Perbedaan Kloning Gen dan PCR

Ada beberapa perbedaan antara Kloning Gen dan PCR. Nah, artikel berikut ini akan memberikan beberapa Perbedaan antara Kloning Gen dan PCR, semoga bermanfaat.

9 Perbedaan antara Kloning Gen dan PCR adalah:

  1. Kloning gen adalah Sebuah teknik amplifikasi gen di mana DNA rekombinan dibangun invitro dan invivo diperkuat dalam bakteri. Sedangkan PCR adalah Sebuah teknik amplifikasi gen di mana DNA diperkuat in vitro. Tidak perlu untuk pembangunan rDNA.
  2. Kloning gen, Enzim restriksi, DNA ligase, DNA vektor dan sel-sel bakteri yang diperlukan. Sedangkan PCR, Taq DNA polimerase atau DNA polimerase termostabil, primer RNA dan deoksiribonukleotida bebas diperlukan bersama dengan segmen DNA untuk diperkuat.
  3. Kloning gen, Setidaknya sejumlah mikrogram DNA diperlukan untuk amplifikasi. Sedangkan PCR, Sebuah nanogram DNA cukup untuk amplifikasi.
  4. Kloning gen, Sebuah enzim restreksi diperlukan untuk pemisahan kembali (reisolasi) DNA diamplifikasi dari rDNA. Sedangkan PCR, Tidak perlu untuk pemisahan kembali (reisolasi) atau penggunaan enzim.
  5. Kloning gen, Untuk mendapatkan DNA yang diinginkan, DNA diamplifikasi harus diputar di langkah terakhir. Sedangkan PCR, Tidak perlu untuk skrining setelah PCR, jika DNA murni belum memulai reaksi.
  6. Kloning gen, 2-4 hari harus dikeluarkan untuk percobaan. Sedangkan PCR, Maksimum 4 jam sudah cukup untuk percobaan.
  7. Kloning gen Tidak perlu untuk otomatisasi. Sedangkan PCR, Otomasi adalah suatu keharusan.
  8. Kloning gen DNA diperkuat dimasukkan ke jumlah terbatas penggunaan. Sedangkan PCR, DNA diperkuat dimasukkan ke jumlah banyak kegunaan karena kemungkinan tidak temukan kesalahan.
  9. Kloning gen Kesalahan kemungkinan ditemukan. Sedangkan PCR, Kesalahan kemungkinan tidak ditemukan.

Apa yang dimaksud PCR?

Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah teknik yang menghasilkan sejumlah besar salinan fragmen DNA tertentu. Amplifikasi eksponensial dari sekuens DNA spesifik diperoleh oleh PCR dalam kondisi in vitro.

Teknik ini adalah alat yang sangat kuat dalam Biologi Molekuler karena dapat menggandakan sampel kecil DNA menjadi jumlah yang dapat digunakan. PCR diperkenalkan oleh Kary Mullis pada tahun 1983 dan penemuan pemenang hadiah ini menciptakan kemajuan besar dalam Biologi Molekuler.

Teknik PCR mengikuti reaksi PCR berulang seperti yang ditunjukkan pada Gambar 02. Satu reaksi PCR terdiri dari tiga langkah utama yang terjadi pada tiga suhu yang berbeda; denaturasi untai ganda pada DNA pada suhu 94 0C, anil primer pada suhu 68 0C dan perpanjangan untai pada suhu 72 0C. Oleh karena itu, ketika PCR dilakukan, fluktuasi suhu harus dipertahankan untuk replikasi yang tepat.

PCR dilakukan di mesin PCR di dalam tabung PCR. Tabung PCR dimuat dengan campuran PCR yang benar yang mengandung DNA templat, Taq polimerase, primer, dNTPs dan buffer. Denaturasi DNA sampel untai ganda menjadi DNA untai tunggal dilakukan dengan memutus ikatan hidrogen antara basa komplementer pada 94 – 98 0C.

Kemudian satu untai cetakan DNA terpapar untuk primer. Sepasang primer (maju dan mundur) harus disediakan, dan mereka harus termostabil untuk mentolerir suhu tinggi. Primer adalah sekuens DNA pendek untai tunggal yang melengkapi ujung fragmen DNA target. Primer sintetis digunakan dalam PCR. Primer mengikat dengan basis sampel DNA komplementer dan memulai sintesis untai baru.

Langkah ini dikatalisis oleh enzim yang disebut Taq polimerase; enzim DNA polimerase termostabil yang diisolasi dari Thermus auqaticus. Ketika primer dan nukleotida (blok bangunan) tersedia, Taq polimerase membangun untai DNA baru yang saling melengkapi untuk membentuk DNA. Pada akhir program PCR, fragmen DNA teramplifikasi diamati menggunakan elektroforesis gel. Jika analisis lebih lanjut diperlukan, produk PCR dimurnikan dari gel.

PCR sangat berguna untuk mendiagnosis dan memantau penyakit genetik dan penyakit yang didapat, mengidentifikasi penjahat (di bidang forensik), mempelajari struktur dan fungsi segmen DNA yang ditargetkan, mengurutkan dan memetakan genom organisme, dll. PCR telah menjadi teknik laboratorium rutin di laboratorium penelitian biologi medis dan molekuler di antara para ilmuwan karena memiliki beragam aplikasi.

Kloning Gen

Apa yang dimaksud Kloning Gen?

Kloning gen adalah teknik yang digunakan untuk menemukan dan mengalikan gen spesifik dari DNA genom yang diekstraksi dari organisme melalui konstruksi DNA rekombinan. DNA genom mengandung ribuan gen berbeda yang dikodekan untuk protein.

Ketika DNA diekstrak, itu mencakup semua gen yang mungkin bisa ditimbulkannya. Teknik kloning gen telah memungkinkan pendeteksian gen spesifik dari total DNA. Oleh karena itu kloning gen berfungsi sebagai alat penting dalam biologi molekular.

Kloning gen adalah suatu terobosan baru untuk mendapatkan sebuah gen yangsangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia. Kloning gen meliputi serangkaian proses isolasi fragmen DNA spesifik dari genom suatu organisme, penentuan sekuan DNA, pembentukan molekul DNA rekombinan, dan ekspresi gen target dalam sel inang.Klon gen atau molekular, artinya sekelompok salinan gen yang bersifat identik yang direplikasikan dari satu gen ke gen yang lain.

Penentuan sekuen DNA bertujuan untuk memastikan fragmen DNA yang kita isolasi adalah gen target sesuai dengan kehendak kita. Gen target yang kita peroleh selanjutnya kita klon dalam sebuah vektor (plasmid, phage atau cosmid) melalui teknologi DNA rekombinan yang selanjutnya membentuk molekul DNA rekombinan.

DNA rekombinan yang dihasilkan kemudian ditransformasi ke dalam sel inang (biasanya sel bakteri, misalnya strain E. coli) untuk diproduksi lebih banyak. Gen-Gen target yang ada di dalam sel inang jika diekspresikan akan mengahasilkan produk gen yang kita inginkan.