Menjelaskan Sejarah Awal Migrasi Global dengan singkat

Berbagai migrasi dalam skala yang besar memiliki sejarah yang panjang. Sejak munculnya negara-negara yang belum sempurna sekitar 6000 tahun yang lalu, migrasi telah melewati batas-batas politik yang juga memperluas dan mempertegas batas-batas tersebut. Agama dan ekonomi menjadi motif tersendiri bagi para pedagang dan para misionaris untuk menjelajahi benua.

Sejak manusia hidup menetap dan membentuk peradaban melalui kelompok-kelompok masyarakat tertentu, migrasi telah banyak dilakukan tetapi setelah munculnya negara-negara modern, migrasi yang bersifat global menjadi hal yang lazim dan lumrah dalam interaksi internasional di dunia.

  • Migrasi Global Pada Zaman Pra-Modern

Pada masa ini, hal yang sangat penting untuk ditinjau secara lebih saksama adalah migrasi yang terjadi di Asia. Periode imperialisme ke negara peri-peri menguak juga perpindahan kelompok masyarakat yang memiliki strata yang lebih tinggi dan kelompok masyarakat sipil yang mencapai puncaknya pada abad ke-3 sebelum Masehi.

Berbagai jenis migrasi sering didukung  dan diatur oleh Cina serta diorganisir oleh  anggota militer atau tentara. Pada masa ini diperkirakan hampir 2 juta migran berpindah dengan bantuan dinasti Han dari Cina. Migrasi yang sangat besar ini dapat dibandingkan dalam hal jumlah dengan migrasi besar-besaran pada abad ke-18 dan abad ke-19 walaupun secara geografis, migrasi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai migrasi global.

Sebaliknya suku pengembara yang merupakan suku bar-bar dari bagian utara tembok besar Cina secara bertahap menghimpun kekuatan untuk menghancurkan kekuasaan Cina. Kemudian kekaisaran Mongol secara agresif menaklukan kekaisaran lainnya dan memaksa rakyat untuk bermigrasi dengan membangun dinasti yang sangat berkuasa di Cina yang kemudian memperluas kekuasaannya kebarat.

Sedangkan peradaban India sendiri berkembang setelah adanya migrasi militer oleh tentara Arya jauh sebelum berakhirnya tahun masehi.Ketika berbagai migrasi terjadi dengan adanya perpindahan yang melintasi batas teritori tertentu, pada masa yang sama para pelaut polinesian mengambil resiko dengan mengarungi lautan dengan jarak yang jauh untuk melakukan migrasi laut dan menemukan pulau New Zealand yang tak berpenghuni pada milenium pertama dan hawai serta pulau Ester pada ratusan tahun kemudian.

Ciri migrasi pada era pra modern adalah adanya perluasan migrasi ke wilayah yang belum berpenghuni di Asia dan Amerika mengikuti rantai samudera Pasifik. Di wilayah Eurasia-Afrika sendiri migrasi didorong oleh tujuan untuk membangun kekuasaan agraria yang merupakan pilihan yang tepat daripada bergabung dengan masyarakat agraris yang lemah.

Migrasi dalam skala yang besar juga terdorong oleh tujuan kelompok yang berpindah-pindah. Mereka ingin menemukan pemukiman yang lebih baik dan berusaha menguasai wilayah sebuah kekaisaran. Adanya percampuran etnis dalam kelompok yahudi yang menciptakan kelompok disapora baru. Penemuan wilayah yang tak berpenghuni maupun gerakan untuk menguasai wilayah sebuah kekaisaran sebenarnya adalah manifestasi dari keinginan untuk tinggal menetap di sebuah pemukiman.

Pada masa ini migrasi bersifat lambat karena tidak didukung oleh sarana transportasi yang baik. Tetapi perpindahan dari kelompok nomaden selalu bersifat realtif. Kecepatan migrasi kolektif pun sulit untuk diprediksi. Migrasi pada masa ini sangat bergantung pada keadaan jalan, dan rute perjalanan. Sedangkan migrasi maritim dapat juga berorientasi pada perdagangan dengan tempat tujuan perdagangan utama di samudera hindia.

Organisasi yang terbentuk masih bersifat informal dalam kelompom masyarakat nomaden tetapi bentuk organisasi pemerintahan dalam kekasisaran pada kelompok yang tinggal menetap bersifat formal dan cenderung absolut. Susunan hirarki pada zaman ini masih dikuasai oleh kelompok nomaden yang selalu mendominasi masyarakat yang sudah tinggal menetap di sebuah wilayah.

  • Migrasi pada Era Perang Global

Pada rentang waktu 1760-1945, tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi mendorong masyarakat untuk bermigrasi. Migrasi dalam skala yang besar ini terus didorong oleh adanya perang dunia pertama. Tetapi setelah berakhirnyaperang dunia I, permintaan pekerja eropa, Asia dan Afrika semakin berkurang.

Nasionalisme meningkat di berbagai negara, dan berbagai kebijakan untuk membatasi angka imigrasi merupakan beberapa faktor yang menyebabkan berkurangnya migrasi atau perpindahan ke suatu negara. Permasalahan ekonomi yang dialami oleh Eropa pasca perang dunia I dan kecendrungan menurunnya ekonomi global pada tahun 1930-an semakin memperjelas rendahnya angka migrasi.

Masa setelah perang dunia II ditandai masifnya gelombang pengungsi dari negara-negara dunia ketiga diakibatkan oleh konflik etnis, perang sipil, dan instabilitas politik. Hingga tahun 1990-an, gelombang pengungsi yang meninggalkan negaranya mencapai 15 juta orang. Kombinasi dari pengungsi dan migran yang pindah akibat kemiskinan akut, pengangguran, kerusakan lingkungan mendorong arus migrasi semakin meningkat.

Eropa pasca Perang Dunia II merasakan tingkat pertumbuhan industri yang sangat tinggi akibat adanya pengaruh revolusi industri di negara-negara Eropa. Dampak revolusi industri yang terjadi di Inggris pada abad ke-18 dan berkembang ke negara-negara Eropa lainnya mengundang para pekerja dari Asia dan Afrika untuk mengambil bagian dalam kemakmuran bangsa Eropa dengan menjadi buruh industri. Maka dampak negatif migrasi para pekerja Asia dan Afrika adalah adanya eksploitasi para pekerja sehingga para pekerja lebih dianggap sebagai budak yang disetarakan dengan tenaga mesin.

Pasca Perang Dunia II, Perancis, Belgia, dan Jerman mulai banyak menarik para pekerja asing untuk datang. Akibat derasnya ekonomi di negara-negara tersebut, menarik imigran, pertama dari negara-negara miskin Eropa. Inggris, Belanda, dan Italia menarik imigran dari bekas koloni mereka.

Pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicapai Eropa tak pelak menjadi daya tarik orang-orang dari negara berkembang untuk ikut menikmati kemakmuran. Untuk menopang proses industrialisasi tersebut, Pemerintah negara-negara Eropa, khususnya Eropa Barat mengimpor pekerja dari luar Eropa. Pemerintah Perancis, misalnya membuka pintu negaranya bagi orang-orang dari negara bekas koloninya di Afrika Utara.

Pemerintah Inggris juga menggunakan tenaga dari bekas koloninya di anak benua India, Afrika, dan Karibia. Untuk pemerintah Jerman, karena mereka tidak mempunyai koloni di luar benua Eropa, mereka mengundang guest-worker dari Turki dan Yugoslavia untuk mendorong tumbuhnya industri di negara tersebut.

Adapun beberapa ciri khas yang dapat diamati dari periode ini adalah tingkat kecepatan dalam bermigrasi bersifat sedang walaupun dalam proses peningkatan. Migrasi lebih mendukung perkembangan perekonomian AS sebagai sebuah negara yang berdaulat dan berkuasa. Adanya Perbaikan dan pengaturan sistem maritim dan juga peningkatan aktivitas kereta api.

Institusi berkembang dalam pegnawasan negara yang pada akhirnya menghasilkan kebijakan-kebijakan tertentu berdasarkan kemampuannya untuk mengatur mekanisme imigrasi pada akhir abad ke-19. Institusi komersial, institusi publik serta institusi nonn-govermental berusaha untuk memperoleh pekerja dibangun di Eropa, Amerika Utara, Asia, dan negara-negara koloni Eropa.

Adanya perjanjian kerja atau kontrak antara organizer atau yang mengorganisir migrasi dan para imigran  menggambarkan sebuah hirarki kekuasaan yakni bahwa institusi sebagai yang mengorganisir memiliki kekuasaan yang mengontrol para migran.

Hingga tahun 1914 Eropa melakukan kolonialisasi terhadap Amerika sebagai migrasi dengan tujuan ekonomi. Sedangkan Rusia lebih memilih Asia dan Siberia sebagai daerah koloni. Perdagangan budak di samudera hindia dan atlantik mencapai puncaknya sebelum praktik tersebut dihentikan pada pertengahan hingga akhir abad ke-19.

Hingga tahun 1914, negara-negara Asia (cina dan Jepang) membuat kontrak kerja sedangkan Eropa lebih memfokuskan usaha pada mendapatkan pekerja dari daerah koloninya seperti Afrika, Caribia dan Pasifik, Amerika utara, dan beberapa negara Amerika Latin. Masyarakat Afrika menyadari perbedaan bahwa mereka dapat mencapai kemakmuran jika bekerja di Eropa. Oleh kerena itu banyak orang Afrika yang bermigrasi ke Eropa namun kebanyakan warga Afrika yang kemudian menjadi budak. Pada masa ini juga terjadi migrasi regional antara Eropa ke Afrika Selatan serta Rusia ke  Siberia.