Menjelaskan Tahapan Keluarga Sejahtera dengan singkat

Sebenarnya tidaklah mudah untuk menentukan tingkat kesejahteraan sebuah keluarga. Karena diakui atau tidak, kesejahteraan maupun kebahagiaan sebuah keluarga sulit diukur hanya dengan satu atau dua parameter. Misalnya hanya dengan kepemilikan harta benda atau kemampuan sosial ekonomi saja. Juga dengan parameter jumlah anak atua tercukupinya kebutuhan pokok. Salah satu alasannya yang mendasar adalah bahwa kesejahteraan itu relatif. Tidak sama standarnya antar satu kelurga dengan keluarga lainnya.

Sangat boleh jadi, keluarga yang secara ekonomis (menurut standar normal) termasuk kategori miskin, seluruh anggota keluarganya merasa sudah cukup sejahtera. Sementara pada keluarga lain yang secara ekonomi berlimpah, tidak jarang anggota-anggotanya merasa tidak sejahtera dan bahagia. Begitu juga dalam hal jumlah anak, sebuah keluarga sudah merasa cukup bahagia dengan dua anak, namun pada keluarga lainnya mungkin masih merasa kurang atau bahkan merasa berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan sangatlah relatif, bersifat pribadi dan penilaiannya selalu berhubungan dengan faktor emosi.

Tanpa bermaksud mengurangi esensi kesejahteraan itu sendiri, pemerintah khususnya BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang bekerja dengan institusi terkait, khususnya ISI (Ikatan Sosiologi Indonesia) telah mengembangkan indikator keluarga sejahtera. Sebenarnya indikator yang rumit dan banyak telah dihasilkannya. Namun karena masyarakat belum pernah mengetahui indikator yang rumit, karenanya diputuskan untuk menyederhanakan indikator tersebut dan mengambil bagian-bagian yang bersifat mutable saja. Artinya, indikator-indikator itu adalah variabel-variabel yang dapat dipengaruhi dan apabila berhasil dapat merangsang “tuntutan perubahan perilaku” dari keluarga yang bersangkutan