Menjelaskan Sejarah Singkat Terbentuknya DI/TII dengan singkat

Pada tanggal 7 Agustus 1949 disuatu desa di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Gerakannya dinamakan dengan Darul Islam “DI” sedang tentaranya dinamakan dengan Tentara Islam Indonesia “TII”. Gerakan ini dibentuk pada saat Jawa Barat ditinggal oleh pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam Rangka melaksanakan ketentuan dalam perjanjian Renville. Dalam perkembangannya, DI/TII menyebar sampai di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat “berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah”, Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan.

Ketika pasukan Siliwangi berhijrah, gerombolan DI/TII ini dapat leluasa melakukan gerakannya dengan membakar rumah-rumah rakyat, membongkar rel kereta api, serta menyiksa dan merampok harta benda penduduk. Akan tetapi setelah pasukan Siliwangi mengadakan Long March kembali ke Jawa Barat, gerombolan DI/TII ini harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi. Dan untuk melindungi kereta apai, Kavaleri Kodam VI Siliwangi “sekarang Kodam III” mengawal kereta apai dengan panzer tak bermesin yang didorong oleh lokomotif uap D-52 buatan Krupp Jerman Barat. Panzer tersebut berisi anggota TNI yang siap dengan sejata mereka. Bila ada pertempuran antara TNI dan DI/TII didepan maka kerata api harus berhenti di halte terdekat.

Pemberontakan bersenjata yang berlangsung selama 13 tahun itu telah menghalangi pertumbuhan ekonomi masyarakat, ribuan ibu-ibu menjadi janda dan ribuan anak-anak menjadi yatim piatu. Dalam hal ini diperkirakan ada sekitar 13.000 rakyat Sunda, anggota organisasi keamanan desa “OKD” serta tentara gugur. Sementara itu, anggota DI/TII yang tewas tak diketahui dengan pasti, setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada tahun 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dinyatakan sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.