Al Miqdad bin Amru bin Tsa’labah

Beliau dikenal dengan banyak nama. Awalnya, ia dijadikan anak angkat oleh Al Aswad bin Abdu Yaghuts, sehingga ia sering dipanggil dengan nama Al Miqdad bin al Aswad. Ia kemudian dipanggil dengan nama Al Miqdad bin Amru ketika turun ayat ke-5 surat Al Ahzab:

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu[*]. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[*] Maula-maula ialah seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan atau seorang yang telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Huzaifah, dipanggil maula Huzaifah.

Sahabat Rasulullah ini juga ikut serta dalam perang Badar, perang Uhud, dan seluruh peperangan lain yang pernah diikuti Rasulullah.

Menurut Al Qasim bin Abdurrahman bahwa yang pertama kali menunggang kuda untuk berperang adalah Miqdad. Bahkan Rasulullah pun memujinya, beliau berkata, “Tidak ada seorang pun diantara kita yang menunggang kuda pada perang Uhud, kecuali Al Miqdad.”

Thoriq bin Syihab meriwayatkan bahwa Abdullah pernah berkata, “Aku menyaksikan Al Miqdad dalam suatu pertempuran. Sungguh, aku lebih suka menjadi teman baginya yang sebenarnya daripada sekedar julukan. Ia mendatangi Rasuklullah ketika beliau sedang berdoa agar pasukan musyrikin kalah. Lalu Al Miqdad berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepadamu sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa. Sementara itu Allah juga berfirman, ‘… pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya, Kami hanya duduk menaati di sini saja.’ Tetapi, kami akan berperang di samping kiri dan kananmu serta di muka dan belakangmu.’ Lalu aku lihat muka beliau berseri karena ucapan Al Miqdad tersebut.”

Menurut Abdurrahman bin Jabir bin Nafir, bapaknya berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Al Miqdad. Kemudian, seorang lelaki datang dan berkata, ‘Beruntunglah kedua mata (Al Miqdad) ini yang telah melihat Rasulullah. Demi Allah, sungguh kami akan senang bila melihat apa yang kau lihat dan menyaksikan apa yang kau saksikan.’ Ternyata, perkataan tersebut membuatnya marah. Kami heran, sebab tidak pernah ia berkata-kata kecuali dalam kebaikan. Kemudian, ia memandang lelaki tersebut dan berkata, ‘Apa yang membuat orang ini mengkhayal sesuatu yang tidak Allah takdirkan baginya? Ia tidak mengerti bagaimana keadaan dirinya seandainya menyaksikan (apa yang saya saksikan). Sungguh, suatu kaum telah datang dan menyaksikan Rasulullah, tetapi Allah membanamkan mereka ke Jahanam karena tidak mau membenarkan dan beriman kepadanya. Tidaklah engkau memuji Allah yang telah mengeluarkanmu dalam kondisi tidak mengerti apa-apa kecuali Rabbmu, lalu kalian membenrkan apa yang dibawa oleh Nabi kalian?”

Artikel terkait lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *