Teknik bermain peran (acting) merupakan unsur yang penting dalam bermain peran.

Teknik bermain peran antara lain:

Memperkenalkan masalah dan tema yang akan diperankan. Pembimbing mengemukakan masalah yang akan dimainkan, membuka tanya jawab untuk memperjelas masalah dan tujuan kegiatan. Penjelasan diarahkan kepada penjelasan masalah dan bukan kepada bagaimana para pemain memainkan perannya. Perkenalan ini dilanjutkan dengan pemilihan pemain untuk memerankan peran dari skrip skenario yang sudah dibuat.

Masing-masing pemain memainkan perannya sesuai dengan penokohan yang sudah ditentukan dalam skenario role playing yang setiap sesinya berbeda tema. Dalam permainan tersebut diharapkan pemain dapat memperagakan konflik-konflik yang terjadi, mengekspresikan perasaan, menyatakan sikap, dan sebagainya.

Pemeran dan penilai atau penonton mendiskusikan hasil permainan setelah selesai penampilan yang dilakukan bersama-sama dengan konselor dengan acuan jurnal kegiatan. Diskusi ini merupakan suatu proses kelompok untuk mencari konsep-konsep pemecahan masalah yang diperankan dari cerita yang telah di buat dan di perankan serta masalah-masalah yang ditemukan dalam permainan peran tersebut. Diskusi lebih banyak diarahkan kepada masalah yang diperankan, sikap yang melatarbelakanginya, pengaruh ucapan dan ekspresi pemain, serta kemungkinan pemecahan-pemecahan masalah lainnya.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Bermain Peran

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain peran adalah lafal, intonasi, ekspresi, penghayatan, dan gerak tubuh yang sesuai dengan watak tokoh yang diperankan.

Teknik bermain drama

Memahami Teknik Bermain Drama

Teknik bermain (akting) merupakan unsur penting dalam seni peran. Berikut ini hal-hal yang sangat mendasar berkaitan dengan teknik bermain drama.

Teknik Muncul

Teknik muncul adalah cara seorang pemain tampil pertama kali ke pentas yaitu saat masuk ke panggung telah ada tokoh lain, atau ia masuk bersama tokoh lain. Tentu, setelah muncul, pemain harus menyesuaikan diri dengan suasana perasaan adegan yang sudah tercipta di atas pentas. Kehadiran seorang tokoh harus mendukung perkembangan alur, suasana, dan perwatakan yang sudah tercipta atau dibangun

Teknik Memberi Isi

Kalimat ”Engkau harus pergi!” mempunyai banyak nuansa. Ucapan tulus mengungkap keikhlasan atau simpati, sedangkan ucapan kejengkelan atau kemarahan tentu bernada lain. Nuansa tercipta melalui tekanan ucapan yang telah dijelaskan di muka (tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo).

Teknik Pengembangan

Teknik pengembangan berkait dengan daya kreativitas pemeran, sutradara, dan bagian estetis. Dengan pengembangan, sebuah naskah akan menjadi tontonan memikat. Bagi pemain, pengembangan dapat ditempuh dengan beberapa cara, diantaranya:

  1. Pengucapan
  2. Gesture(1) Menaikkan posisi tubuh
    Menaikkan posisi tubuh berarti ada gerakan baik dari menunduk-menengadah, tangan terkulai menjadi teracung, berbaring-duduk-berdiri, atau berdiri di lantai-kursi-meja.
    (2) Berpaling
    Berpaling mempunyai arti yang spesifik dalam pengembangan dialog: tubuh atau kepala. Perhatikan dialog berikut ini dan tentukan pada bagian mana kita harus berpaling.
    ”Aku iri denganmu. Kadang-kadang aku berpikir untuk keluar saja, lalu buka bengkel juga. Tidak ada hierarki. Tidak ada rapat-rapat panjang.”
    (3) Berpindah tempat
    Berpindah tempat dapat terjadi dari kiri-kanan, depan-belakang, bawah-atas. Tentu, harus ada alasan yang kuat mengapa harus berpindah
    (4) Gerakan
    Gerakan anggota tubuh: melambai, ,mengembangkan jari-jari, mengepal, menghentakkan kaki, atau gerakan lain seturut dengan luapan emosi. Ada tiga kategori melakukan gerakan: a) gerakan dilakukan bersamaan dengan pengucapan kata, b) gerakan dilakukan sebelum kata diucapkan, c) gerakan dilakukan sesudah kata diucapkan.
    (5) Mimik
    Perubahan wajah atau mimik mencerminkan perkembangan emosi. Tanpa penghayatan dan penjiwaan tidak mungkinlah timbul dorongan dari dalam atau perasaan-perasaan. Justru perasaan inilah yang mendasari raut wajah.

Menciptakan Peran

Tentu saja untuk menciptakan peran, pemain harus sadar bahwa ia sedang ”memerankan sebagai……..” Artinya, seluruh sifat, watak, emosi, pemikiran yang dihadirkan adalah sifat, watak, emosi, dan pemikiran ”tokoh yang diperankan”. Dengan demikian, seorang pemain harus berkemampuan menciptakan peran dalam sebuah pertunjukan.

Hal-hal berikut dapat membantu untuk menciptakan peran:

  1. kumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh pemeran dalam pementasan
  2. kumpulkan sifat-sifat tokoh, termasuk sifat yang paling menonjol
  3. carilah ucapan atau dialog tokoh yang memperkuat karakternya
  4. ciptakan gerakan mimik atau gesture yang mampu mengekspresikan watak tokoh
  5. ciptakan intonasi yang sesuai dengan karakter tokoh
  6. rancanglah garis permainan tokoh untuk mlihat perubahan dan perkembangan karakter tokoh
  7. ciptakan blocking dan internalisasi dalam diri sehingga yang berperilaku adalah tokoh yang diperankan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *