Menjelaskan Politik Identitas dengan singkat

Konsep ini dijelaskan oleh Gabriel Almond (Tri Yudha Handoko,2009)secara panjang lebar dan mudah dimengerti, yaitu sebagai berikut ini. Sarana-sarana, pengalaman-pengalaman, dan pengaruh-pengaruh tersebut, yang semuanya membentuk sikapsikap individu, selanjutnya menciptakan apa yang disebut “politik identitas” seseorang, yaitu suatu kombinasi dari beberapa perasaan dan sikap:

  1. Di dalam sistem politik terdapat sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan dasar seperti nasionalisme, identifikasi etnik atau kelas, keterikatan ideologis, dan perasaan fundamental akan hak-hak, keistimewaan dan kewajiban pribadi.
  2. Kurang terdapat komitmen emosional terhadap, dan pengetahuan tentang, lembagalembaga pemerintahan dan politik seperti pemilihan umum, struktur badan perwakilan, kekuasaan badan eksekutif, struktur badan pengadilan; dan system hukum.
  3. Lebih banyak terdapat pandangan-pandangan yang cepat berubah tentang peristiwa-peristiwa, kebijaksanaan politik, issue-issue politik dan tokohtokoh politik yang sedang terkenal. Politik identitas memang sejauh ini dipahami dan diarahkan dalam artian identitas personal dan identitas kolektif seperti identitas yang dibangun atas dasar gender, orientasi seksual, suku, agama dan bangsa.

Daftar Pustaka
Liliweri, Alo. 2001. Gatra-gatra Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lubis, Lusiana Andriani. 2014. Pemahaman Praktis Komunikasi Antarbudaya. Medan: USU Press.
Morissan. 2013. Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Kharisma Putra Utama Cetakan Ke 1.