Menjelaskan Proses Pendorong Perubahan Sosial Budaya dengan singkat

1. Pola-pola Perubahan: Beberapa Pandangan Antropologi

Dalam kalangan antroplogi ada tiga pola yang dianggap sangat penting antara lain Evolusi, Difusi, dan Akulturasi. Landasannya adalah penemuan atau Inovasi. Penemuan paling menentukan dalam pertumbuhan kebudayaan dalam arti penemuan sesuatu secara etimologi menerima sesuatau yang baru. Menurut Kroeber, kebutuhan dan kebetulan kecil sekali peranannya dalam menghasilkan penemuan. Sumber terbesarnya adalah permainan dorongan hati (impulse). Penemuan di bidang ilmu dan kesenian adalah hasil peningkatan penelitian pancaindera dan aktivitas rasa keindahan orang dewasa, yang menyerupai permainan dalam kehidupan anak kecil atau binatang mamalia.

Bahasan lebih rinci mengenai penemuan, dikemukakan oleh Barnett. Ia membicarakan penemuan sebagai sesuatu yang lumrah di kalangan manusia. Setiap individu pada dasarnya adalah penemu, meskipun kecenderungan dan kemampuan individu untuk menyimpang dari batas-batas normal penyimpangan yang dapat diterima adalah berbeda bahan yang digunakan oleh penemu atau tercipta berasal dari dua sumber, yakni kebudayaannya sendiri dan aspek-aspek pengalamannya sendiri yang tak dibuat-buat seperti sifat dan cirri-ciri pisik dan mentalnya sendiri. Jadi baik faktor internal maupun eksternal membantu menerangkan perbedaan di kalangan individu berkenaan dengan aktivitas penemuan. Barnett sendiri memberikan tekanan khusus pada aspek psikologi dari penemuan dan memperlakukan suasana kebudayaan sebagai kerangka tempat berlakunya faktor psikologis. Hal penting untuk tujuan bahasan kita adalah pendapat Barnett, bahwa penemuan adalah dasar bagi perubahan kebudayaan.

2. Penemuan Baru/ Invention

Istilah penemuan (baru) mengacu pada penemuan cara kerja, alat, atau prinsip baru oleh seorang individu, yang kemudian diterima (conventional) oleh orang-orang lain, sehingga hal tersebut menjadi milik bersama masyarakat (Haviland, 1988: 253). Istilah “penemuan” (invention), pada prinsipnya, dapat dibagi menjadi dua ketegori, yaitu: penemuan primer (primary invention) dan penemuan sekunder (seondary invention).

Penemuan primer adalah penemuan yang biasanya diperoleh secara kebetulan dan baru pertama kalinya, sedangkan penemuan sekunder adalah proses perbaikan dengan menerapkan prinsip-prinsip yang sudah diketahui melalui pengalaman. Penemuan primer lebih asli sifatnya, karena langsung dari sumbernya, sedangkan penemuan sekunder cenderung mangalami perubahan, perbaikan dan penyesuaian dengan lingkungannya, sehingga keasliannya tidak terjamin lagi. Sebagai contoh penemuan alat penetak (kapak bermata batu di beberapa suku Papua) pada zaman batu, yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi alat-alat pemotong yang terbuat dari bahan lainnya, seperti tulang binatang dan besi. Penyempurnaan bentuk dan fungsinya dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat pemakainya. Contoh lain, adalah penemuan proses pembakaran tanah liat dari lembek menjadi keras dan seterusnya. Sangat memungkinkan, bahwa pada zaman dahulu kala pernah terjadi pembakaran tanah liat secara tidak disengaja, yang digunakan sebagai wadah untuk memasak sesuatu.

Perlu saya jelaskan di sini, bahwa tidak semua kejadian secara kebetulan itu dapat dianggap sebagai suatu penemuan (invention), selama penemunya tidak mengetahui manfaat atau fungsi dari penemuannya tersebut. Kira-kira 25.000 tahun yang lalu, orang menemukan adanya penerapan sistem pembakaran tanah liat yang dilakukan oleh manusia purba, karena beberapa artefak patung-patung kecil yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, dapat ditemukan. Akan tetapi, apakah penemuan yang sama dapat terjadi di beberapa tempat, seperti di Timur Tengah, jawabannya adalah tidak, karena penggunaan wadah seperti itu belum mengakar di sana. Nanti sekitar tahun 7.000 dan tahun 6.500 sebelum masehi, barulah penerapan pembakaran tanah liat di Timur Tengah mulai dikenal melalui pembuatan wadah-wadah dan bejana memasak yang tebuat dari tanah liat — yang murah, awet, dan mudah dibuat — ditemukan.

Sebuah penemuan, seperti halnya dengan alat pentak dan tembikar di atas dapat berubah dari penemuan primer menjadi sekunder. Banyak bukti yang dapat kita temukan dari perubahan bentuk penggunaan tanah liat menjadi bentuk kentongan untuk menyimpan air, kendi untuk menyimpan air minum, belanga untuk memasak, piring tanah untuk makan dan sebagainya, yang mengalami perubahan bentuk sesuai dengan fungsinya. Kegiatan pembuatan grabah di Banyumulek di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, merupakan salah satu bukti riel perubahan tersebut. Kendi atau kentongan yang dulunya difungsikan sebagai alat memasak atau wadah penyimpanan air, saat ini dijadikan sebagai cendera mata khas Lombok dengan sentuhan-sentuhan seni assesorisnya. Kendi atau kentongan tersebut dibungkus dengan menggunakan anyaman rotan kecil atau kadang-kadang diukir dan dibuat menyerupai guci yang berasal dari negeri cina.

Selain perubahan bentuk dan fungsi di atas, perubahan dan efesiensi proses pembuatannya pun juga ikut terjadi. Barang tembikar, misalnya, yang dibuat oleh masyarakat purba dengan menggunakan tangan dan/atau alat sederhana lainnya, sejalan dengan perkembangan waktu mengalami perubahan yaitu dengan menggunakan alat-alat tepat guna. Para pengrajin gerabah waktu lampau melakukan pekerjaannya dengan mengaduk-aduk atau menginjak-injak tanah liat untuk membuat adonan, saat ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengaduk yang menggunakan mesin atau dinamo pemutar. Para pengrajin tembikar pada waktu silam membuat tembikarnya dengan tanpa wadah dan harus berputar dari salah satu ke sisi lain, ketika membuat tembikarnya, kini dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah meja putar, sehingga pembuatnya tidak perlu lagi mengelilingi tembikar buatannya.

Perlu juga saya kemukakan di sini, bahwa tidak tertutup kemungkinan proses perubahan dari penemuan primer ke penemuan sekunder dapat menimbulkan penemuan baru lainnya. Pembuatan tungku pembakaran tanah liat di Timur Tengah, misalnya, yang juga diterapkan ke dalam proses-proses lainnya, seperti pembakaran batu cadas menjadi kapur, peleburan biji tambang (ore) menjadi logam dan lain sebagainya, merupakan salah satu bukti penemuan lain tersebut. Ketika, misalnya, pembakaran tanah liat di Timur Tengah manusia dikagetkan oleh temuan baru berupa kapur atau biji logam, maka ia berusaha membuat percobaan-percobaan khusus dengan membakar batu cadas dan tanah tambang yang dianggap mengandung logam.

Penemuan primer dapat mengakibatkan perubahan kebudayaan yang cepat dan merangsang penemuan-penemuan lain, seperti tergambar dalam contoh di atas. Hal ini disebakan oleh adanya sifat dinamis yang dimiliki kebudayaan, yang memungkinkan terjadinya penemuan-penemuan. Darwin, misalnya, dengan teori evolusinya menemukan sebuah bukti, yang menurutnya dapat membuktikan, bahwa manusia itu dalam perkembangan evolusi fisiknya berasal dari kera. Temuan ini akhirnya menjadi kontrovesial hingga saat ini, karena temuan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai, pola kebutuhan dan tujuan-tujuan masyarakat. Oleh karena itu, tidak salah apabila Benedict (1934) mengatakan, bahwa peluang penemuan untuk diterima (oleh masyarakat) sangat kecil, kalau penemuan tersebut tidak berhasil menyesuaikan diri dengan pola kebutuhan, nilai dan tujuan-tujuan yang sudah mapan di dalam masyarakat.

Faktor lain yang dapat menghambat penerimaan sebuah temua adalah kebiasaan (habit) masyarakat penerimanya. Dengan demikian, manusia pada umumny akan tetap berpegang pada kebiasaannya dan cenderung enggang menerima sesuatu yang baru, yang menurutnya tidak terlalu adapatif dalam menghadapi lingkungannya. Jadi, peluang besar sebuah penemuan untuk dapat diterima, apabila penemuan tersebut lebih baik daripada apa yang digantikannya. Selain itu, prestise dan status si penemu juga menentukan diterima atau kurang berterimanya suatu temuan. Apabila temuan itu didapat oleh orang-orang yang berprestise atau berpengaruh, maka temuan tersebut cenderung cepat diterima, dibandingkan dengan penemu biasa atau orang-orang yang tidak berpengaruh atau ahli dalam bidangnya.

3. Evolusi

Pemikiran evolusi kuno menurut garis lurus ini mengalami kemunduran di awala abad 20. Pemikiran ini mendapat serangan hamper disemua perkara. Sebagian besar kritikan itu menyangkut perbedaan antara teori dan pengetahuan yang terhimpun mengenai masyarakat primitif. Jika tak seluruhnya, kebanyakan teori evolusi ini didsarkan atas data yang tak memadai dan tak cermat, dan teoritisinya sendiri umumnya tidak melakukan penielitian lapangan yang intensif. Begitu pula, teori evolusi kuno cenderung meremehkan peranan kebudayaan pinjaman, dan antropolog baru cenderung melihat pinjaman kebudayaan ini sangat penting artinya. Pemikiran evolusi menurut garis lurus memperkuat sikap etnosentrisme dan menjurus kearah penghinaan kebudayaan masyarakat yang “kurang maju”

Pemikiran evolusi baru, yang muncul setelah yang lama hancur karena serangan kritik mematikan itu, mengurangi mitos perkembangan kebudayaan menurut garis lurus. Pemikiran evolusi baru ini merupakan upaya untuk mentesiskan pemikiran ahli evolusi kuno dan pemikiran ahli difusi dan fungsional, yang muncul kemudian. Pemikiran ahli difusi, menekankan sifat mobilitas berbagai unsur kebudayaan dan mencoba mengetahui bagaimana cara berbagai unsur yang membentuk satu kebudayaan tertentu menyatu bersama. Pemikiran ahli teori fungsional menekankan pada saling ketergantungan unsur kebudayaan, hubungan masing-masing unsur menjadi satu keseluruhan yang penuh makna. Seperti pandangan fungsionalisme sosiologis, pandangan ini pun ternyata tak mampu menerangkan masalah perubahan secara memadai.

Pemikiran evolusionisme baru, mencakup berbagai ide. Beberapa ahli antropolog kontemporer, menyamakan evolusi dengan perubahan. Sedangkan yang lain membanyangkan evolusi sebagai pertumbuhan, perkambangan atau kemajuan. Wolf membangayangkan evolusi dalam arti perkembangan kumulatif baik kuantitatif maupun kualitatif. Aspek kuantitatif secara tersirat menyatakan tingkatan evolusi menurut skala numeric. Dengan demikian, kebudayaan dapat dibedakan tingkatannya, umpamanya menurut jumlah energi yang digunakan atau menurut cirri demografis, atau menurut intensitas komunikasi. Aspek kualitatif berarti kemunculan-kemunculan komponen kebudayaan baru, yang memasukkan dan menyatukan komponen yang ada menurut cara baru. Sebagian besar penemuan merupakan penyatuan bagian-bagian yang telah ada sebelumnya menurut cara baru.

Negara adalah sebuah penemuan sosial yang menghasilkan perubahan kualitatif dalam organisasi kebudayaan. Perubahan kualitatif utamanya adalah terjadinya perubahan dari bagian-bagian kebudayaan yang sebelumnya tidak terspesialisasi menjadi kebudayaan yang berfungsi atas dasar bagian-bagian yang terspesialisasi. Artinya, perubahan dari masyarakat pemburu dan pengumpul makanan ke bentuk masyarakat yang lebih rumpil.

Kebudayaan adalah proses yang bersifat simbolis, berkelanjutan, kumulatif, dan maju (progresif). Kebudayaan adalah proses simbolis dalam arti bahwa manusia adalah simbol binatang (terutama binatang yang meggunakan bahasa). Berkelanjutan karena sifat simbolis kebudayaan memungkinkannya dapat dengan mudah diteruskan dari seorang individu ke individu yang lain dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akumulatif dalam arti unsur bar uterus-menerus ditambahkan kepada kebudayaan yang ada. Kebudayaan bersifat progresif dalam arti mencapai control yang semakin meningkat terhadap alam dan semakin menjamin kehidupan yang semakin baik bagi manusia. Dengan kata lain kebudayaan adalah fenomena yang menghasilkan sendiri, mencakup kehidupan individu dan karena itu dapat menjelaskan seluruh perilaku manusia

4. Difusi

Meskipun minat terhadap evolusi hidup kembali, pendekatan lebih umum atas perubahan kebudayaan dipusatkan pada proses difusi atau akulturasi. Kedua hal ini akan dibahas berikut ini. Jika dalam teori evolusi menjelaskan perubahan atau perkembangan kebudayaan dari bawah ke atas, maka difusi menjelaskan “perkembangan kebudayaan secara mendatar”.

Ide pokok dari teori difusionisme dalam antropologi mengatakan bahwa “terdapat transmisi atau peralihan atau pergeseran atau perpindahan dari suatu kebudayaan apakah sifatnya material, atau sebaliknya dari suatu kebudayaan ke-kebudayaan yang lain, dari orang ke orang, dari suatu tempat ke tempat yang lain”. Berbeda sekali dengan asumsi evolusi bahwa “dinamika atau perkembangan kebudayaan itu dari bawah ke atas secara pelan-pelan”. Terdapat pendugaan-pendugaan atau perposisi atau asumsi-asumsi pokok dalam difusi yang bersifat ekstrim. Dalam difusi ada yang menganut aliran ekstrim dan ada yang sedikit moderat. Aliran ekstrim mengatakan bahwa “umat manusia itu tidak berdaya cipta”, jadi sesuatu itu, budaya maupun sosial, hanya diciptakan sekali saja kemudian ditransmisikan dari suatu masyarakat ke masyarakat yang lain yang biasa melampaui pola secara global.

Ini bisa disebabkan oleh suatu transmisi antara produk-produk yang stabil yang dibawah oleh masyarakat-masyarakat yang berperadaban yang tinggi. Evolusi klasik mengasumsikan bahwa manusia itu punya kreasi untuk menciptakan sesuatu yang sama dengan yang diciptakan oleh generasi berikutnya melalui peningkatan disetiap tempat yang berbeda-beda. Jadi walaupun berbeda tempat tetapi bisa sama yang diciptakan misalnya perahu, di mana-mana namun tempatnya berbeda, dan dianggap suatu kebetulan, tetapi sebetulnya merupakan suatu perkembangan dari bawah ke atas, tetapi masing-masing punya daya menciptakan seperti itu. Bukan karena adanya perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Kita telah membahas difusi sebagai proses yang menyebarkan penemuan (inovasi) keseluruh lapisan satu masyarakat atau kadalam suatu bagian atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Menurut pendekatan antropologi, difusi mengacu pada penyebaran unsur-unsur atau ciri-ciri satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Tetapi beberapa antropolog memperdebatkan hal ini. Malinowski menyatakan, difusi takkan dapat dipelajari kecuali bila kita mengambil system organanisasi atau institusi sebagai unit-unit yang disebarkan ketimpang cirri-ciri atau kompleks cirri-ciri kebudayaan. Defenisi yang lebih umum menegaskan bahwa difusi adalah penyebaran aspek tertentu dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Teori difusi muncul sebagai alternative bagi teori evolusi. Teoritisi difusi kuno telah membuat pernyataan yang sama berlebih-lebihannyadengan yang dibuat teoritisi evolusi kuno.

5. Akulturasi

Akulturasi mengacu pada pengaruh satu kebudayaan terhadap kebudayaan lain Atau saling mempengaruhi antara dua kebudayaan, yang mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan. Sebagaimana difusi, tak ada defenisi akulturasi yang memuaskan setiap antropolog. Defenisi diatas serupa dengan defenisi antropolog klasik Redfield, Linton, dan herkovits akulturasi meliputi fenomena yang dihasilkan sejak dua kelompok yang berbeda kebudayaannya mulai melakukan kontak langsung, yang diikuti perubahan pola kebudayaan asli salah satu atau kedua kelompok itu menurut defenisi ini, akulturasi hanyalah satu aspek saja dari perubahan kebudayaan.

Sedangkan difusi hanyalah satu aspek dari akulturasi. Begitu pila, difusi selalu terjadi dalam akulturasi, tetapi tak dapat terjadi tanpa berkelanjutanya kontak langsung yang di perlukan bagi akulturasi. Defenisi yang menjadi standar dalam perubahan kebudayaan adalah yang dirumuskan tahun 1945. Akulturasi didefenisikan sebagai “perubahan kebudayaan yang dimulai dengan berhubungannya dua sistem kebudayaan atau lebih masing-masing otonom yang menjadi unit analisis adalah setiap kebudayaan yang dimiliki masyarakat tertentu. Individu anggota masyarakat itu jelas adalah pendukung kebudayaan, dan karena itu menjadi perantara yang menyebarkan kebudayaannya kepada individuyang berasal dari masyrakat lain. Dalam analisis akulturasi, individu yang mengubah kebiasaan berperilaku dan keyakinan asing, namun dikatakan adapt masyarakatnyalah yang mengalami akulturasi.

Menurut Haviland (1988: 263), bahwa proses akulturasi mendapat perhatian khusus dari para antropolog. Akulturasi terjadi bila kelompok-kelompok individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda saling berhubungan secara langsung dan intensif, dengan timbulnya kemudian perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari salah satu atau kedua kebudayaan yang bersangkutan. Di antara variabel-variabelnya yang banyak itu, termasuk tingkat perbedaan kebudayaan, keadaan, intensitas, frekuensi, dan semangat persaudaraan dalam hubungan-nya, maka terjadi dua kubu yaitu yang dominan dan yang tunduk, serta kemungkinan ada atau tidaknya saling pengaruh secara timbal balik dari kedua kebudayaan atau lebih yang melakukan kontak. Perlu saya jelaskan di sini, bahwa istilah akulturasi dan difusi kebudayaan merupakan dua bentuk pemakaian istilah yang bertolak belakang.

Akulturasi menurut Koentjaraningrat (2003: 7) adalah proses dimana para individu warga suatu masyarakat dihadapkan dengan pengaruh kebudayaan lain dan asing. Dalam proses itu sebagian mengambil alih secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu dan sebagian pula berusaha menolak pengaruh itu. Sedangkan difusi kebudayaan (Koentjaraningrat, 2003: 41), di pihak lain, adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan di muka bumi. Kalau persebaran itu merupakan akibat pengaruh suku bangsa yang satu pada suku bangsa yang lain, proses difusi itu disebut difusi meransang (stimulus diffusion) yaitu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan akibat pengaruh gagasan yang menimbulkan unsur-unsur itu. Akibatnya, sebuah kebudayaan dapat mengambil anasir dari kebudayaan lain tanpa melalui akulturasi sama sekali Sebagai akibat dari salah satu atau sejumlah proses tersebut, akulturasi dapat tumbuh melalui beberapa jalur (Haviland, 1988: 263).

Percampuran atau asimilasi unsur-unsur budaya (cultural assimilations) dapat terjadi bila dua kebudayaan kehilangan identitas masing-masing dan menjadi satu kebudayaan baru. Inkorporasi (incorporation) terjadi kalau sebuah kebudayaan kehilangan otonominya, tetapi tetap mempunyai identitas sebagai subkultur, seperti kasta, kelas atau kelompok. etnis, seperti yang terjadi di beberapa daerah taklukan, yang umumnya menjadi budak dari penguasanya. Ekstinksi (extinction) atau kepunahan adalah gejala di mana sebuah kebudayaan kehilangan orang-orang yang menjadi anggotanya, sehingga tidak berfungsi lagi, dan kepunahan anggotanya karena mati atau bergabung dengan kebudayaan lain. Dalam adaptasi dapat tumbuh sebuah struktur baru dalam keseimbangan yang dinamis. Perlu juga saya jelskan di sini, bahwa perubahan sebuah kebudayaan dapat berjalan terus, akan tetapi bentuk pertumbuhan bersama biasanya agak lamban.

Haviland (1988: 264) memberikan contoh masyarakat Indian di bagian utara New England pasca terjadinya invasi dan kolonialisasi oleh orang-orang Inggris. Dari luar memang tampak, bahwa orang-orang Indian umumya berperilaku mirip dengan para kolonisnya, yang juga hidup bersama-sama dengan mereka. Mereka, misalnya, senang memakai pakaian gaya Eropa, menggunakan alat-alat besi dan bukan alat-alat batu lagi, bertempur dengan menggunakan senapan atau senjata api dan tidak lagi menggunakan busur dan anak panah, menekankan cara patrilineal dalam warisan harta benda mengakui adanya perbedaan kedudukan (laki-laki dan perempuan), umumnya lancar mengunakan salah satu bahasa Eropa (Perancis), dan bahkan memeluk agama Kristen (Katolik). Kebiasaan-kebiasaan sesuai adat-sitiadat orang Indian, seperti; berburu, menangkap ikan, menanam jagung, buncis, dan gambas, menggunakan kano dan sepatu salju, serta menghisap rokok sudah lama dijadikan kebiasaan kaum kolonis, sehingga hal tersebut tidak lagi menjadi ciri khas orang Indian. Dengan demikian, perbedaan antara orang Indian dan bukan Indian hampir tidak terlihat lagi, meskipun mereka tetap memelihara inti nilai-nilai (value cores) dan tradisi (customs) khusus sebagai milik mereka sendiri, dan inilah yang akan menjadi ciri pembeda satu-satunya bagi mereka.

Menurut Smith (1990: 1), bahwa istilah akulturasi telah digunakan sejak abad ke-19 untuk menggambarkan proses akomodasi dan perubahan yang terjadi di dalam kontak budaya. Akan tetapi, selama tahun 1930-an penggunaannya semakin meningkat, terutama oleh para antopolog Amerika Serikat yang tertarik di dalam studi perubahan kebudayaan dan perubahan sosial, serta pada problematika kerancuan sosial dan kemunduran budaya. Mereka mendefinisikan akulturasi sebagai “fenomena-fenomena yang dihasilkan ketika sekelompok manusia yang berasal dari latar kebudayaan berbeda berada dalam kontak langsung, yang mengakibatkan perubahan secara sufisien dari kedua belah pihak. Memulai dari sebuah pola dasar kebudayaan (culutral baseline) pre-kontak, studi akulturasi kemudian berusaha mempelajari, menggambar-kan dan menganalisa proses perubahan.

Dalam aplikasinya, mereka lebih mengkonsentrasikan diri pada kontak antara masyarakat industri dengan masyarakat bersahaja (native population), dengan menekankan pengaruh satu arah dari yang lama hingga selanjutnya, seperti yang terimplikasi di dalam antropologi terapan (Applied Anthropology). Mereka dibesarkan oleh terpaan kritikan, karena keterbukaannya pada proses pengembangan dan latar belakang kelompok kebudayaan dominan dan perubahan yang muncul di dalamnya sebagai hasil dari situasi politik baru, ekonomi dan bentuk sosial.

Studi khusus dalam perspektif akultarasi termasuk di dalamnya mekanisme perubahan dan resistensi dalam melakukan perubahan, dan kreasi tipologi dari hasil sebuah perubahan, seperti: Asimilasi, reinter-pretasi, sinkeretisme, revitalisasi dan sebagainya. Studi akulturasi akhir-akhir ini cenderung menghindari pem-bahasan yang berkenaan dengan pola kebudayaaan (cultural pattern) dan latar belakang analisis struktur dominasi sosial, ekonomi dan politik atau interaksi etnik dan strategi penggunaan elemen kebudayaan (cultural elements) dalam kontak kebudayaan yang sedang berlangsung.