Menjelaskan Contoh Teks Anekdot Politik dengan singkat

Contoh teks anekdot politik juga termasuk yang paling sering diproduksi di masyarakat. Ini berkaitan dengan tingginya ketidakpuasan masyarakat terhadap fenomena perpolitikan di negeri mereka.

Silakan perhatikan baik-baik ke-3 contoh teks anekdot politik berikut ini!

13. Judul: 1 liter

Kasiman sedang berjalan di sekitar Jl Gatot Subroto ketika tiba-tiba orang ramai bergerak. Ia bertanya kepada seseorang yang tampak ikut sibuk.

Kasiman : Mas, ini lagi ada apa, ya?
Orang tak dikenal : Wah, lagi  rame, mas. Gedung DPR kebakaran. Nih orang ramai-ramai pergi ke sana, mau bantu.
Mukiyo : Oh, masing-masing bawa berapa ember, mas?
Ibu : 1 liter bensin.
Mukiyo : Tunggu, mas. Saya nyumbang Pertamax nih.

Contoh anekdot politik di atas mengandung gambaran ketidakpercayaan masyarakat kepada institusi DPR.

14. Judul: Saling

Ketika sedang musim pemilihan kepala desa, Kasiman didatangi tim sukses dari balon (bakal calon) kades nomor 1. Ia menerima amplop berisi uang dari mereka.

“Jangan lupa pilih nomor 1, ya.”

“Siaap,” jawab Kasiman.

Tak lama setelahnya, datang tim sukses dari balon kades nomor 2. Ia juga menerima amplop berisi uang dari mereka.

“Ingat lho, pilih nomor 2, OK?”

“Beress,” sahut Kasiman.

Istrinya bertanya, “Mas, kok dua-duanya di-iya-in, nanti gimana? Mas nggak mikirin kalau  ada yang kalah bakal kecewa?”

Kasiman menjawab santai, “Halah, Bu. Habis kepilih juga mereka belum tentu bakal ada yang mikirin kita. Kalau mereka memanfaatkan kita, ya kita juga manfaatkan mereka balik, lah.Hehe..”

Sang istri mengangguk-angguk. “Benar juga, Mas.”

Contoh teks anekdot politik di atas mengkritik situasi masyarakat di mana politik uang sudah sangat menggurita.

15. Judul: Siapa yang Suruh?

Undang-Undang KPK telah disahkan oleh DPR dan tinggal disetujui oleh pemerintah. Semua elemen mahasiswa mengadakan demo akbar di seluruh kota di Indonesia. Mereka menuntut pembatalan UU tersebut karena dinilai melemahkan KPK.

Temon dan Timin adalah 2 sahabat yang juga ikut berdemo.

“Nggak beres ini anggota DPR. Udah kerjaannya tidur melulu, sekalinya bangun, bikin UU yang nggak prioritas dan merugikan,” ujar Temon.

“Iya, nih. Lagian, siapa sih yang nyuruh DPR kerja. Udah bagus mereka tidur aja dah, daripada kerja malah bikin orang lain susah,” balas Timin.

Kedua sahabat itu lalu tertawa bersama.

Contoh anekdot di atas menggambarkan persepsi masyarakat terhadap anggota DPR dengan tingkat kepercayaan yang sangat rendah. Mulai dari kerjanya yang hanya tidur, hingga hasil kerja yang hanya menyusahkan saja.