Menjelaskan Konsep dan Teori Uang Dalam Ekonomi Konvensional dengan singkat

Pada mulanya uang berbentuk barang komoditas atau barang barter, kemudian berevolusi kedalam bentuk mata uang, baik dalam bentuk logam maupun kertas. Meskipun demikian keduanya disahkan dan diakui sebagai alat pembayaran. Dengan adanya uang sebagai alat tukar, maka kegiatan ekonomi menjadi mudah untuk dilaksanakan. Dengan kata lain uang muncul sebagai terobosan untuk menghilangkan kesukaran-kesukaran yang ada pada sistem ekonomi barter.

Menurut teori konvensional, uang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi hukum dan dari sisi fungsi. Secara hukum uang adalah sesuatu yang dirumuskan oleh undang-undang sebagai uang. Jadi segala sesuatu dapat diterima sebagai uang, jika ada aturan atau hukum yang manunjukkan bahwa sesuatu itu dapat digunakan sebagai alat tukar-menukar. Sementara secara fungsi, yang dikatakan sebagai uang adalah segala sesuatu yang menjalankan fungsi sebagai uang, yaitu :

  • transaksi
  • spekulasi
  • jaga-jaga (precautionary).

Hadirnya uang dalam sistem perekonomian akan mempengaruhi perekonomian suatu negara, yang biasanya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan moneter. Dan pada umumnya analisis ekonomi suatu negara ditentukan oleh analisis atas ukuran uang yang beredar. Menurut Samuelsen, banyak ekonom percaya bahwa perubahan jumlah uang yang beredar dalam jangka panjang akan menghasilkan tingkatan harga, sedangkan dampaknya terhadap output real, adalah sedikit atau tidak ada.

Dengan kata lain, ekspansi moneter akan akan menurunkan tingkat bunga pasar, sehingga hal ini akan meningkatkan pengeluaran untuk investasi usaha riil yang sangat sensitif terhadap perubahan tingkat bunga. Melalui mekanisme pengganda yaitu adanya penambahan persediaan atau cadangan uang yang diakibatkan adanya tabungan masyarakat maka permintaan agregat akan meningkat, yang akan menyebabkan naiknya output dan harga di atas tingkat yang tidak dicapai dalam situasi normal. Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku dalam ekonomi. Di antara teori tersebut adalah :

1. Teori Moneter (Permintaan Uang) Klasik
Teori permintaan uang klasik tercermin dalam teori kuantitas uang. Pada awalnya teori ini digunakan untuk menerangkan peranan uang dalam perekonomian. Secara sederhana Irving Fisher merumuskan teori kuantitas uang ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut :

  • MV = PT
    Di mana M adalah jumlah uang, V adalah tingkat perputaran uang, yakni berapa kali suatu mata uang pindah tangan dari satu orang kepada orang lain dalam suatu periode tertentu. Kemudian P adalah harga barang, dan T adalah volume barang yang menjadi objek transaksi. Dari rumus diatas, maka dapat dipahami bahwa jumlah unit barang yang ditransaksikan (T) dikalikan dengan harganya (P), harus selalu sama dengan jumlah uang (M) dikalikan dengan perputarannya. Dengan kata lain, total pengeluaran (MV) sama dengan nilai barang yang dibeli (PT). Dalam teori kuantitas ini, Irving Fisher mengasumsikan bahwa keberadaan uang pada hakikatnya adalah flow concept. Keberadaan uang ataupun permintaan uang tidak dipengaruhi oleh suku bunga, akan tetapi besar kecilnya uang akan ditentukan oleh kecepatan perputaran uang itu sendiri.Pada saat yang hampir bersamaan Marshal dan Pigou dari Universitas Cambridge, mengembngkan formulasi yang hampir sama dengan Fisher, namun pada hakikatnya berbeda. Formula tersebut adalah sebagai berikut :
    Di mana k = 1/v, dengan demikian permintaan uang akan menjadi formula sebagai berikut :
  • Md = k P O = k Y
    Secara sistematik, fomula Marshal ini sama dengan formula Irving Fisher, namun mempunyai filosofi yang berbeda. Marshal-Pigou menyatakan bahwa, k adalah sebagai turunan dari 1/v yang merupakan tingkat keinginan seseorang untuk menyimpan sebagian kekayaannya, dan penyimpanan uang adalah satu kekayaan yang dimiliki oleh seorang individu. Oleh karena itu ia menganggap bahwa uang adalah salah satu cara untuk melakukan penyimpanan kekayaan, maka keberadaan uang dalam teori ini disebut sebagai stock concept.
    Oleh karena itu uang juga difungsikan sebagai alat untuk menyimpan kekayaan, maka seorang individu akan menentukan pilihan individunya dalam memelihara komposisi kekayaan yang dimilikinya, apakah akan disimpan dalam bentuk bond, stock atau money, dan lain-lain.

2. Teori Keynes
Dalam bukunya yang bejudul The General Theory of Employment, Interest, and Money, Keynes menyatakan bahwa “mekanisme pasar tidak dapat secara otomatis menjamin adanya full employment dalam perekonomian.” Selanjutnya dia menyarankan adanya campur tangan dari pemerintah dalam perekonomian.
Kemudian Keynes berpendapat bahwa seseorang mengatur uang atau asetnya dipengaruhi oleh tiga hal yaitu :

  • Money demand for transaction
    Permintaan jenis ini adalah permintaan uang yang dilakukan untuk transaksi karena adanya suatu kebutuhan, dimana uang difungsikan sebagai alat pembayaran.
  • Money demand for precautionary
    Permintaan jenis ini adalah permintaan uang dengan motif untuk berjaga-jaga, dimana uang digunakan untuk memenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga.
  • Money demand for speculation
    Permintaan jenis ini adalah permintaan uang yang digunkan untuk motif berspekulasi, di mana uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang kemungkinannya tidak terduga, yang biasanya lebih bersifat mendapat keuntungan namun masih belum pasti.

Time Value of Money Menurut Ekonomi Konvensional
Dalam teori ekonomi konvensional uang dipandang sebagai sesuatu yang sangat berharga dan dapat berkembang dalam suatu waktu tertentu. Anggapan demikian kemudian melahirkan konsep time value of money. Time value of money adalah nilai waktu dari uang yang bisa bertambah dan berkurang sebagai akibat perjalanan waktu. Dengan memegang uang orang dihadapkan pada risiko menurunnya daya beli dari kekayaannya sebagai akibat dari inflasi. Sedangkan dengan memilih menyimpan uang dalam bentuk surat berharga, pemilik akan memperoleh bunga yang diperkirakan diatas inflasi yang terjadi.

Dengan demikian, nilai uang saat sekarang nilai substitusinya terhadap barang akan lebih tinggi dibanding nilainya di masa yang akan datang. Definisi time value of money tersebut tampak tidak akurat, sebab setiap investasi selalu mempunyai kemungkinan untuk mendapat nilai positif, negatif atau bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Itulah sebabnya dalam teori keuangan, selalu dikenal risk-return relation. Ini berarti, bisnis selalu terkait dengan risiko dan perolehan.

Bagi ekonomi konvensional ada dua hal yang menjadi alasan munculnya konsep time value of money, yaitu :

  1. Presence of inflation
    Argumen ini tidak dapat diterima karena tidak lengkap kondisinya. Dalam setiap perekonomian selalu ada keadaan inflasi dan keadaan deflasi. Bila keadaan inflasi yang dijadikan dasar munculnya konsep time value of money, seharusnya keadaan deflasi harus dijadikan alasan munculnya konsep negative time value of money. Kenyataannya, kondisi inflasi sajalah yang dijadikan acuan dalam menentukan konsep time value of money, sementara keadaan deflasi selalu diabaikan.
  2. Preference of present consumption to future comsumption.
    Argumen kedua, preferensi konsumsi saat ini ke masa yang akan datang. Konsumsi atau investasi masa depan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
  3. Ketidakpastian return
    Dalam ekonomi konvensional, penerapan time value of money tidak senaif yang dibayangkan, misalnya dengan mengabaikan ketidakpastian return yang akan diterima. Jika unsur ketidakpastian return ini dimasukan, ekonomi konvensional menyebut kompensasinya sebagai discount rate.
  4. Current goods dan future goods
    Perilaku konsumsi seseorang saat ini dipengaruhi oleh harapannya di masa depan. Meminjam akan memungkinkan seseorang meningkatkan konsumsi saat ini dengan harga yang harus dibayar di kemudian hari.
  5. Intemporal budget line
    Perilaku konsumsi seseorang dengan melibaykan lebih satu periode waktu disebut dengan intertemporal consumption pattern.
  6. Deriving demand for current consumption
    Permintaan seseorang atas suatu barang konsumsi yang akan di konsumsi pada saat sekarang.
  7. Deriving demand for future consumption
    Permintaan seseorang atas suatu barang konsumsi yang akan di konsumsi pada saat yang akan datang.
  8. Change in endowment point and its effect on demand
    Perubahan titik endowment adalah ditentukan oleh besarnya current income dan besarnya future income. Oleh karena itu, setiap perubahan current income atau setiap perubahan pada future income akan merubah titik endowment.
  9. Change in current income
    Berubahnya pendapatan seseorang saat ini akan menentukan perubahan tingkat permintaannya.
  10. Change in future income
    Berubahnya pendapatan seseorang pada masa yang akan datang akan menentukan perubahan tingkat permintaannya.