Seni Rupa Zaman Kolonial dan Kemerdekaan

Pada artikel kali ini kita akan mencoba membahas perkembangan seni rupa pada zaman kolonial. Pada fase ini seni rupa akan kita golongkan kedalam beberapa zaman yaitu; zaman orang-orang eropa dan masa kemerdekaan. Berikut ulasannya.

Advertisement

Zaman Orang-orang Eropa

Bangsa-bangsa Barat yang mulai merambah nusantara dari Portugis hingga yang terakhir Jepang, telah meletakkan dasar pemikiran keseniannya dalam perangai seni dan kesenian hampir di segala sektor.

Misalnya, Portugis yang hanya singgah dalam beberapa tahun telah mampu dan sukses menularkan tradisi musik keroncong hingga sekarang, meskipun dalam awal penyusupannya hanya difokuskan di wilayah Indonesia bagian timur.

Kemudian bangsa Belanda yang mulai menunggangi nusantara juga amat getol dengan lukisan, puisi, menggambar dan berbagai cenderamata yang diberikan untuk raja-raja yang mau tunduk kepada kebijakan pemerintahan kolonial.

Zaman Kemerdekaan

Indonesia yang telah merdeka mempunyai hak penuh dalam mengelola keseniannya. Berbagai aliran seni telah lahir dan berkembang pada masa ini. Pelukis-peIukis kenamaan dari Jawa dan Bali telah hadir dan memberi warna segar dalam perkembangan seni di tanah air. Basuki Abdullah dan Afandi adalah nama-nama orang besar dalam perkembangan seni di nusantara.

Seni-seni lain pun tak kalah hebatnya mulai merambah dalam berbagai sektor. Pertunjukan drama, opera hingga musik (dangdut) telah menjadi komoditas utama dalam menyerap masa yang begitu getolnya mengonsumsi aliran musik ini.

Advertisement

Basoeki Abdullah

Namun tentu saja perkembangan musik ini tidak berhenti hingga ini saja. Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan seni di nusantara tetap akan hadir seiring dengan semakin kompleksnya masyarakat yang begitu butuhnya akan keberadaan seni.

gedung ordinaris raad van justitie het kasteel Batavia

Semakin tinggi tingkat pemikiran mereka maka semakin maju pula keinginan mereka untuk mewujudkan seni yang mandiri, kompleks dan penuh inovasi. Pada zaman ini seni rupa berkembang amat pesat, dari mulai arsitektur bangunan, seni lukis, sampai seni terapan.

Dari periodisasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa menurut tujuannya, seni rupa terdiri atas seni rupa murni dan seni rupa terapan.

a. Seni rupa murni adalah jenis seni yang diciptakan tanpa adanya hubungan atau kaitan dengan kegunaan, melainkan hanya untuk dinikmati. Disebut karya seni murni karena fungsinya benar-benar hanya untuk dinikmati nilai atau mutu seninya.

b. Seni rupa terapan adalah seni rupa yang hasilnya dirancang untuk memenuhi tujuan fungsional, yakni memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis manusia. Dengan kata lain, seni rupa terapan adalah hasil karya seni yang diterapkan atau dipakai dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Seni rupa terapan nusantara lahir di dalam masyarakat nusantara yang masih kental dengan nilai-niIai tradisi yang adiluhung, dimana masyarakat menggunakan berbagai bahan yang ada disekitar mereka untuk diciptakan menjadi karya seni rupa terapan ini. Masyarakat umum mengenal hasil karya mereka sebagal hasil karya tradisional.

Karya seni rupa terapan, terdiri atas karya seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi.

a. Karya seni rupa dua dimensi meliputi;

1. Seni kriya (kerajinan tangan) dua dimensi yang berupa anyam-anyam dari bambu, gambar hias atau ornamen yang terdapat pada kayu, tikar dari daun pandan, permadani, kain songket, relief, wayang kulit.

2. Seni batik atau desain.

b. Karya seni rupa tiga dimensi, antara lain:

1. cenderamata,

2. furniture,

3. perabot dapur, dan

4. seni keramik tiga dimensi.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published.