Menjelaskan Proses Fertilisasi (Pembuahan) dengan singkat

Fertilisasi diawali dengan proses pembentukan gamet yang disebut dengan gametogenesis, yaitu proses pembentukan spermatozoa(spermatogenesis)  pada jantan dan pembentukan ovum (oogenesis) pada betina.  Spermatogenensis berlangsung di dalam testis pada bagian tubulus seminiferus, sedangkan oogenesis di dalam ovarium.

  • Fase Persiapan

Proses pertama dari fertilisasi adalah adanya minat seksual pada manusia yang sangata kompleks yang melibatkan berbagai faktor psikologis. Ada 2 jenis respon seksual secara psikologis yang terjadi pada manusia (campbell: 2008: 174) , yaitu : vangokongesti dan myotonia . Vangokongesti adalah pengisian jaringan dengan darah sedangkan myotonia adalah peningkatan tegangan otot. Kedua respond inilah yang menyebabkan vagina dan penis siap untuk hubungan seksual

Pada pria vangokongesti ini menyebabkan perubahan bentuk dari penisyang disebabkan terisinya pembuluh darah pada penis yang pada akhirnya menyebabkan kontraksi yang disebut dengan ereksi. Ereksi atur oleh saraf simpatis dan para simpatis. Saraf parasimpatis merangsang pembuluh darah untuk melebar sehingga volume darah yang masuk ke penis meningkat. Sedangkan saraf simpatis merangsang untuk penyempitan pembuluh darah, sehingga darah yang masuk ke penis menurun

Pada perempuan respon seksual ini dapat berupa vangokongesti dan juga myotonia. Respon vangokongesti pada perempuan menyebabkan ereksi pada klitoris dan menyebabkan labia mayor dan minor menjadi mengembang sehingga penis bisa masuk. Respon myotonia pada perempuan dapat berupa ereksi pada puting susu

  • Fase Persiapan Sperma dan Fase Persiapan Ovum

  1. Persiapan Sperma
    Sperma pada laki-laki dibentuk di tubulus seminiferous yang terdapat pada bagian testis yang dibungkus oleh skrotum, selanjutnya sperma dari tubulus seminiferous ini sperma disalurkan ke saluran saluran yang menggulung yang disebut epididimis (campbell,2008 : 172). Pada manusia, sperma memerlukan waktu +- 3 minggu untuk melewati saluran epipidimis yang panjangnya hamper 6 meter ini. Selama perjalanan melewati epididimis ini sperma mengalami pematangan dan menjadi motil.

    Setelah dari Epididimis sperma akan disalurkan ke saluran yang bernama vas deferens. Sebelum sperma disalurkan ke uretra, 3 kelenjar akan menjalankan tugasnya, yaitu vesikula seminalis, kelenjar prostat dan juga kelenjar-kelenjar bulbouretra.3 kelenjar tersebut membantu dalam pembentukan cairan semen.
    Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60% dari cairan semen. Cairan dari vesikula seminalis ini bersifat kental, agak kekuningan dan bersifat basa. Cairan yang dihasilkan vesikula seminalis ini mengandung mukus,gula fruktosa, enzim penggumpal, dan prostaglandin.

    Kelenjar prostat menyekresikan cairannya langsung ke uretra , cairan yang dihasilkan bersifat encer dan mirip susu. Mengandung enzim antikoagulan dan sitrat (salah satu nutrient sperma).
    Kelenjar bulbouretra menghasilkan mucus jernih yang berfungsi untuk menetralkan asam urin yang tersisa pada uretra.

  2. Fase Persiapan Ovum
    Ovum yang dihasilkan dari tahap oogenis dari ovarium akan dikeluarkan menuju oviduk. Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium akan ditangkap oleh fimbria bagian dari tuba fallopi. Selanjutnya ovum yang telah dibawa akan disalurkan oleh cilia pada tuba fallopi untuk disalurkan ke bagian ampula isthmus untuk siap dibuahi oleh sperma

  • Masuknya sperma ke dalam vagina betina (Ejakulasi)

Sebelum terjadi proses fertilisasi, akan terjadi ejakulasi terlebih dahulu yaitu keadaan di mana ditandai dengan keluarnya cairan semen yang mengandung sperma dari suatu penis dan keadaan ini lazim disertai dengan keadaan tubuh yang disebut sebagai orgasme.

Ejakulasi mungkin di anggap tabu untuk diperbincangkan, akan tetapi ejakulasi tersebut sangat baik bagi kesehatan. Berikut beberapa manfaat ejakulasi bagi kesehatan pria, diantaranya :

  1. Dapat mencegah kanker prostat
    Sebuah studi yang dikembangkan lembaga penelitian khusus prostat di Harvard menyatakan bahwa semakin jarang pria ejakulasi, maka semakin besar risiko terkena kanker prostat. Sebab selama ejakulasi, kelenjar prostat akan mengeluarkan racun dan sel karsionegik penyebab kanker prostat.

  2. Dapat mencegah penyakit vasocongestion
    Pria yang jarang ejakulasi biasanya akan mengalami rasa sakit di skrotumnya untuk sementara waktu. Rasa sakit ini dikenal dengan istilah populer bola biru (blue balls) atau dalam istilah medisnya dinamakan vasocongestion. Dengan ejakulasi, seorang pria dapat terhindar dari penyakit tersebut. Sebab, ejakulasi akan mengeluarkan cairan yang apabila menumpuk di skrotum dapat menyebabkan vasocongestion.

  3. Meningkatkan kualitas sperma
    Ejakulasi ternyata memiliki manfaat untuk meningkatkan kualitas sperma. Bagi pasangan suami istri yang sedang program memiliki anak, 3 sampai 4 kali ejakulasi lewat hubungan seksual dalam seminggu akan membuat air mani suami jadi lebih berkualitas dan ereksi tahan lama.

  4. Menghindar dari stres
    Saat sedang ejakulasi, zat dalam otak yang dapat menyalurkan rasa bahagia ikut terdistribusi dengan baik di dalam tubuh. Sehingga pria sedang stres akan sangat terbantu jika dia bisa ejakulasi dengan lancar. Selain itu, aliran darah dan kekakuan otot pria pun juga akan berkurang. Sehingga tingkat stres akan berkurang karena ejakulasi.

  5. Baik untuk kesehatan kulit
    Tahukah anda bahwa spermidine, yaitu suatu senyawa yang ada di dalam air mani dapat memperlambat proses penuaan dini ? Spermidine juga mampu melindung sel dari kerusakan dan dapat meningkatkan kualitas sel darah.

  6. Meningkatkan kualitas tidur
    Ejakulasi biasanya disertai dengan orgasme. Saat orgasme, tubuh mengeluarkan hormon dopamin, hormon aksitosin dan hormon endorfin. Ketika hormon ini telah bekerja, akan membuat tubuh menjadi rileks dan dapat meningkatkan kualitas tidur.

Pada proses fertilisasi ini, sperma disalurkan ke tubuh betina melalui media yang dimasukkan atau kontak langsung dengan kelamin betina. Spermatozoa harus mempunyai kemampuan untuk mencapai tempat terjadinya fertilisasi di bagian ampula dari Tuba fallopi. Beberapa faktor fisiologis yang berpengaruh terhadap kecepatan perjalanan spermatozoa adalah volume ejakulat, tempat deposisi, dan anatomi saluran reproduksi betina.

Pertama, spermatozoa akan memasuki vagina,dimana akan terjadi seleksi dengan adanya perbedaan pH antara spermatozoa (pH=7) dan vagina (pH=4). Setelah melewati vagina, spermatozoa yang telah terseleksi akan memasuki serviks. Dalam serviks, hanya spermatozoa yang normal yang dapat lewat, hal ini dikarenakan spermatozoa yang normal dapat bergerak melewati cincin-cincin anulir pada serviks. Sampai akhirnya menuju uterus, dimana mengalami kapasitasi yakni proses pendewasaan spermatozoa oleh cairan endometrium sehingga spermatozoa dapat menembus lapisan-lapisan sel telur. Tempat utama terjadinya proses kapasitasi adalah pada ampula isthmus junction. Transport sel telur untuk menuju ampula isthmus junction dimulai pada saat menjelang ovulasi, pada saat itu estrogen dominan dan bersama oksitosin akan menyebabkan terjadinya derakan peristaltik yang aktif. Setelah terjadi ovulasi, sel telur akan ditangkap oleh fimbrae yang terdapat pada infundibulum dengan adanya gerak peristaltik tersebut, sel telur akan terdorong masuk hingga ampulla hingga mencapai ampula isthmus junction  (Mujahid dalam susari 2016 : 4).

  • Proses Penetrasi Sel Sperma kedalam Sel Ovum

Tempat terjadinya penyatuan ovum dengan spermatozoa adalah di dalam ampula dari tuba fallopii. Pada pertemuan ini, ovum masih terbungkus oleh sel-sel granulose yang berasal dari folikel dan selubung ovum (Puja dalam susari., 2016 : 3).

Proses penetrasi ovum yang terdiri dari tiga tahap (sadler : 2015 :34) , yaitu :

  1. Fase penetrasi Korona radiata
  2. Fase penetrasi Zona pelusida
  3. Penyatuan membrane sel oosit dan sperma

  • Penetrasi korona radiata
    Korona radiata merupakan bagian terluar dari ovum, untuk mempenetrasinya, tentu sperma berlomba-lomba dengan ratusan juta sperma lainnya (sekitar 200-300 juta sperma) karena hanya satu sperma yang dapat menembus korona radiate. Diperkirakan, sperma lainnya membantu spermatozoa yang membuahi untuk menembus sawar pelindung gamet wanita lainnya. Hanya sperma yang telah terkapasitasi lah yang dapat menembus korona radiate.
  • Penetrasi Zona Pelucida.
    Zona pelucida adalah selubung glikoprotein yang memudahkan spermatozoa mengadakan pengikatan dan reaksi akrosom. Dapat dikatakan, zona pelucida meruapakan lapisan kedua setelah korona radiata. Reaksi akrosom ini diperantarai oleh ligan ZP3, yaitu suatu protein zona pelucida yang berfungsi sebagai reseptor sperma.

    Pelepasan enzim akrosom (akrosin) akan memudahkan sperma menembus zona pelusida. Permeabilitas sperma ini akan berubah ketika spermatozoa berkontak dengan permukaan oosit. Kontak ini akan memacu oosit mensekresikan enzim lisosim yang akan mengubah sifat zona pelucida untuk mencegah penetrasi sperma dan menginaktifkan tempat-tempat reseptro spesifik untuk sperma lain di permukaan ini. Dapat dikatakan, saat satu sperma telah menembus zona pelucida, ovum akan mengondisikan agar tak ada sperma lain yang masuk.

  • Fusi membrane sel sperma dan oosit
    Setelah melekat, membrane plasma sperma dan sel telur menyatu dan melakukan reaksi-reaksi atau aktifitas lain yang akhirnya dapat menghasilkan zigot

  • Kendala yang dihadapi oleh sperma ketika menuju ovum

Masuknya sperma ke dalam tubuh betina tidak langsung menuju ovum, melainkan melewati beberapa kendala atau rintangan terlebih dahulu diantaranya :

1. Asam vagina mematikan sperma

Berdasarkan tipe kromosom kelaminnya, terdapat dua jenis sperma yang diproduksi testis pria, yaitu sperma tipe X (22A+X) dan tipe Y (22A+Y). Masing-masing memiliki karakteristik berbeda, salah satunya diketahui bahwa sperma tipe X lebih tahan terhadap keasaman vagina dibanding sperma tipe Y. Sehingga tak heran banyak sperma Y yang kemudian mati (meski cairan sperma sudah dilengkapi senyawa yang bersifat basa). Kondisi semacam ini kemudian disiasati melalu aktivitas foreplay (pemanasan) sebelum bercinta. Agar kondisi vagina menjadi lebih basah lalu basa, hingga sperma Y bisa ikut bertahan.

2. Mati kelelahan

Banyak faktor yang menyebabkan sperma mati sebelum bertemu ovum, bahkan jauh sebelum masuk ke rahim apalagi saluran telur. Meski kelenjar-kelenjar di tubuh wanita sudah turut membantu pergerakan sperma melalui produksi lendir (di vagina atau mulut rahim), tetap saja banyak sperma yang mati. Salah satu penyebabnya adalah kelelahan.

Sumber tenaga bagi pergerakan sperma sendiri berasal dari bagian leher/tengah yang banyak mengandung mitokondria (organel pembentuk energi/ATP). Sama halnya dengan manusia, kondisi fisik sperma tentu saja berbeda satu sama lain. Ada yang dianugerahi fisik kuat ada juga yang lemah. Nah, bagi sperma yang dianugerahi fisik lemah (terkait kemampuannya memproduksi energi), sangat memungkinkan mereka sudah mati kelelahan meski masih di awal perjalanannya. Kondisi sperma yang mati karena kelelahan ini terus berlangsung hingga tahap-tahap akhir menuju ovum.

3. Antibodi wanita memakan sperma

Bertolak belakang dengan kegembiraan sperma yang berhasil melewati mulut rahim, tubuh wanita justru menganggap kehadiran mereka sebagai ancaman. Ya, sperma yang masuk ke rahim, dideteksi sebagai benda asing yang secara otomatis akan ditanggapi tubuh wanita dengan pengeluaran antibodi (senyawa pertahanan). Antibodi ini selanjutnya akan “memakan” sperma-sperma dan tak heran ribuan sperma akan mati di tahap ini.

4. Salah jalan

Melalui siklus menstruasi wanita, bisa diambil kesimpulan bahwa tiap bulannya ovarium wanita (secara normal) akan melepas satu ovum. Ovum yang telah keluar (peristiwanya disebut Ovulasi) selanjutnya akan bergerak menuju saluran telur (tuba fallopi/oviduct). Saluran telur pada wanita terdiri dari bagian kiri dan kanan sesuai dengan keberadaan ovarium. Di sekitar satu per tiga bagian saluran telur tersebut (entah sebelah kiri atau kanan), ovum pun akan menunggu kedatangan sperma.

Sementara itu, dari satu kelompok sperma yang sudah berhasil melewati uterus/rahim, akan terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan menuju saluran telur sebelah kiri, sedangkan kelompok lain akan menuju saluran telur sebelah kanan. Dari sini bisa kita lihat bahwa meskipun dalam proses perjalanan sperma, ovum telah melepas senyawa kimia yang mampu menjadi sinyal deteksi keberadaannya, tetap saja ada banyak sperma yang harus gigit jari karena “salah jalan”. Menurut literatur, dari ratusan juta sperma yang dikeluarkan pria, hanya tersisa ribuan sperma yang bisa bertahan sekaligus tidak salah jalan menuju saluran telur di mana ada sel telur menunggu di sana.

5. Terperangkap silia pada saluran telur

Rintangan selanjutnya yang dihadapi sperma adalah keberadaan silia pada saluran telur. Pada saluran telur, silia terus bergerak menjuntai tak ubahnya sapuan-sapuan halus. Hal ini membuat pergerakan sperma pun menjadi terhambat. Tidak hanya itu, kehadiran silia juga membuat banyak sperma terjebak atau terperangkap. Tidak bisa bergerak lalu mati.

6. Lapisan pelindung ovum

Rintangan terhadap sperma juga datang dari sel telur itu sendiri. Di antaranya adalah adanya lapisan pelindung ovum yang tak ayal menyusahkan sperma untuk membuahinya, seperti:

  • Korona Radiata: merupakan lapisan ovum paling luar dan paling tebal. Bentuknya tampak seperti tonjolan-tonjolan menjuntai yang mampu menghalangi pergerakan sperma. Bahkan mampu membuat sperma tergencet. Alhasil, banyak sperma yang mati.
  • Zona Pellusida: lapisan pelidung ovum bagian tengah yang tebal.
  • Membran Vitellin: lapisan transparan di bagian dalam ovum.

Saat satu sperma sudah berhasil melewati ketiga lapisan pelindung ini, maka secara otomatis inti sel sperma akan mampu membuahi inti sel telur hingga terjadi fertilisasi. Saat satu sperma sudah masuk, maka ovum secara otomatis akan mengeluarkan semacam enzim yang mampu mencegah masuknya sperma-sperma lain.