Menjelaskan Contoh Teks Anekdot Gusdur dengan singkat

Gusdur adalah presiden yang paling terkenal berkelakar dan memiliki segudang anekdot. Contoh teks anekdot Gusdur sebagai berikut.

31. Judul: Kok Bisa Tahu

Gusdur sedang naik pesawat kepresidenan menjamu presiden AS dan Perancis keliling dunia.

Ketika sampai di AS, presiden AS mengulurkan tangannya ke luar jendela, lalu berkata, “Kita sedang di New York.”

“Kok bisa tahu,” tanya yang lain.

“Karena ini, puncak patung Liberty kepegang oleh saya.”

Ketika sampai di Perancis, presiden Perancis mengulurkan tangannya ke luar jendela, lalu berkata, “Kita sedang di Paris.”

“Kok bisa tahu,” tanya yang lain.

“Karena ini, puncak menara eiffel kepegang oleh saya.”

Ketika sampai di Indonesia, presiden Gusdur mengulurkan tangannya ke luar jendela, lalu berkata, “Kita sedang di Tanah Abang.”

“Kok bisa tahu,” tanya yang lain.

“Karena ini, jam tangan saya ilang kecopetan.”

32. Judul: Lontong

Suatu  hari, Gusdur sedang bersama dengan teman-temannya. Ia lalu bilang.

“Kalau mau supaya, di Alam Kubur nggak ditanya malaikat itu gampang,” Ujar Gusdur.

“Lha, emang bisa, Gus? Bukannya setiap orang akan ditanya malaikat penanya di alam kubur?” tanya temannya.

“Lho.. yo gampang. Nanti kalau mati jangan mau dikubur pakai kain kafan. Minta dikubur pakai daun pisang.”

“Hubungane opo toh, Gus?” (hubungannya apa, ya, Gus?)

“Biar nanti kalau malaikat nanya, kamu jawab, “Aku dudu uwong. (Aku bukan orang). Aku lontong.”

33. Judul: Indonesia Beda

“Sifat bangsa itu ada 4,” kata Gusdur di sebuah sesi wawancara. Wartawan itu bertanya, dengan bangsa-bangsa lain di dunia, apa yang membuat Indonesia berdua.

“Pertama, sedikit bicara, sedikit kerja. Contohnya Nigeria dan Angola.

“Kedua, sedikit bicara, banyak kerja. Contohnya, Korsel dan Jepang.

“Ketiga, banyak bicara, banyak kerja. Contohnya China dan Amerika.

“Keempat, Banyak bicara, sedikit kerja. Contohnya India dan Pakistan.”

“Lha, kalau bangsa Indonesia ini masuk yang kategori mana, Gus?” tanya wartawan lainnya.

“Lha, kalo Indonesia ya, beda. Karena lain apa yang dibicarakan, lain lagi apa yang dikerjakan.”