic. Organisme ini dapat dibagi menjadi 10 tipe berdasarkan antigen flagellarnya. Clostridium tetani mempunyai kelompok agglutinasi somatic tunggal untuk semua strain yaitu dengan menggunakan fluorescein-labeled antisera. Dan menghasilkan neurotoksin dari tipe antigenic yang sama, yaitu tetanospasmin serta dinetralisasi dengan antitoxin tunggal.

Transmisi

Spora dari Clostridium tetani ini banyak tersebar luas di tanah dan dijumpai pula pada tinja manusia dan hewan. Jalan masuk spora ke tubuh biasanya melalui luka misalnya luka akibat tertusuk jarum pada kaki, penggunaan jarum suntik yang tidak steril pada penderita ketergantungan obat, perawatan luka yang kurang baik. Tapi spora yang masuk tidak bersifat invasive dia hanya yang terlokalisir di daerah luka saja.. Jaringan yang rusak dan gangguan aliran darah pada luka serta lingkungan yang anaerob merupakan tempat yang disukai oleh spora Cl. tetani ini untukmembentuk kolonisasi.2,7

Tetanus bisa menyerang semua golongan umur. Di negara berkembang, tetanus pada anak masih menjadi masalah besar. Biasanya disebabkan ketidaksterilan alat pada pemotongan umbilicus bayi pada saat lahir atau sirkumsisi yang tidak steril. Tercatat kematian neonatus akibat tetanus di Bangladesh berkisar antara 112 – 330 kasus.9 Dari Program nasional surveillance Tetanus di Amerika Serikat, diketahui rata-rata usia pasien tetanus dewasa berkisar antara 50 – 57 tahun. 7

Toksin

Sel vegetatif  dari Cl. tetani menghasilkan toksin tetanospasmin  (BM 150.000) yang tersusun oleh protease bacterial dalam dua peptide (BM 50.000 dan 100.000) dihubungkan oleh ikatan disulfida. Mulanya toksin berikatan dengan reseptor prasinaps pada motor neuron. Kemudian bergerak ke hulu melalui sistem  transport aksonal retrograd menuju cell bodies neuron-neuron tesebut  hingga medulla spinalis dan batang otak. Toksin berdifusi ke terminal dari sel inhibitor, termasuk interneuron glisinergik dan neuron yang mensekresi asam aminobutirat dari batang otak. Toksin menurunkan sinaptobrevin, yaitu suatu protein yang berperan dalam mengikat vesikel neurotransmitter pada membrane prasinaps. Pengeluaran glisin inhibitor dan asam aminobutirat gama diblok dan motor neuron tidak dihambat. hiperrefleksia , spasme otot dan paralysis spastic terjadi. Toksin dalam jumlah yang sangat kecil bisa mematikan manusia.