Menjelaskan Unsur-Unsur yang Terdapat Dalam Tulisan Features dengan singkat

Sebagai sebuah cerita, feature dibangun dengan berpijak pada beberapa unsure pokok. Dalam cerita pendek, unsure-unsur pokok itu meliputi: karakter, mood atau suasana, tema, gaya, sudut pandang (point of view), dan setting. Menurut kritikus sastra Jakob Sumardjo, seorang pengarang terikat pada unsure-unsur itu meskipun ia bisa mencari variasi tersendiri.

Seorang penulis bisa menekankan pada karakter atau tema, tapi tetap ia tidak bisa melepaskan diri dari unsur-unsur yang lain. Berikut penjelasan unsur feature yang diadaptasi dari cerpen menurut Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature (2014:183-189).

 

  1. Tema

Tema adalah ide sebuah cerita. Dalam feature, ide sering muncul dari berbagai peristiwa berita yang sifatnya aktual dan faktual. Ide tidak diperoleh lewat imajinasi, tetapi dipetik dari informasi, hasil penelusuran referensi, kerja observasi, pilihan visitasi, dan proses konfirmasi ke suatu atau berbagai pihak yang terkait.

  1. Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view) pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Cerita feature, dengan merujuk pada sudut pandang, umunya lebih menyukai sudut pandang orang ketiga. Dengan sudut pandang orang ketiga, wartawan sebagai penulis feature, tahu tantang segalanya.Ia bisa menceritakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkan.

  1. Plot

Plot bukan jalan cerita.Dengan mengikuti jalan cerita kita dapat menemukan plotnya.Sesuatu yang menggerakan cerita adalah plot, yaitu segi rohaniah dari kejadian. Plot sering dikupas menjadi lima elemen: pengenalan, timbulnya konflik, konflik memuncak, klimaks, dan pemecahan soal (Sumardjo, 2004:15-16). Feature yang baik harus memiliki plot.

Feature tidak mewajibkan pemunculan dan penajaman konflik dalam rangkaian adegan cerita. Feature mengangkat suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan yang sifatnya faktual objektif. Tidak semua aspek kehidupan yang diangkat dalam cerita feature mangandung unsur konflik. Jadi, hanya pada peristiwa tertentu saja unsur konflik dan klimaks itu diperlukan atau dihadirkan.

  1. Karakter

Suatu cerita feature disebut baik, apabila karakter tokohnya dilukiskan dengan jelas, tegas, ringkas, dan spesifik. Setiap punya karakter atau kepribadian masing-masing, yang sekaligus membedakan dirinya dengan orang lain. Tokohlah yang menentukan segala-galanya dalam cerita.Pengarang tidak perlu pegang kemudi.Ia hanya membiarkan saja tokoh-tokoh cerita yang dipilihnya itu hidup dan bergerak sendiri menurut wataknya masing-masing, dan menciptakan situasi, membuat masalah, menimbulkan ketegangan, mencetuskan klimaks, dan akhirnya menutup cerita (Lajos Egri dalam Dipenogoro, 2003:51).

  1. Gaya

Gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya sebagai sebuah cerpen. Sebagai cerita, feature ditulis oleh wartawan atau reporter dengan gaya masing-masing. Ada wartawan yang sangat mengagumi gaya Putu Wijaya, ada yang sangat menyukai gaya Ahmad Tohari, dll. Berbeda dengan berita yang gaya penulisannya sama karena mengacu pada teknik melaporkan, pola piramida terbalik, dan rumus 5W1H.

  1. Suasana

Suasana dalam cerita pendek membantu menegaskan maksud.Di samping itu suasana juga merupakan daya pesona sebuah cerita. Sama halnya dengan feature, tidak ada cerita feature tanpa suasana. Karena suasana itulah yang bisa menghidupkan cerita feature sehingga memikat pembaca, enak dibaca, berjiwa, dan sanggup melantunkan pesan-pesan moral tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Menulis feature adalah melukis suasana peristiwa. Dari suasan itulah kemudian timbul imajinasi dan fantasi pembaca, pendengar atau pemirsa.

  1. Lokasi Peristiwa

Setting  tidak hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan terjadinya, tetapi berkaitan juga dengan karakter, tema, suasana cerita. Feature juga harus mengandung unsur ini. Dalam feature, unsur tempat/setting, tidak sekadar sebagai keterangan pelengkap sebagaimana dijumpai pada berita langsung. Dalam feature, setting justru memainkan peran yang amat menetukan jalannya cerita. Setting bencana alam seperti gempa dan gelombang tsunami di Aceh dan Sumut pada 26 Desember 2004, dengan korban tewas lebih dari 100 ribu jiwa, misalnya, memunculkan aroma tragedy kemanusiaan yang luar biasa.