Menjelaskan Mata Pencaharian Suku Donggo dengan singkat

Sejak lama mereka melakukan pertanian ladang dengan sistem tebas bakar “ngoho” setelah pembakaran pohon yang ditebang dilaksanakan pembersihan sisa bakaran “boro”. Kemudian lahan itu siap untuk ditanami sambil menanti hujan, tetapi sebelumnya ada upacara raju untuk menentukan hari yang tepat untuk bertanam. Selanjutnya ada upacara kadaki yaitu pengusiran hama kalau tanaman itu sudah cukup besar dan sambil menanti datangnya masa panen. Pertanian sawah belum lama dikenal oleh masyarakat.

Kegiatan berburu sudah berakar lama dalam masyarakat ini. Berburu biasanya dilaksanakan dalam kelompok yang dilakukan seminggu atau sebulan sekali. Mereka juga melakukan perburuan massal setahun sekali. Pembagian hasil buruan tergantung kepada banyak sedikitnya tenaga dan jasa yang diberikan oleh seseorang. Namun kalau hasil buruannya cukup banyak maka daging buruan itu akan diberikan secara cuma-cuma kepada penduduk kampung. Hasil binatang buruan itu mereka tafsirkan pada hasil pertanian.

Apabila mereka banyak yang memperoleh kijang “maju” maka hasil pertanian diperkirakan akan kurang, sedangkan kalau mereka banyak memperoleh babi “wawi” maka mereka tafsirkan hasil pertanian akan melimpah. Ternak yang dipelihara ialah sapi, kuda, kambing, kerbau, ayam dan babi. Ukuran kekayaan pada masyarakat ini ialah luasnya sawah, ladang dan banyaknya ternak.