Menjelaskan Suku Bangsa dengan singkat

Tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat atau komunitas di desa, kota atau sebagai kelompok adat yang lain, dapat menampilkan sesuatu corak khas yang terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat yang bersangkutan.

Seorang warga dari suatu kebudayaan yang telah hidup dari hari ke hari di dalam lingkungan kebudayaannya biasa- nya tidak melihat corak khas itu. Sebaliknya terhadap kebudayaan tetangganya, ia dapat melihat corak khasnya, terutama mengenai unsur-unsur yang berbeda men- colok dengan kebudayaan sendiri.

 

Corak khas dari suatu kebudayaan biasa tampil karena kebudayaan itu menghasilkan suatu unsur yang kecil, berupa suatu unsur kebudayaan fisik yang khusus, atau diantara pranata- pranatanya (institution) ada suatu pola sosial yang khusus, atau dapat juga karena warga menganut suatu tema budaya yang khusus. Sebaliknya corak khas tadi juga dapat disebabkan adanya kom- pleks unsur-unsur yang lebih besar. Berdasarkan atas corak hidup tadi maka suatu kebudayaan dapat dibedakan dengan kebudayaan lain.

Pokok perhatian dari suatu deskripsi etnografi adalah kebudayaan dengan corak khas. Istilah etnografi untuk suatu kebudayaan dengan corak khas adalah “suku bangsa” atau dalam bahasa inggris ethnic group (kelompok etnik). Koentjaraningrat menganjurkan untuk memakai istilah “suku bangsa” karena istilah “kelompok etnik” dalam hal ini tidak cocok. Sifat kesatuan dari suatu suku bangsa bukan sifat kesatuan suatu kelompok, me- lainkan sifat kesatuan “golongan”.

Menurut Koentjaraningrat konsep suku bangsa adalah, “suatu golongan yang terkait oleh suatu kesadaran dan identitas akan “kesatuan kebudayaan”, sedang- kan kesadaran dan identitas seringkali dikuatkan juga oleh kesatuan bahasa”. Dalam kenyataan konsep “suku bangsa” lebih kompleks, ini disebabkan karena dalam kenyataan batas dari kesatuan manusia yang merasakan diri mengikat oleh keseragamaan kebudayaan itu dapat meluas atau menyempit, tergantung pada keadaan, (Koentjaraningrat, 1980).

Kepemimpinan

Dalam pendekatan sebuah masyarakat yang relatif kecil, dimana kesatuan-kesatuan sosial- nya juga kecil, yang hanya terdiri dari sepuluh hingga lima belas orang saja. Pandangan yang dikemukakan oleh Koentjara- ningrat (1984) bahwa mereka tidak memerlukan seorang pimpinan untuk menguasai dan mengatur mereka secara formal.

Kekuasaan dan kepemimpinan bagi mereka hanya dibutuhkan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada saat ada pekerjaan atau aktivitas bersama, yang memerlukan seorang kordi- nator untuk aktivitas tersebut, di luar adanya kegiatan itu maka mereka tidak memerlukan adanya kekuasaan yang didominasi oleh beberapa orang yang akan mengatur dan mengontrol mereka. Dan ini terjadi kebanyakan di dalam masyarakat tradisional yang tinggal di pedalaman suatu daerah.

Oleh karena itu, Koentjara- ningrat (1984) menyatakan bahwa dalam masyarakat yang kesatuan- kesatuan sosialnya sudah lebih besar dan kompleks, maka mereka juga membutuhkan adanya seorang pemimpin formal yang tidak hanya ada atau muncul pada saat-saat tertentu saja ketika ada sebuah aktivitas bersama, tetapi mereka membutuhkan seorang pemimpin yang hadir dan dapat memberikan arahan dan penga- turan dalam seluruh lini kehidupan.

Dan ini biasanya menurut Koen- tjaraningrat (1984) terjadi pada komunitas-komunitas yang hidup di daerah pegunungan di Papua dan Malanesia pada umumnya. Kesatuan-kesatuan yang sudah relatif besar dalam pandangan Koentjaraningrat disebut sebagai “masyarakat sedang”. Ini menun- jukkan bahwa dalam “masyarakat sedang” diperlukan suatu bentuk kepemimpinan yang mantap dan tetap, dan untuk memantapkan kepemimpinan itu diperlukan ke- kuasaan di samping kewibawaan.

Namun demikian, Koentjara- ningrat (1984) mengemukakan bahwa dalam “masyarakat sedang” ini untuk menjadi pemimpin dan mempertahankan kekuasaanya tidak hanya diperlukan kewiba- waan dan kepandaian atau keterampilan dalam bidang tertentu saja sebagaimana dalam masyarakat komunitas sosialnya yang masih kecil, akan tetapi kekuasaan bagi mereka harus dipertahankan melalui berbagai kemampuan dan sifat yang dimiliki.

  • Pemimpin Formal

Pemimpin formal yaitu orang yang oleh organisasi/lembaga tertentu ditunjuk sebagai pemim- pin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengan- nya, untuk mencapai sasaran organisasi.

  • Pemimpin Informal

Pemimpin informal yaitu orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, namun karena ia, memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempenga- ruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok atau masyarakat.

  • Kepemimpinan     Tradisional     di Papua

Kepemimpinan tradisional di Papua terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe kepemimpinan pria berwibawa, tipe kepemimpinan kepala suku, kepemimpinan raja, dan sistim kepemimpinan campuran (Mansoben, 1995).