Macam Macam Jaringan Epitel Dan Fungsinya

Yang dimaksud dengan jaringan epitel adalah salah satu jaringan yang menutupi permukaan tubuh dan menyusun bagian luar organ.

5 fungsi jaringan epitel adalah

  1. Sekresi hormon dalam sistem pembuluh darah. pengeluaran keringat, enzim, lendir dan produk lainnya yang dihasilkan melalui kelenjar epitel
  2. Mendeteksi sensasi yang dirasakan kulit
  3. Melindungi  jaringan dibawahnya dari radiasi, pengeringan, racun dan sebagainya
  4. Proses penyerapan zat dalam lapisan saluran pencernaan
  5. Membantu regulasi dan ekskresi zat kimia pada jaringan dibawahnya dan tubuh

8 jenis jaringan epitel dalam tubuh manusia adalah:

  1. Jaringan epitel pipih selapis (simple squamous epithelium), terdiri dari satu lapis sel yang pipih dan tipis. Fungsi jaringan epitel ini adalah untuk memudahkan difusi atau masuknya zat atau senyawa ke dalam organ.Jaringan epitel pipih selapis dapat ditemukan di pembuluh darah, kantung udara pada paru-paru, dan organ ginjal.
  2. Jaringan epitel pipih berlapis (stratified squamous epithelium), memiliki lebih dari satu lapis sel yang berbentuk pipih. Fungsi jaringan epitel ini adalah sebagai pelindung dari kerusakan. Jaringan epitel pipih berlapis yang keras dan kuat mengandung keratin dan dapat ditemukan pada kulit. Sedangkan jaringan epitel pipih berlapis tanpa keratin dapat ditemukan pada dubur, saluran kandung kemih, bagian dalam mulut, kerongkongan, dan vagina.
  3. Jaringan epitel silindris selapis (simple columnar epithelium), adalah memiliki satu lapis sel yang berbentuk silindris. Fungsi jaringan epitel ini adalah untuk membantu proses penyerapan nutrisi dan produksi senyawa kimia dengan silia dan lendir atau dahak. Jaringan epitel silindris selapis dapat ditemukan di kelenjar tubuh, rahim atau uterus, organ pencernaan, dan pada beberapa daerah di organ paru.
  4. Jaringan epitel silindris berlapis (stratified columnar epithelium), terdiri lebih dari satu lapis sel yang berbentuk silindris. Fungsi jaringan epitel silindris berlapis adalah membantu melindungi dan memproduksi senyawa kimia. Jaringan epitel silindris berlapis jarang ditemukan dalam tubuh dan hanya ada di kelenjar tubuh tertentu dan pada saluran kandung kemih atau uretra pria.
  5. Jaringan epitel silindris pseudostratifikasi (pseudostratified columnar epithelium), hanya memiliki satu lapis sel dan memiliki panjang silindris yang berbeda-beda. Fungsi jaringan epitel yang satu ini adalah untuk membantu pergerakan lendir atau dahak dan produksi senyawa kimia dalam tubuh. Jaringan epitel silindris pseudostratifikasi terdapat pada saluran sperma, kelenjar tubuh, dan saluran pernapasan bagian atas.
  6. Jaringan epitel kubus selapis (simple cuboidal epithelium), terdiri dari satu lapis sel yang berbentuk seperti kubus. Fungsi jaringan epitel kubus selapis adalah untuk penyerapan nutrisi dan produksi senyawa kimia dalam tubuh. Jaringan epitel ini dapat ditemukan di berbagai kelenjar dalam tubuh, tempat produksi sel telur atau ovarium, dan organ ginjal.
  7. Jaringan epitel kubus berlapis (stratified cuboidal epithelium), memiliki lebih dari satu lapis sel yang berbentuk kubus. Fungsi jaringan epitel ini adalah untuk melindungi kelenjar dalam tubuh. Jaringan epitel kubus berlapis terdapat pada kelenjar keringat, kelenjar air liur, dan kelenjar payudara.
  8. Jaringan epitel transisional (transitional epithelium), terdiri lebih dari satu lapis sel dan hampir serupa dengan jaringan epitel pipih berlapis dan jaringan epitel kubus berlapis. Jaringan epitel ini dapat merenggang dan berfungsi untuk memberikan ruang untuk penyimpanan urine. Sesuai dengan perannya, jaringan epitel transisional dapat ditemukan sistem saluran kandung kemih, terutama pada bagian kandung kemih.

Apakah sifat jaringan epitel?

  • Jaringan epitel terdiri dari sel dengan batas yang jelas dan terletak rapat satu sama lain. Oleh karena itu, jaringan epitel dapat dikatakan sebagai jaringan yang seluler.
  • Tidak ada pembuluh darah dalam jaringan kapiler, zat makanan diberikan ke jaringan secara difusi dari pembuluh darah kapiler yang terletak di jaringan di bawahnya.

Klasifikasi Jaringan Epitel

3 ciri jaringan epitel adalah:

  1. Jaringan epitel tidak mengandung pembuluh darah, tapi memiliki ujung syaraf. Oleh karena itu, sel-sel dalam jaringan epitel memperoleh makanan dari kapiler darah yang terdapat pada membran dasar jaringan ikat.
  2. Jaringan epitel mempunyai kemampuan regenerasi yang cukup tinggi karena selama sel eputelium mendapat pasokan nutrien, maka pembelahan sel dapat berlangsung cepat untuk menggantikan sel sel yang rusak.
  3. Jaringan epitel tidak memiliki ruang antarsel karena sel-sel dalam jaringan tersusun rapat.

Letak jaringan epitel

Jaringan epitel pada tubuh biasanya terletak pada kulit, saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, serta saluran reproduksi.

Struktur jaringan pelindung tubuh ini cenderung tebal karena tersusun atas beberapa lapisan sel keratin tebal guna memberikan kekuatan dan ketahanan mekanisme. Ambil contoh, kulit sebagai organ tubuh yang paling luas. Kulit ternyata dilapisi oleh sel epitel dengan kandungan keratin tebal guna mencegah tubuh agar tidak kehilangan banyak air maupun zat penting lainnya.

Begitu pula dengan kerongkongan (esofagus) yang merupakan bagian dari saluran pencernaan. Selama menjalankan tugasnya, kerongkongan selalu terkena atau bersentuhan langsung dengan beragam makanan dan minuman yang memiliki tekstur, komposisi, serta tingkat pH yang berbeda-beda.

Maka itu, kerongkongan juga dilindungi oleh jaringan epitel. Hanya saja, struktur jaringan epitel pada bagian dalam tubuh cenderung lebih tipis atau tidak setebal jaringan yang ada di kulit. Bukan hanya pada kerongkongan saja, tapi juga epitel tipis juga melindungi lambung, usus kecil, usus besar, tuba falopii pada saluran reproduksi, serta bronkiolus pada paru-paru.

Beberapa bagian tersebut dilindungi oleh epitel tipis yang diselimuti silia atau mikrovili untuk mempermudah tugasnya. Sementara untuk bagian kandung kemih, ureter, dan uretra dilindungi oleh epitel transisional yang bertujuan untuk memudahkan proses peregangan dan perluasan kapasitas organ tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *