Bagaimanakah Cara Memuliakan Tamu Sesuai Ajaran Islam?

Umat islam hendaklah memuliakan tamu, karena hal ini sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka muliakanlah tamu.”

Rasulullah saw juga bersabda, “Jangan menyusahkan diri untuk seorang tamu, nanti kamu menghina dia. Barang siapa yang menghina tamunya, berarti dia menghina Allah swt. dan barang siapa yang menghina Allah, maka dia akan dihinakan Allah.”

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada kebajikan bagi orang yang tidak memuliakan tamu.”

Diriwayatkan bahwa suatu waktu Nabi Muhammad berlalu di depan seorang laki-laki yang banyak memiliki unta dan sapi, tetapi ia tidak menjamu beliau. Kemudian beliau lewat di tempat seorang wanita yang hanya mempunyai beberapa ekor kambing, lalu disembelihnya seekor kambing untuk menjamu beliau.

Berkenaan dengan hal itu, Nabi Muhammad bersabda, “Lihatlah kedua orang tadi, sesungguhnya perbuatan yang baik itu berada di tangan Allah, Allah akan menganugerhkan kepada orang yang dikehendaki-Nya.”

Pada suatu hari ada seorang tamu berkunjung kepada Rasulullah saw, kemudian beliau berkata kepada bekas budaknya, “Katakanlah kepada Yahudi itu (yaitu tetangga beliau) agar meminjami aku sesuatu karena ada tamu datang kepadaku, katakanlah kepadanya bahwa aku akan membayarnya bulan Rajab.”

Kemudian kata si orang Yahudi itu, “Demi Allah, demi Allah, aku tidak akan memberikan pinjaman kepadanya, kalau dia tidak memberikan jaminan kepadaku.”

Setelah hal itu disampaikan kepada Nabi, beliau menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya aku orang yang terpercaya di langit dan terpercaya di bumi, seandainya aku diberi pinjaman, niscaya aku akan membayarnya. Bahwa baju besiku ini akan dijadikan jaminan kepadanya.”

Diriwayatkan bahwa bila Nabi Ibrahim hendak makan, maka beliau keluar rumah, dan berjalan satu atau dua mil terlebih dahulu untuk mencari tamu yang akan menemaninya. Beginilah kebiasaan Nabi Ibrahim dalam memuliakan tamu, sehingga beliau memiliki julukan Abu Dhaifan (bapaknya tamu).

Oleh karena itu, sampai sekarang selalu banyak tamu yang mengunjungi dan menziarahi makamnya Nabi Ibrahim.

Pada suatu waktu Rasulullah pernah ditanya, “Apakah itu iman?” beliau menjawab, “Tidak merasa enggan dalam menyediakan jamuan untuk tamu dan mengucapkan salam.”

Nabi Muhammad juga pernah ditanya mengenai haji mabrur, maka beliau menjawab, “Memberikan makanan (kepada tamu) dan berkata baik.”

Anas bin Malik berkata, “Setiap rumah yang tidak pernah dimasuki tamu maka malaikat tidak akan pernah masuk ke rumahnya.”

Artikel terkait lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *