Menjelaskan Situasi Perkembangan Politik Dan Ekonomi dengan singkat

Ditengah-tengah perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara terjadilah ganjalan dalam kehidupan berpolitik menjelang pemilu 1997 disebabkan adanya peristiwa 27 Juli 1996, yaitu adanya kerusuhan dan perusakan gedung DPP PDI yang membawa korban Jiwa dan harta.

Tekanan pemerintah orba terhadap oposisi sangat besar dengan adanya tiga kekuatan politik yaitu PPP, GOLKAR, PDI dan dilarang mendirikan partai politik yang lain. Hal ini yang berkaitan dengan diberlakukannya paket UU Politik yaitu :

  • UU No. 1 Tahun 1985 tentang Pemilu.
  • UU No. 2 Tahun 1985 tentang susunan dan kedudukan anggota MPR, DPR, DPRD yang kemudian disempurnakan menjadi UU No 5 Tahun 1995.
  • UU No. 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya.
  • UU No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Dengan terjadinya pertikaian dan kekerasan politik terus berlangsung dalam masyarakat sepanjang tahun 1996, kerusuhan meletus di Situbondo, Jawa Timur Oktober 1996. Kerusuhan serupa terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat Desember 1996 yang kemudian di berbagai daerah di Indonesia.

Pemilu 1997 dengan hasil Golkar sebagai pemenang mutlak. Hal ini berarti dukungan mutlak kepada Soeharto makin besar untuk menjadi presiden lagi di Indonesia dalam sidang MPR 1998. Dengan pencalonan kembali Soeharto menjadi presiden tidak dapat dipisahkan dengan komposisi anggota DPR / MPR yang mengandung nepotisme yang tinggi bahkan hampir semua putra-putrinya tampil dalam lembaga negara ini.

Dengan terpilihnya kembali Soeharto menjadi Presiden RI dan kemudian membentuk Kabinet Pembangunan VII yang penuh dengan ciri nepotisme dan kolusi. Mahasiswa dan golongan intelektual mengadakan protes terhadap pelaksanaan pemerintah ini. Disamping hal itu sejak tahun 1997 Indonesia terkena imbas krisis moneter di Asia Tenggara. Sistem ekonomi Indonesia yang lemah tidak mampu mengatasi krisis, bahkan kurs rupiah pada tanggal 1 Agustus 1997 dari Rp 2.575 menjadi Rp 5.000 per dolar Amerika. Ketika nilai tukar makin memburuk krisis lain menyusul yakni pada akhir tahun 1997 pemerintah melikuidasi 16 Bank, yang kemudian disusul membentuk badan penyehatan perbankan nasional ( BPPN ) yang bertugas mengawasi 40 Bank bermasalah.

Dengan begitu kepercayaan dunia terhadap kepemimpinan Soeharto pun makin menurun. Pada April 1998, 7 Bank dibekukan operasinya dan nilai rupiah terus melemah hingga mencapi Rp 10.000 per dolar. Hal ini yang menyebabkan terjadinya aksi para mahasiswa diberbagai daerah diseluruh Indonesia.

Dengan demikian keadaan makin kacau ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan. Pada tanggal 4 Mei 1998 aksi anti Soeharto pun makin meluas bahkan pada tanggal 12 Mei 1998 aksi mahasiswa Trisakti berubah menjadi bentrokan fisik yang membawa 4 korban meninggal yakni Elang Mulia, Hari Hartanto, Hendriawan dan Hafiadin Royan. Dengan demikian kondisi ini pun menjadi sangat parah dengan diadakannya demo besar-besaran ke Gedung MPR di senayan Jakarta.