Menjelaskan Pergeseran Pola Perubahan Iklim Di Indonesia dengan singkat

Pergeseran pola perubahan iklim di Indonesia disebabkan oleh efek rumah kaca akibat penggunaan bahan-bahan seperti CFC maupun meningkatnya gas-gas polusi kendaraan pada atmosfer. Akibatnya, timbul suatu fenomena yang disebut “Global Warming” atau meningkatan suhu global. Peningkatan suhu global diperkirakan memiliki laju 0.002 °C/tahun atau 0.02 °C/dekade.

Menurut Firman (2009) kondisi udara di Indonesia menjadi lebih panas sepanjang abad dua puluh, yaitu suhu udara rata-rata tahunan telah bertambah kira-kira 0,30 C. Perubahan pola curah hujan di Indonesia akan mengarah pada terlambatnya awal musim hujan dan kecenderungan lebih cepat berakhirnya musim hujan (Naylor 2006)

  • Fenomena – fenomena perubahan iklim di Indonesia

Pergeseran pola perubahan iklim di Indonesia terjadi semakin parah dari hari ke hari. Perubahan pola terjadi pada aspek curah hujan, suhu bumi, dan tinggi muka laut. Pergeseran pola curah hujan dapat berupa peningkatan curah hujan maupun penurunan curah hujan. Peningkatan curah hujan menyebabkan bencana lain seperti banjir dan tanah longsor.

Penurunan curah hujan dapat menimbulkan kekeringan dan menyebabkan penurunan ketersediaan air. Di lain pihak, perubahan suhu bumi diperkiran meningkat dan pada tahun 2020-2050 akan mencapai peningkatan 0.8–1°C relatif terhadap periode iklim terakhir di abad ke-20. Perubahan suhu ini dapat menimbulkan ancaman bagi ekosistem, dapat menimbulkan kebakaran hutan, dan dapat menimbulkan evaporasi berlebihan pada tumbuhan.

Perubahan juga terjadi pada tinggi muka laut. Tinggi muka laut mengalami kenaikan sebesar 7 mm/tahun pada periode 1993-2008. Diprediksikan tinggi muka laut akan meningkat 35-40cm pada tahun 2050 dibanding pada tahun 2000. Dampak yang ditimbulkan dari kenaikan muka lau adalah terancamnya kehiduoan pesisir, terjadi peningkatan genangan air, abrasi pesisir, dan intrusi air laut.

  • Upaya mitigasi dan adaptasi menghadapi perubahan iklim

Dalam menghadapi pergeseran perubahan pola iklim ini, pemerintah terutama pada sektor kementrian, BNPB, BPPT dan LIPI , mengambil upaya dalam hal mitigasi dan adaptasi. Selain itu, pemerintah juga berperan aktif dalam perjanjian-perjnjian internasional seperti meratifikasi UNFCC 1994 dan Kyoto Protocol 2004.

Untuk upaya dalam negeri, pemerintah meluncurkan Indonesian Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR) 2010-2030 untuk menguatkan upaya adaptasi dan mitigasi yang akan dilakukan. Upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah antara lain peningkatan efisiensi penggunaan energi pada kawasan terbangun di kota, peningkatan penggunaan sumber energi alternatif, dan pengembangan sistem transportasi massal dengan sumber energi alternatif yang bertujuan mengurangi penambahan kendaraan pribadi.

Di sisi lain, upaya adaptasi yang dilakukan pemerintah adalah meningkatkan sistem drainase kota untuk antisipasi peningkatan debit air hujan, meningkatkan sistem pengendalian banjir, perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang/guna lahan, meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi penggunaan air untuk rumah tangga maupun industri, dan meningkatkan pemanfaatan sumber air alternatif seperti air hujan.