Menjelaskan Karakteristik Filum Porifera dengan singkat

Spons adalah pemakan suspense (suspension feeder). Mereka menangkap partikel makanan yang tersuspensi di dalam air yang di lewatkan melalui tubuhnya. Pada beberapa spesies, tubuh spons menyerupai kantong yang berpori-pori. Air ditarik melalui pori-pori ke dalam rongga tengah, spongosol (spongocoel), kemudian mengalir keluar dari spons melalui  bukaan yang lebih besar disebut oskulum (osculum). Spons lebih kompleks memiliki dinding tubuh yang berlipat-lipat, dan banyak yang memiliki kanal air yang bercabang-cabang dan beberapa oskulum. Spons adalah hewan basal, artinya mereka merepresentasikan garis keturunan yang bermula di dekat akar pohon filogenetik hewan. Tidak seperti semua hewan lain, spons tidak memiliki jaringan sejati, kelompok sel-sel serupa yang bertindak sebagai unit fungsional dan terisolasi dari jaringan-jaringan yang  lain oleh lapisan bermembran, akan tetapi,t ubuh spons mengandung beberapa tipe-tipe sel yang berbeda. Misalnya, lapisan interior spongosoel adalah koanosit (choanocyte) berflagela, atau sel kerah (dinamai berdasarkan kerah bermembran disekitar dasar flagelum) (Campbell, 2008)

Kemiripan antara koanosit dan sel-sel choanoflagellata mendukung bukti molekular yang menyatakan bahwa hewan berevolusi dari nenek moyang serupa Choanoflagellata. Tubuh spons terdiri dari dua lapisan sel yang dipisahkan oleh wilayah bergelatin disebut mesohil (mesohyl). Sel-sel yang mengembara melalui mesohil disebut amoebosit (amoebocyte), yang dinamai berdasarkan pseudopodia yang digunakan. Amoebosit memiliki banyak fungsi. Amoebosit mengambil makanan dari air dan koanosit, mencernanya, dan mengangkut nutrient ke sel-sel yang lain (Campbell, 2008).

Mereka menghasilkan serat rangka yang kokoh di dalam mesohil. Beberapa kelompok spons, serat-serat ini merupakan spikula tajam yang terbuat dari kalsium karbonat atau silica. Spons lain menghasilkan serat-serat yang lebih fleksibel, terbuat dari protein disebut sponging. Kebanyakan spons adalah hermafrodit (hermaphrodite), artinya setiap individu berfungsi sebagai jantan dan betina sekaligus dalam reproduksi seksual dengan menghasilkan sperma dan telur. Hampir semua spons menunjukkan hermafroditisme sekuensial, yakni berfungsi sebagai salah satu jenis kelamin dan kemudian  menjadi jenis kelamin yang satu lagi. Gamet spons muncul dari koanosit atau amoebosit. Telur menetap di dalam mesohil, namun sperma diangkut keluar dari spons oleh aliran air (Campbell, 2008)

Fertilisasi silang dihasilkan beberapa sperma yang ditarik kedalam individu-individu di sekitarnya. Fertilisasi terjadi di dalam mesohil, tempat zigot berkembang menjadi larva berflagela yang bisa berenang dan menyebar dari spons induk. Setelah menetap di substrat yang cocok, larva berkembang menjadi dewasa yang sesil. Spons menghasilkan berbagai antibiotik dan senyawa-senyawa pertahanan yang lain. Para peneliti kini sedang mengisolasi senyawa-senyawa ini, yang memberi harapan untuk memerangi penyakit-penyakit manusia, misalnya, senyawa disebut kribrostatin yang diisolasi dari spons laut dapat membunuh galur-galur resisten penisilin dari baketri streptococcus. Senyawa senyawa yang diperoleh dari spons sedang diuji sebagai agen antikanker potensial (Campbell, 2008).

Tubuh Porifera masih diorganisasi pada tingkat seluler, artinya tersusun atas sel-sel yang cenderung bekerja secara mandiri. Porifera dikenal juga sebagai hewan berpori. Dibanding dengan Protozoa maka susunan tubuh porifera lebih komplek. Tubuh Porifera tidak lagi terdiri atas satu sel malainkan telah tersusun atas banyak sel. Berdasarkan sejarah embrionalnya dan ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh Porifera beberapa ahli memasukan Porifera ke dalam kelompok Parazoa atau hewan sampingan. Sebagian besar Porifera  hidup di laut kecuali famili Spongillidae yang hidup di air tawar. (Satino, 2004).

Ukuran tubuh hewan spons sangat bervariasi, kebanyakan spons kalkareus berukuran kira-kira sebutir padi, tetapi sebuah spons yang besar bisa memiliki tinggi dan diameter bermeter-meter. Beberapa jenis hewan ini bersimetri radial, tetapi kebanyakan tidak teratur atau asimetris, yang menampakkan bentuk atau pola massif  (seperti sebongkahan batu), tegak, pipih melebar dan menempel (encrusting) atau bercabang-cabang (Kastawi, 2001).

Bagian permukaan tubuh spons askon akan berlubang-lubang kecil (pori) yang disebut pori masuk atau prosopil. Lubang kecil ini merupakan tempat masuknya air dari luar. Pori masuk akan bermuara pada spongocoel (rongga sentral) dan rongga sentral tersebut bermuara pada sebuah lubang besar yang disebut oskulum. Jadi air yang masuk melalui rongga sentral akan keluar melalui oskulum (Kastawi, 2001).

Menurut Satino (2004), Secara umum Porifera memiliki ciri-ciri khusus antara lain:

  1. Tubuh memiliki banyak pori yang merupakan system saluran air yang menghubungkan bagian luar dan bagian dalam tubuh
  2. Tidak memiliki alat gerak
  3. Sistem pencernaan berlangsung secara intraselular
  4. Tubuh disokong oleh mesenchim dan spikula-spikula atau bahan serabut yang tersusun dari bahan organic
  5. Struktur tubuh dibagi atas tiga tipe yaitu ascon, sycon dan rhagon
  6. Bersifat holozoik maupun saprozoik
  7. Berkembang biak secara seksual dan aseksual