Menjelaskan Biaya Perolehan atau Nilai Pasar dengan singkat

Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku atas nilai persediaan adalah menilainya pada biaya perolehan atau nilai pasar, mana yang lebih rendah ( lower of cost or market – LOCOM). penilaian ini dapat mempengaruhi secara signifikan laba berjalan dan nilai persediaan. Aturan LOCOM menyatakan bahwa jika harga pasar  persediaan turun melebihi biaya perolehan persediaan untuk alasan apapun termasuk keusangan, rusak, perubahan harga –maka nilai persediaan diturunkan untuk mencerminkan kerugian ini. Penurunan biaya ini secara efektif dibebankan pada pendapatan periode saat kerugian terjadi. Karena meningkatkan biaya menjadi harga pasar dilarang ( kecuali untuk menutupi kerugian hingga kembali kembali kepada biaya perolehan awal), maka penilaian persediaan menjadi konservatif.

  • Nilai/harga pasar (market) dijabarkan sebagai biaya biaya penggantian terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun begitu, nilai pasar tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih setelah dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai pasar, atau nilai realisasi bersih, mencerminkan biaya penyelesaian dan penyerahan yang terkait dengan penjualan barang.  Batas bawah memastikan bahwa jika nilai persediaan diturunkan dari biaya perolehan awal menjadi nilai pasar, angka penurunan yang terjadi mencakup realisasi laba kotor normal atas penjualan yang dilakukan.

  • Biaya (cost) merupakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung dengan salah satu metode biaya persediaan, misalnya FIFO, atau AVERAGE (rata-rata). Analis persediaan kita harus mempertimbangkan dampak dari aturan LOCOM. Saat harga meningkat, aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa memperhatikan pilihan metode biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio lancar.

  • analisis:
    Usaha awal toro company untuk menjual alat kebersihan salju (snowblowers) tidak berhasil. Toro berangapan bahwa alat pembersih salju merupakan komplemen (pelengkap) usaha alat pemotong rumputnya, terutama setelah curah salju yang begitu tinggi dari tingkat normal selama beberapa tahun terakhir. Toro bereaksi memproduksi alat pembersih salju seolah-olah salju merupakan usaha yang berkembang dan andal seperti tumbuhnya rumput. Tahun disaat alat pembersih salju diperkenalkan, musim dinginnya menghasilkan salju yang lebih sedikit dari biasanya, sehingga baik toro maupun penyalurnya memiliki persediaan barang berlebih. Keuangan beberapa penyalur bahkan sangat tertekan hingga mereka tidak mampu mendanai persediaan alat pemotong rumput untuk musim depan.