Menjelaskan Contoh Tajuk Rencana dengan singkat

            Berikut contoh tajuk rencana (Djuroto, 2000) :

Tajuk Rencana

MENCOBA MEMAHAMI DAN MENANGGAPI GEJALA MAIN HAKIM SENDIRI

Kasus narkoba begitu merajalela sehingga orang terhenyak dan ketakutan. Korban kecanduan obat terlarang ini berlipat jumlahnya, disebut angka 2 juta untuk Jakarta saja. Peredarannya meluas ke daerah – daerah. Operasi oleh Polri berhasil menangkap sekaligus menunjukkan betapa nyata dan dramatisnya peredaran obat terlarang. Betapa pedihnya orang – orang yang menjadi korban apalagi kebanyakan korban itu anak – anak muda.

Adalah sehat dan masuk akal, masyarakat bangkit mengambil nasibnya sendiri. Di berbagai tempat seperti Jakarta, masyarakat bertindak sendiri menangkap, mengusir dan merusak tempat serta rumah – rumah yang dipakai jual beli dan memakai narkoba. Tindakan masyarakat menjadi hakim sendiri. Ketika misalnya sasaran main hakim sendiri itu semakin marak dan timbul ekses – ekses, kita berpikir ulang. Bangkit melawan narkoba dan kita dukung bagaimana dengan cara main hakim sendiri?

Sasaran main hakim sendiri disinyalir bagai bertambah luas dan sering. Sasarannya bermacam – macam seperti tempat maksiat, judi dan prostitusi. Juga di sini, kesadaran dan tanggung jawab masyarakat itu positif dan sehat. Masyarakat mengambil oper nasibnya di tangan sendiri, yakni nasib lingkungan hidup yang sehat, sejahtera dan bersusila.

Akan tetapi juga dalam hal ini kita mempertanyakan dan menguatkan diri, apakah benar main hakim sendiri? Kita menduga, kesadaran, kepekaan dan tanggung jawab masyarakat terhadap wabah sosial itu sudah pada tempatnya dan karena itu positif dan terpuji. Perihal tindakannya, yakni main hakim sendiri, kita cenderung untuk mengatakan jangan. Tindakan main hakim sendiri membawa konsekuensi dan implikasi yang juga meresahkan masyarakat serta merongrong kepastian dan wibawa hukum. Sekalipun sikap kita tidak membenarkan bahkan mengancam main hakim sendiri, hal itu tidak begitu saja. Sikap menolak dan mencemaskan main hakim sendiri disertai pencarian sebab dan latar belakang, mengapa masyarakat main hakim sendiri? Mengapa main hakim sendiri cenderung meluas dan sering.

Dari para pakar di berbagai bidang dan lingkungan kemasyarakatan, kita sudah mendengar sebab dan musababnya. Apa gunanya kita pertimbangkan benar pendapat para pakar itu. Kita uji dengan pengalaman dan pengamatan kita masing – masing. Keadaan buruk dibiarkan lama berlarut – larut. Keluhan dan protes masyarakat lingkungan dan masyarakat umum, tidak dihiraukan. Tidak terjadi dialog dan komunikasi, bagaimana sebaiknya memecahkan persoala itu. Persoalannya secara obyektif acap kali tidak sederhana. Ambilah sebagai contoh prostitusi. Prostitusi tidak baik. Prostitusi ada. Segala upaya ditempuh tapi pelacuran masih tetap ada. Kecuali secara terus menerus memberikan informasi, persuasi, dan penindakan, muncullah opsi: prostitusi dilokalisir atau dibiarkan liar. Perjudian menunjukkan dilema serupa dilokalisir atau dibiarkan liar.

Sepanjang dalam masyarakat tidak terjadi perubahan,pilihan-pilhan alternatif bisa diberlakukan. Begitu terjadi perubahan timbul gugatan baru. Perubahan itu bisa disebabkan oleh marak dan liarnya prostitusi dan judi sehingga batas-batas yang membuat hal itu selama ditenggang, goyah, dan tidak berlaku. Perubahan dapat disebabkan oleh persepsi masyarakat yang berubah secara wajar maupun secara tidak wajar. Sebutlah rekayasa terhadap penyakit-penyakit sosial itu.

Kita pun tahu, persoalan yang mengandung unsur dilematis dan serta mendua semacam itu, peka terhadap berbagai kemungkinan rekayasa. Dimana aparat dan perangkat masyarakat, yakni aparat dan perangkat pemerintah terlibat? Jika aparat dan perangkat pemerintah entah oleh faktor-faktor apa saja, menjadi kurang peka, menjadi masa bodoh. Semakin parah, jika kemerosotan sikap aparat dan perangkat juga disebabkan oleh faktor uang, sebutlah kolusi.

Itulah sebabnya, upaya menjaga maraknya main hakim sendiri, dikaitkan langsung dengan penegakan dan peneguhan kembali integritas, kompetensi profesional dan disiplin aparat dan perangkat. Tetapi faktor itupun tidak bisa kita lepas begitu saja. Kita semua, masyarakat, pemerintah, dan aparatnya sedang berada dalam perubahan pan pancaroba. Amatlah komplek dan tali temali kondisi dan sosok perubahan dan pancaroba itu.

Terlalu lama kemerdekaan dan keleluasaan masyarakat dikekang dan ditekan. Perangkat dan aparat yang menjadi intrumen pengekang dan penekan terlalu lama cenderung merajalela, tidak bersih, menyalahgunakan wewenang dan kesempatan. Terjadilah bukan hanya pengekangan, tetapi juga rasa tidak adil. Ketika reformasi pro kemerdekaan dan kebebasan tiba,terbukalah semua klep-klep penutup selama ini, menurut karakter dan pembawaannya, ekonomi pasar dan demokrasi melepaskan semua kekuatan yang selama ini terhambat.

Pada masyarakat indonesia yang lama merasakan tekanan, kekangan dan hambatan itu, berlangsung proses akumulasi. Ketika bendungan jebol, meluaplah air, ibarat air bah. Perubahan menjadi kata  kunci, apapun artinya, arahannya dan ikut-ikutannya. Sekaligus kita dihadapkan pada arah dilematis yang dibawa oleh kenyataan bahwa kita masuk dalam jaringan global. Masing-masing kita anggota masyarakat dunia, sekaligus anggota masyarakat lokal. Semakin kental kita terseret menjadi anggota masyarakat global, semakin intensif perasaan dan sentimen kita sebagai anggota masyarakat lokal. Muncullah fenomena ketegangan.

Pada makjsyarakat majemuk seperti masyarakat bangsa kita, beban dan intensitas arah serba dilematis itu semakin rumit, jauh lebih rumit dari masyarakat yang homogen. Kenyataan itulah yang sedang kita alami bahkan dialami dalam tingkat intensitas yang tinggi, tegang, dan berkonflik.

Kita bisa lebih panjag membahasnya. Cukup kiranya dikemukakan, kecuali menyampaikan saran seperti penegakan dan peneguhan integritas serta kompetensi profesional aparat, disiplin dan komitmennya, perlu dipertimbangkan dimensi lain. Dimensi lain itu itu, akhirnya tiba pada kenyataan bahwa kita sedang menghadapi perubahandan pancaroba. Oleh karena itu, kita juga harus dapat menghadapi dan menangani perubahan pancaroba itu.

Kita juga disadarkan, perubahan dan pancaroba itu harus kita hadapi dalam peralihandari otokrasi ke demokrasi, dari serba tertutup ke serba terbuka, dari pengekangan ke kebebasan. Luar biasa rumitnya, luar biasa luas tantangan dan kesempatan yang ditawarkan. Mau tidak mau, kita harus senantiasa menghentakkan kesadaran kita dan secara kritis mencoba memahami permasalahan yang kita hadapi. Bangsa merdeka ialah bangsa yang sadar. Warga merdeka adalah juga warga yang sadar dan terus menerus berefleksi serta berlaku secara kritis (Kompas, Kamis 16 Desember 1999).

 

Contoh tajuk persuasif (Mondry, 2016).

Alam Ini Titipan Anak Cucu

Masalah iklim global kini dipermasalahkan, sehingga mereka semua bertemu di Bali untuk membicarakannya. Tidak mudah memang mencari jalan keluar, karena pada awalnya saya juga bersitegang tentang siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggungjawab terhadap pemanasan global.

Negara maju menuduh negara berkembang mengeksploitasi hutan mereka secara berlebihan, sehingga membuat karbon tidak dapat diuarai menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan. Luas areal hutan di negara – negara tropis yang umumnya negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin terus menyusut secara mengkhawatirkan.

Sebaliknya, negara berkembang yang umumnya pemilik hutan – paru-paru dunia – justru menuduh negara majulah yang membangun industri besar-besaran, sehingga menimbulkan emisi berlebihan di udara dan negara maju pula yang secara diam – diam bersedia membeli hasil hutan (kayu) ilegal atau illegal logging yang dicuri dari hutan negara berkembang.

Perdebatan itu bila tidak diakhiri dengan kesadaran, tidak akan pernah selesai, semua akan merasa benar, karena persoalanya tetap saja menjadi lingkaran setan (satanic sircle) yang tidak berujung. Persoalannya kini bukan siapa salah dan siapa benar, tetapi jauh lebih penting bagaimana mengatasi atau minimal mengurangi pemanasan global itu beserta dampaknya.

Akibat persoalan itu, berbagai dampak sudah mulai terasa di seluruh dunia. Es di daerah kutub semakin mencair, menyebabkan areal hidup bagi beruang kutub, singa dan anjing laut, penguin dan berbagai hewan lain semakin berkurang. Permukaan laut di seluruh bumi ini sudah naik.

Tidak hanya itu, cuaca juga berubah, bahkan lebih sulit diprediksi. Musim hujan dan panas di negara tropis tidak lagi tepat seperti dulu, tetapi mengalam pergeseran, hal serupa juga terjadi di negara dengan empat musim. Cuaca ternyata makin tidak bersahabat dengan banyaknya badai dan topan di berbagai belahan dunia, ombak laut juga lebih tinggi, mengganggu pelayaran dan menghambat nelayan mencari rezeki di luasnya samudera.

Hanya negara yang bersalah, sedang penduduk atau masyarakat tidak! Pemikiran seperti keliru besar. Karena negara tidak dapat melakukan atau berbuat apa – apa tanpa manusia – manusia di negara itu yang sesungguhnya bernama rakyat, penduduk atau masyarakat. Berbagai kebijakan negara, pada dasarnya keputusan manusai, sedang negara dalam konteks fisik hanyalah sesuatu benda mati yang menjadi konkret dalam batasan yang disebut kedaulatan.

Dasar pikir tersebut menegaskan kembali perigatan agama, sesungguhnya manusialah yang telah berbuat kerusakan di darat dan di laut, bukan negara. Karena mereka tidak pernah lagi, atau tidak sempat lagi berpikir bila bumi ini dipinjamkan yang maha kuasa untuk ditempati manusia. Bukan suatu tempat yang dapat diperlakukan semaunya, sesuai kehendak manusia.

Dalam kehidupan yang berpola antargenerasi ini, manusia yang hidup saat harus berpikir bila regenerasi pasti terjadi, karena semua yang hidup pasti mati, dan akan muncul generasi berikutnya. Sedangkan tempat tinggal generasi berikutnya itu tetap satu, di bumi ini. Meskipun ilmu pengetahuan terus mencari alternatof, tetapi yang terbaik dan sudah ada hanya bumi ini.

Karena itu, manusia saat ini harus menjaga bumi ini harus tetap dapat sitinggali generasi berikutnya secara layak. Hal itu hanya dapat terwujud bila manusia sekarang ini sadar, dengan melakukan berbagai kegiatan yang menjaga kelestariaan alam dan lingkungannya, dimulai dari dirinya sendiri dengan kegiatan yang sederhana, bukan menuding orang lain atau negara. Karena sesungguhnya alam ini bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak cucu.

 

Setiap suatu kegiatan pasti ada manfaatnya dan kegiatan yang positif akan memdapat balasan yang positif, untuk  itu dalam hal menulis tajuk rencan harus memperhatikan situasi masyarakatnya, agar tajuk rencana itu tidak bersifat propokatif. Dan selamat mencoba membuat tajuk rencana.

Baca Juga: