Menjelaskan Relasi Makna Kata dengan singkat

Di dalam Bahasa Indonesia, banyak ditemukan suatu kata yang memiliki hubungan atau relasi semantik dengan kata lain, seperti kesamaan makna, lawan kata, kegandaan kata, ketercakupan makna, kelainan makna, dan sebagainya. Di bawah ini akan dijelaskan macam-macam relasi makna tersebut.

  • Sinonim

Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma  yang berarti “Nama”, dan syn  yang berarti “Dengan”. Maka secara harfiah kata sinonim berarti “Nama lain untuk benda atau hal yang sama” (Chaer, 1990:85). Sinonim atau bisa disebut kegandan makna dapat diartikan sebagai dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama. Dikatakan hampir sama karena meskipun dua kata tersebut sama, kata tersebut tidak dapat atau kurang tepat bila menggantikan kata yang lain dalam sebuah kalimat. Contohnya seperti di bawah ini :

Tikus itu mati diterkam kucing.
Tikus itu meninggal diterkam kucing.

Dalam dua kalimat di atas, kita dapat menemukan dua kata yang bersinonim, yaitu mati dan meninggal. Namun kata “Meninggal” pada kalimat kedua tidak dapat menggantikan kata “Mati” pada kalimat pertama. Hal ini karena kata “Mati” dapat digunakan pada semua makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan kata “Meninggal” hanya digunakan pada manusia.

  • Antonim

Kata antonimi berasal dari kata Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti “Nama”, dan anti yang berarti “Melawan”. Maka secara harfiah antonim berarti ‘nama lain untuk benda lain pula’(Chaer, 1990:85). Kata antonim atau sering disebut lawan kata dapat diartikan sebagai dua kata yang memiliki makna yang berlawanan atau bertentangan. Misalnya,  hidup-mati, diam-gerak dan sebagainya.

  • Homonim, homofon, homograf

Kata homonimi  berasal dari bahasa Yunani kuno onoma yang berarti “Nama” dan homo yang artinya “Sama”. Secara harfiah homonimi dapat diartikan sebagai “Nama sama untuk benda atau hal lain” (Chaer, 1990:85). Homonim adalah dua kata atau lebih yang memiliki ejaan  dan lafal yang sama namun memiliki makna yang berbeda. Misalnya, kata “Bisa” dapat diartikan dua makna, yakni “Bisa” yang berarti “Dapat” dan “Bisa” yang berarti “Racun”.

Homofon (homo berarti sama, fon berarti bunyi ) adalah dua kata atau lebih yang memiliki lafal yang sama walaupun ejaan dan maknanya berbeda. Misalnya, kata “Bang” dan “Bank”. Homograf (homo berarti sama, grafi berarti tulisan) adalah dua kata atau lebih yang memiliki ejaan yang sama namun memiliki lafal dan makna yang berbeda. Misalnya, “Tahu” (baca “Tahu”)  bermakna salah satu produk makanan yang berasal dari kedelai, sedangkan kata “Tahu” (baca “Tau”) bermakna mengetahui.

  • Hiponim dan hipernim

Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno , yaitu  onoma berarti “Nama” dan hypo berarti “Di bawah”. Jadi, secara harfiah berarti “Nama yang termasuk di bawah nama lain” (Chaer, 1990:85). Hipomimi dan hipermimi berhubungan satu sama lain, hipomimi merujuk pada kata yang lebih khusus yang merupakan subordinat dari hipermimi. Misalnya, kata “Tongkol” dan “Ikan”, kata “Tongkol” merupakan hiponim dari kata “Ikan” sedangkan kata “Ikan” merupakan hipernim dari kata “Tongkol”.

  • Polisemi

Polisemi adalah satuan bahasa (bisa kata atau frase) yang memiliki makna  lebih dari satu. Misalnya pada kalimat di bawah ini :

Kepalaku sakit sejak kemarin.
Kepala sekolah menemui para murid di kelas

Kata “Kepala” yang pertama bermakna bagian tubuh yang berada di atas leher sedangkan kata “Kepala” yang kedua bermakna pemimpin.