Menjelaskan Teori Bulan dengan singkat

Dari mana asal-usul Bulan yang mengorbit Bumi kita? Ada empat teori mengenai asal-usul terbentuknya yaitu:

1. Teori co-Akresi

Pada sekitar tahun 1873 para ilmuwan telah beranggapan bahwa planet-planet terbentuk dari kondensasi awan gas panas. Awan gas panas secara bertahap terkontraksi kemudian mendingin. Dan karena ia berkontraksi, akan terbentuk cincin gas. Dan cincin gas ini pada akan akhirnya bersatu membentuk planet-planet.

Seorang astronom Prancis bernama Edouard Roche mengusulkan sebuah teori terbentuknya Bulan yang disebut Teori co-Akresi. Teori ini mengatakan bahwa pada dasarnya Bumi dan Bulan terbentuk pada saat yang sama dan dari bahan yang sama. Menurut Eduard Roche Bumi pada awalnya terbentuk sebagai sebuah bola gas yang kemudian mendingin dan berkontraksi, membentuk cincin gas di sekelilingnya. Cincin gas tersebut kemudian membentuk Bulan.

Namun teori ini memiliki kelemahan karena Bulan memiliki kandungan besi lebih rendah dibanding Bumi. Bumi memiliki inti yang tersusun dari besi sedangkan Bulan tidak, dengan kata lain Bulan tak lebih dari hanya sekedar sebuah batu. Jika dua benda terbentuk dari bahan yang sama, komposisi dasar mereka harus sama. Ini adalah lubang dalam teori Roche yang tidak bisa dijelaskan.

2. Teori Fisi

George Darwin putra ilmuwan terkenal Charles Darwin penulis “Origin of Species”, pada tahun 1878 mengumumkan Teori Fisi. Setelah melakukan analisa terhadap hubungan pasang surut air di Bumi, Darwin menyimpulkan bahwa bulan secara bertahap bergerak semakin menjauh. Pendapat ini tidak terbukti hingga 95 tahun kemudian. Ketika astronot mendarat di bulan, mereka menempatkan sebuah cermin kecil. Dari Bumi cermin tersebut disinari dengan laser dan laser memantul kembali sehingga dapat diukur jarak Bulan menjauh dari Bumi yang tepat adalah sejauh 3,8 cm per tahun.

Darwin mulai mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika kita membalikkan proses, seperti menjalankan film dengan arah mundur. Ketika waktu kita tarik mundur dan Bulan mengorbit lebih dekat, baik orbit Bulan maupun rotasi Bumi bisa lebih cepat dari sekarang. Darwin mengambil kesimpulan bahwa dahulu Bulan bersatu dengan Bumi. Sebagian kecil dari Bumi terpisah kemudian membentuk Bulan.

Teori Fisi diperdebatkan selama puluhan tahun, tetapi para ilmuwan akhirnya menyimpulkan bahwa gerakan relatif Bumi dan Bulan tidak bisa dihasilkan dari itu. Bumi akan berputar terlalu cepat untuk memperhitungkan tingkat rotasi yang sekarang.

3. Teori Capture

Pada tahun 1909 Thomas Jefferson Jackson See adalah kapten Angkatan Laut AS berbasis di Pulau Mare dekat San Francisco. Pekerjaan resminya adalah menjaga waktu standar untuk pantai barat AS. Sebagai seorang pemuda ia dilatih sebagai seorang astronom dan telah menghabiskan waktu menganalisis hipotesis baik co-Akresi maupun Fisi. Secara bertahap Thomas mengembangkan ide yang sama sekali berbeda. Ini kemudian disebut “Teori Capture”. Ia pada dasarnya berteori bahwa Bulan terbentuk di tempat berbeda dalam Tata Surya kemudian mengorbit Matahari seperti planet lainnya. Tapi kemudian bergerak terlalu dekat ke Bumi dan ditangkap oleh gravitasi Bumi.

Ia beranggapan ada sesuatu yang ia sebut media penolak di luar angkasa, yang saat ini kita ketahui media tersebut tidak ada. Thomas tidak pernah bisa menjelaskan seperti apa media penolak ini yang kemungkinan merupakan materi partikel kecil. Idenya adalah jika gravitasi Bumi menangkap Bulan maka Bulan haruslah datang dari jauh yang kemudian menabrak media penolak ini sehingga memperlambat Bulan dan kemudian secara bertahap bisa ditangkap oleh orbit bumi. Seperti pelompat bungee jumping dari jembatan, mereka turun, naik kembali namun tidak sejauh titik awal, turun kembali dan begitu seterusnya hinggal posisinya stabil.

Teori Capture Thomas bisa menjelaskan perbedaan kandungan besi antara Bumi dan Bulan. Jika Bulan terbentuk di tempat lain di Tata Surya maka komposisinya akan berbeda dengan komposisi Bumi. Kelemahan besar Teori Capture adalah tidak adanya penjelasan mengenai media penolak bagi obyek sebesar Bulan sehingga tidak menabrak Bumi

4. Teori Tabrakan Raksasa

Pada tahun 1974 sebuah hipotesis baru memulai debutnya di panggung dunia ilmiah. Para pendukungnya menyebutnya dengan nama Teori Tumbukan Raksasa. Ide dasarnya adalah bahwa sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu Bumi bertabrakan dengan obyek seukuran planet Mars saat ini. Ini adalah tabrakan yang sangat besar. Dan tabrakan ini begitu besar sampai menyebarkan materi hasil tumbukan ke orbit di sekitar Bumi. Materi-materi yang tersebar di sekitar orbit Bumi kemudian saling terikat oleh gravitasi, dan membentuk Bulan. Sebagian dari bagian Bumi mencair karena panas akibat tabrakan.

Tabrakan ini memicu rotasi Bumi dan telah secara substansial mengubah bentuk Bumi itu sendiri. Setelah beberapa jam untaian materi dari planet penabrak telah runtuh gravitasinya menjadi dua kelompok besar. Kelompok bagian dalam dari materi planet penabrak merupakan bagian inti penabrak itu, yang kemudian menabrak kembali Bumi untuk kemudian menyatu dengan Bumi. Sementara material bagian luar luar mendekati Bumi, dan dipengaruhi oleh gravitasi bumi menjadi untaian material yang panjang, yang kemudian membentuk piringan. Menyusul tabrakan besar, materi kemudian bersatu untuk membentuk Bulan dalam waktu kurang dari satu tahun,.

Tidak ada bekas yang ditinggalkan dari tabrakan ini di Bumi hari ini karena pada saat itu, planet kita baru berukuran sekitar 90% dari ukuran saat ini. 10% sisanya ditambah dari tumbukan-tumbukan lainnya yang jauh lebih kecil. Juga gravitasi Bumi sendiri mendapatkan efek pembentukan kembali. Dalam hari setelah tumbukan Bumi telah memiliki bentuk dasar bulat. Dan setiap tekanan yang disebabkan tumbukan telah diperhalus. Pencetus Teori Tumbukan Raksasa Bill Hartmann menyajikan hipotesisnya di sebuah konferensi ilmiah pada tahun 1974. Tapi hanya mendapat sedikit perhatian selama hampir satu dekade. Perhatian pada Bulan turun tajam pada akhir misi Apollo. Akhirnya pada konferensi Bulan di Hawaii pada tahun 1984, empat astronom paling terkemuka di dunia mencapai konsensus, bahwa Teori Tabrakan Besar adalah teori yang paling bisa diterima untuk saat ini.