Menjelaskan Solusi dari Hambatan yang Dialami Ekspor Indonesia dengan singkat

Solusi dari hambatan – hambatan yang di alami ekspor Indonesia antara lain:

  1. Penuntasan masalah Dweeling Time yang sekarang sedang terjadi. Presiden Jokowi sekarang ini sudah berupaya untuk mencari solusi mengenai lamanya bongkar muat di pelabuhan Indonesia yang selama ini sangat merugikan negara. Barang atau komoditi yang seharusnya bisa sampai ke negara tujuan dengan cepat, harus tertahan lama di pelabuhan. Penuntasan masalah dweeling time ini diharapkan kedepannya nanti sistem pengangkutan Indonesia menjadi lebih baik serta dengan solusi Presiden Jokowi, dengan penambahan pelabuhan juga akan membantu logistic Indonesia.
  2. Meningkatkan kulaitas Sumber Daya Manusia pengelola yang mengolah proses produksi barang komoditi supaya didapatkan hasil yang lebih baik dengan harga jual yang tinggi di pasar Internasional.
  3. Pemerintah harus tanggap mengenai kasus- kasus yang terjadi pada sektor perdagangan Internasional karena sektor ekspor- impor memegang peran penting di dalam pendapatan negara.
  4. Pemerintah memberikan modal bagi industri kecil supaya produk- produk yang dihasilkan mampu bersaing dengan produk- produk dari luar negeri.
  5. Pengendalian terhadap tarif impor dan ekspor juga perlu dikendalikan agar produk- produk yang dihasilkan dari dalam negeri tidak kalah saing dengan produk impor. Pemerintah harus dapat melindungi industri kecil serta dapat melindungi produk- produk dalam negeri.
  6. Menjadi eksportir produk manufactur; dalam hal ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas (mentah). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat rentan terhadap dampak volatilitas harga komoditas di pasar internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, ketika harga komoditas jatuh, kinerja ekspor Indonesia menurun secara drastis. Lebih buruk, dalam beberapa waktu mendatang tidak terlihat adanya tanda akan menguatnya harga komoditas. Untuk mengatasi posisi rentan ini, Indonesia harus mendiversifikasikan produk ekspor nasional, khususnya industri hilir untuk produk manufaktur bernilai tambah. Meningkatkan sisi suplai domestik adalah hal penting karena penduduk Indonesia (yang dicirikhaskan dengan pertumbuhan pesat masyarakat kelas menengah yang sekarang berjumlah sekitar 75 juta orang) akan memerlukan produk yang lebih banyak. Akibat kurangnya manufaktur dalam negeri, situasi ini menyebabkan inflasi dan kenaikan impor sehingga menimbulkan tekanan pada neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Mengenai ekspor, penting bagi Indonesia untuk mencari pasar-pasar ekspor yang non-tradisional. China (salah satu pasar ekspor terbesar untuk produk Indonesia) sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi maka permintaan dari ekonomi dunia terbesar kedua ikut melemah. Pada akhirnya, harus dicatat bahwa proyek-proyek infrastruktur besar yang ditargetkan oleh pemerintah akan mendorong impor karena proyek ini memerlukan bahan impor dalam jumlah besar.