Menjelaskan Proses Pembentukan Sperma dengan singkat

Pembentukan sperma disebut dengan spermatogenesis yang terjadi didalam tubulus seminiferus, yang berawal dari spermatogonium yang terletak pada tubulus seminiferus. Tubulus seminiferus terdapat pada ruang-ruang didalam tesis (lobulus testis). Satu testis memiliki lebih kurang 250 lobulus testis.

Pembentukan sperma diatur oleh sebuah sistem hormonal, yakni hormon LH (Luteinizing Hormone) yang terletak di hipofisis anterior berfungsi untuk meransang sel leyding yang menghasilkan testosteron, yang mana testosteron ini yang fungsi pada pembelahan sel-sel germinal (spermatogenesis) dan juga sebagai pemacu untuk tumbuhnya sifat kelamin sekunder, seperti kumis, janggut, dada yang berbentuk bidang, dan juga distribusi rambut ditempat lainnya. Kemudian ada hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang meransang sertoli untuk membentuk ABP (Androgen Binding Protein) yang membuat spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis, sertoli ini juga berfungsi untuk memberi makan spermatozoa. Fungsi FSH juga meliputi perannya pada proses spermiogenesis, yakni perubahan dari spermatid menjadi sperma. Selanjutnya juga ada peran dari GH (Growth Hormone) yang mengatur pembelahan awal spermatogonia.

Tahap pembentukan spermatozoa terdiri atas tiga tahap, yaitu:

1. Spermatositogenesis

Proses ini adalah tahap yang dimana spermatogonia mengalami mitosis dan menjadi spermatosit primer. Spermatogonia ini sifatnya diploid (2n) atau mengandung 23 pasang kromosom. Spermatosit primer yang terbentuk juga bersifat diploid (2n).

2. Meiosis

Sesudah spermatosit primer terbentuk, maka sitoplasma yang terbentuk juga semakin banyak dan terjadilah proses meiosis. Spermatosit primer berubah menjadi spermatosit sekunder yang sifatnya haploid (n) kromosomnya. Kemudian spermatosit sekunder membelah lagi pada proses meiosis II dan membentuk lagi n kromosom, sehingga terbentuklah empat buah spermatid yang juga bersifat haploid (n).

3. Spermiogenesis

Proses ini adalah perubahan dari spermatid menjadi spermatozoa (sel sperma matang). Spermatid yang awalnya hanya berbentuk seperti sel-sel epitel yang sederhana, pada proses ini mengalami suatu transformasi yang signifikan, yakni mengalami pemanjangan sehingga terbentuklah struktur yang jelas dari sperma, yakni mmiliki bagian kepala, midpiece, dan ekor.

Sperma yang matang ini akan dikeluarkan melalui meatus urethra (saluran pada penis) bersama dengan cairan yang diproduksi oleh kelenjar vesikula seminalis yakni yang berupa cairan semen yang kental, mengandung fruktosa, asam askorbat, enzim koagulasi (vesikulase) dan prostaglandin. Selanjutnya sperma bercampur dengan cairan dari kelenjar prostat yang berupa cairan seperti susu yang bersifat sedikit asam sitrat, dan juga enzim PSA (prostate spesific antigen), cairan ini berperan dalam aktivasi sperma dan jumlahnya juga banyak, yaitu mencapai 1/3 volume dari pada semen (cairan sperma).

Dan yang terakhir sperma tersebut bercampur dengan cairan yang di produksi oleh kelenjar cowper (bulbourethra), yang berupa cairan mukoid kental, berwarna bening, yang menetralkan sisa urin yang asam didalam saluran urethra. Setelah itu semua tercampur, maka semen pun diejakulasikan melalui meatus urethra.

Ciri-Ciri Sperma Yang Sehat

Adapun sperma yang sehat dan berkualitas dicirikan sebagai berikut:

  • Bentuk sperma yang baik adalah yang berkepala oval atau lonjong dengan ekor yang panjangdanberujunglancip.
  • Sperma yang baik berenang maju secara lurus dan cepat
    Diantara sel sperma itu ada yang membawa sifat laki-laki (Y) dan ada yang membawa potensi perempuan (X). sel ini berenang hingga terjadi pertemuan antara sel sperma laki-laki dan perempuan.
  • Pengetahuan modern berhasil menemukan bahwa kontraksi rahim saat berhubungan badan menjadi sebab terhisap dan tertariknya sel sperma hingga bercampur dangan sel telur. Banyak dari sel sperma ini yang mandul. Angkanya kira-kira mencapai 20%. sehingga sejumlah ini tidak bisa membuahi dengan baik.
  • Sebagian besar darinya mati saat menempuh perjalanan dari penis laki-laki menuju rahim perempuan. Di antara jutaan sel sperma yang berusaha menuju sel telur ini yang sampai di sepertiga akhir tidak lebih dari 500 sel saja. Dari 500 sel ini kemudian ada satu sel yang berhasil menembus sel telur yang tebal.

Hormon yang berperan dalam spermatogenesis

Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon, diantaranya :

  1. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon peransang folikel (Folicle  Stimulating Hormon/ FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormon/ LH).
  2. LH merangsang sel leydiguntuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/ testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
  3. FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai spermatogenesis.
  4. Hormon pertumbuhan, secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

Semua proses spermatogenesis dikontrol oleh sistem endokrin, yaitu oleh hormon gonadothropin seperti hormon FSH, ICGSH dan androgen. Rangkaian kejadian pengendalian hormon terhadap spermatogenesis pada sapi jantan adalah

  1. Sapi jantan pada waktu pubertas dicapai hormon FSH mempengaruhi sel Leydig untuk menghasilkan hormon androgen (hormon jantan).
  2. Androgen membuat epitel germinalis dari tubulus seminifrus bereaksi terhadap FSH.
  3. FSH menyebabkan dimulainya spermatogenesis dengan adanya pembelahan sel di spermatogonia.
  4. Spermatogenesis diatur oleh FSH, LH dan androgen serta estrogen.
  5. Androgen terhadap seluruh organ kelamin jantan membantu mempertahankan kondisi yang optimum terhadap spermatogenesis, transportasi spermatozoa dan penempatannya di daerah yang terjadi pembuahan.