pH Larutan Garam

Dari uraian artikel sebelumnya, berkesimpulan bahwa beberapa garam yang terlarut dalam pelarut air dapat memberikan suasana (pH) larutannya bergantung pada tipe garam yang bersangkutan.

Advertisement

Berapa besarnya pH larutan garam, ditentukan oleh seberapa jauh pergeseran kesetimbangan ionisasi air yang melibatkan perubahan [H+] atau [OH] dalam larutan.

Tabel berikut merupakan hasil pengamatan pH larutan beberapa garam dan dapat dicobakan ulang dibuktikan di laboratorium.

Tabel. Suasana (pH) Larutan Beberapa Garam 0,1 M

Larutan Garam Perubahan Lakmus Suasana Larutan pH Larutan
Tipe Garam Nama Garam Rumus Kimia Lakmus merah Lakmus biru
1 (bk-ak) Atrium klorida NaCl Tetap Tetap Netral 7
Kalium sulfat K2SO4 Tetap Tetap Netral 7
2 (bk-al) Natrium asetat CH3COONa Biru Tetap Basa 9
Natrium karbonat Na2CO3 Biru Tetap Basa 9,5
3 (bl-al) Amonium klorida NH4Cl Tetap Merah Asam 5
Seng sulfat ZnSO4 Tetap Merah Asam 4,5
4 (bl-al) Amonium asetat CH3COONH4 Tetap Tetap Netral 7
Amonium sianida NH4CN Biru Tetap Basa 9

Keterangan: a = asam; b = basa; k = kuat; I = lemah. .

Dari data pengamatan memperlihatkan bahwa setiap tipe garam terlarut memberikan suasana atau pH larutan tertentu. Adakah hubungan antara jumlah (konsentrasi) dan jenis dari garam terlarut dengan pH larutannya? Hubungan ini akan ditinjau pada uraian artikel berikut.

Advertisement

pH Larutan Garam berasal dari Bk-Ak

Garam yang berasal dari basa-kuat dan asam-kuat (garam bk-ak) tidak terhidolisis di dalam air sehingga tidak menggeser kesetimbangan ionisasi air; atau dengan kata lain tidak mengubah [H+] dan [OH] dalam larutan.

Dalam air pada 25°C berlaku: [H+] = [OH] = 10-7; atau pH = pOH = 7

Jadi, larutan garam yang berasal dari basa-kuat dan asam kuat (garam bk-ak), pH-nya sama dengan pH air yakni 7.

pH Larutan Garam berasal dari Bk-Al

CH3000Na, KCN, Na2CO3, dst. adalah garam berasal dari basa-kuat dan asam-Iemah (garam bk-al) hanya terhidrolisis-sebagian, yakni dengan bereaksinya anion garam dengan ion H+ dari air membentuk asam lemah. Akibatnya [H+] menurun dan [OH] meningkat; sehingga suasana larutan menjadi bersifat basa (pH > 7).

Untuk memperkirakan pH larutan garam bk-al dapat diketahui dari hubungan antara konsentrasi garam terlarut dan [OH]. Hubungan ini dapat diturunkan sebagai berikut. Perhatikan kembali tahap reaksi pada pelarutan garam yang berasal dari basa kuat dan asam lemah (garam bk-al).

Garam bk-al

Persamaan tetapan kesetimbangan hidrolisis ini adalah,

persamaan tetapan kesetimbangan

Ion CH2COO dianggap hanya berasal dari garam CH3COONa (terionisasi sempurna), berlaku; [CH3COO] = [CH3COONa]; dan berlaku: [CH3COOH] = [OH] (karena koefisien sama; persamaan c). Hubungan di atas dapat dinyatakan sebagai;

CH3COO

Secara umum berlaku hubungan;

rumus garam

Keterangan: KW = tetapan ionisasi air; Ka = tetapan ionisasi air; dan garam merupakan garam bk-al.

Melalui persamaan diatas dapat diperkirakan nilai [OH] jika konsentrasi garam bk-al yang terlarut dan tetapan lainnya (Kw dan Ka) di ketahui. Selanjutnya dari nilai [OH] dihitung nilai pOH; dan terakhir, harga pH larutan dapat ditetapkan melalui hubungan pH + pOH = 14.

pH Larutan Garam berasal dari Bl-Ak

Telah dibahas pada tulisan sebelumnya bahwa garam bl-ak (garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat) seperti NH4CI, CuSO4, Pb(NO3)2, dst. akan terhidrolisis-sebagian dengan menghasilkan larutan garam yang bersifat asam (pH < 7). Dalam hal ini kationnya bereaksi dengan ion OH dan pelarut air membentuk basa-Iemahnya sehingga [OH] menurun, sebaliknya [H+] meningkat. Dengan demikian [H+] dalam larutan garam akan bergantung pada [garam], nilai Kb, dan nilai Kw.

Reaksi hidrolisis garam bl-ak untuk NH4CI (persamaan reaksi lengkap lihat kembali tulisan sebelumnya) adalah,

NH4 + H2O ↔ NH4OH + H+

Analog dengan garam bk-al, maka terhadap garam bl-ak berlaku:

garam bl-ak

Secara umum dapat dinyatakan sebagai:

Rumus bl-ak

Keterangan: Kw = tetapan ionisasi air; Ka = tetapan ionisasi air; dan garam merupakan garam bk-al. Jadi melalui persamaan 2.7d, pH larutan garam bl-ak dapat diperkirakan jika konsentrasi garam, nilai tetapan ionisasi basa (Kb), dan nilai tetapan ionisasi air (Kw) diketahui.

pH Larutan Garam berasal dari Bl-Al

Untuk garam yang berasal dari basa-lemah dan basa-lemah (garam bl-al), misalnya CH3COONH4 akan terhidrolisis-total menurut persamaan reaksi sebagai berikut:

CH3COONH4 + H2O ↔ CH3COOH + NH4OH. atau:

CH3COO + NH4+ + H2O ↔ CH3COOH + NH4OH

garam bl-al

Penggabungan persamaan 2.8a dan 28b dan dengan menggunakan persamaan reaksi hidrolisis garam, menghasilkan persamaan:

reaksi hidrolisis garam

Berdasarkan persamaan tetapan kesetimbangan ionisasi dari asam lemah dan basa lemah, persamaan di atas dapat diubah sebagai berikut.

asam lemah dan basa lemah

Secara umum, persamaan di atas dapat dinyatakan dalam bentuk:

rumus bl-al

Keterangan:

Ka = tetapan ionisasi asam lemah; Kb = tetapan ionisasi basa lemah; Kw = tetapan ionisasi air (= 10-14).

Dengan demikian, melalui persamaan 28e, atau 2.8d, ph larutan garam bl-al (garam berasal dari basa-lemah dan asam-lemah) dapat diperkirakan. Hanya, dari kedua persamaan tersebut memperlihatkan bahwa pH atau pOH larutan garam bl-al tidak bergantung pada konsentrasi garam tetapi oleh nilai terapan ionisasi asam dan tetapan ionisasi basa garamnya.

Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor yang menentukan nilai lingkungan, terutama nilai air dan nilai tanah. Dalam tubuh kita, pH cairan tubuh diatur oleh sistem bufer. Pembuangan atau penambahan garam-garam ke lingkungan kehidupan seperti pupuk atau berupa limbah akan berdampak pada kehidupan itu sendiri.

Pengetahuan tentang hidrolisis garam juga dapat membantu kita bagaimana melarutkan garam agar tidak terjadi pengendapan dan larutan tetap jernih seperti yang diinginkan. Di samping itu, pengenalan suasana larutan (karena terbentuknya garam) dapat membantu pada analisis titrimetri (titrasi asam—basa) misalnya dapat memudahkan untuk perkiraan pH titik kesetaraan reaksi (titik akhir titrasi). Dari hasil perkiraan (hitung) pH larutan dapat dipilih indikator yang tepat untuk reaksi tersebut. Ketetapan pemilihan indikator sangat menentukan ketepatan penentuan titik akhir titrasi sebagai titik kesetaraan reaksi.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published.