Menjelaskan Pengobatan dan Terapi Helicobacter Pylori dengan singkat

Terapi Eradikasi

Laporan  uji klinis terapi  infeksi Hp di Indonesia  pada mulanya menggunakan monoterapi menggunakan preparat bismuth dengan  tujuan supresi dan bukan  eradikasi. Dewasa  ini  regimen terapi  yang digunakan adalah  terapi

Tabel 2. Peran infeksi HP Pada berbagai penyakit gastroduodenal

Faktor Etiologi utama

Prevalensi

Tukak duodenum 100%
Tukak lambung 80-90%
Gastritis Kronik 40%

kombinasi  antara penghambat  pompa  proton dengan dua atau  tiga macam antibiotik. Pertemuan  konsensus nasional penatalaksanaan infeksi Helicobacter pylori di Jakarta  pada bulan  Januari 2003 menganjurkan  regimen  terapi  sebagai berikut:

Terapi lini pertama / terapi tripel
• Urutan Prioritas

  1. PPI +Amoksisilin + klaritromisin
  2. PPI + Metronidazol + klaritromisin
  3. PPI + Metronidazol + tetrasiklin

Pengobatan dilakukan selama 1 minggu
• Dosis

  1. Proton Pump Inhibitor
    Omeprazole 2x20mg
    Lansoprazole 2x30mg
    Rabeprazole 2x l0mg
    Esomeprazole 2x20mg
  2. Amoksisilin :2x l000mg/hari
  3. Klaritromisin :2x500mg/hari
  4. Metronidazol : 3x500mg/hari
  5. Tetrasiklin : 4x250mg/hari

Terapi lini kedua / terapi kuadrupel

Terapi lini kedua  dilakukanjika  terdapat  kegagalan  pada lini pertama. Kriteria  gagal : 4 minggu  pasca terapi, kuman H. Pylori tetap positif berdasarkan pemeriksaan  I-IBT/ HpSA  atau histopatologi.

  • Urutan prioritas
    – Collodial bismuth subcitrate +PPl+ Amoksisilin +klarihomisin
    – Collodial bismuth subcitrate + PPI + Metronidazol+ Klaritromisin
    – Collodial bismuth subcitrate +PPI + Metronidazol+ TetrasiklinPengobatan dilakukan selama I minggu.
  • Dosis collodial bismuth subcitrate.’ 4 x 120 mg Bila terapi lini kedua gagal, sangat dianjurkan pemeriksaan kultur dan resistensi H. Pylori dengan media transport MIU.
  • Regimen antibiotika yang baru

Timbulnya  resistensi  terhadap  antibiotika menyebabkan  kesulitan dalam  pemilihan  regimen terapi lini kedua. Oleh karena  itu, seleksi  terapi lini pertama harus sudah mempertimbangkan  pula  pilihan  regimen terapi  lini kedua yang mungkin  akan diimplementasikan bila regimen  terapi  lini pertama  gagal. Regimen  terapi dengan  efektivitas eradikasi > 80% yang  dianjurkan untuk digunakan  pada praklek klinis. Pada pasien-pasien  yang gagal dengan  regimen terapi dengan  basis klaritromisin,  regimen kombinasi  terdiri dari  lansoprazol  2×30 mg, amoksisilin  2 x I gram, dan levofloksasin 2 x 200 mg Dilaporkan menunjukkan eradikasi  69%.  Levofloksasin  dapat pula diberikan dengan  dosis  I x 500 mg. Kombinasi  lain yang dilaporkanefektif  adalah  PPI bid, rifabutin  300 mg qd (lx sehari), dan amoksisilin  2 x I gram. Dhekomendasikan  untuk menggunakan  kombinasi PAC (PPI  – Amoxycillin- Clarithromycin) sebagai  terapi  lini pertama, dan bila gagal  dapat dilanjutkan dengan  terapi kuadrupel  seperti P-BMT  (PPl-Bismuth-Metronida- zole-Tetracyclln).  Namun, pada komunitas  dengan prevalensi  tinggi resistensi  terhadap makrolid (> 20% resisten  terhadap klaritromisin),  terapi  lini pertama sebaiknya  terapi  kuadrupel.  Studi metanalisis  terapi kuadrupel sebagai  terapi  lini pertama menunjukkan tingkat  eradikasi  lebih dari 85%, bahkan pada area dengan  resistensi  terhadap metronidazol  yang  tinggi, dan 69% lebih  efektif dibandingkan  PAC pada keadaan terdapat  resistensi  terhadap  klaritromisin.  Analisa  cost effective  terapi  tripel atau  terapi kuadripel tampak serupa,  namun terapi  kuadrupel  tampaknya sedikit  lebih cost-effective.

Fluoroquinolon  atau Rifabutin dalam  kombinasi bersama amoksisilin  dan PPI menunjukkan  hasil  yang menjanjikan.  Terapi dengan  fufabutin  2 x 150 mg, Amoksisilin 2 x I gram, dan om eprazol2  x20 mg selama 14 hari menunjukkan   eradikasi  7 2oh padapasien-pasien yang gagal dengan  kombinasi terapi PAC dan P-BMT. Terapi  lini pertama  dengan LAE,  yaitu  levofloksasin 1 x 500 mg, azitromisin I kali 500 mg, dan esomeprazol 2x 20 mg selama 7 hari  lebih efektif (93,3%)  dibandingkan terapi standar tripel EAC  (70%). Terapi lini kedua helicobacter  pylori RLA, yaitu  rabeprazol2  x20 mg, levofloksasin  I x 500 mg, dan amoksisilin  2 x I gram selama  12 hari sama  efektiftya denganterapi  kuadrupel R-BMI namun lebih ditoleransi  dengan baik  dan menunjukkan  compliance  serta  tingkat  kepatuhan minum  obat  yang tinggi. Terapi  tripel selama  10 hari dengan  levofloksasin, esomeprazol, amoksisilin  / azitromisin  lebih efektif (86,6% /80%)  dibandingkan regimen klasik E-BMT (71,4%) dan menunjukkan compliance  yang lebih baik.

Kriteria Keberhasilan Terapi Eradikasi

Empat minggu setelah terapi selesai, dilakukan pemeriksaan UBT/HpSA atau histopatologi. Jika UBT negatif atau PA negatif  terapi dianggap berhasil  (sembuh).

Terapi  kombinasi  tersebut dianjurkan untuk diberikan selama  satu minggu. Mengingat cepatnya  terjadi resistensi Hp terhadap antibiotik,  kiranya perlu diadakan penelitian pola  resistensi  di Indonesia secara  berkala  agar  dapat menjadi dasar pilihan antibiotik yang  tepat. Masalah  lain adalah penilaian  keberhasilan  eradikasi yang harus menggunakan  metoda diagnostik  yang paling peka dan non  invasif,  terutama  untuk  penelitian  epidemiologis. Selain  standar  emas  kultur mikrobilogi agaknya pemeriksaan  tes Pernapasan urea (urea breath  test  l3C atau l4C) perlu diadakan  dan digunakan  secara meluas.

Dari  segi biaya,  regimen  terapi  dengan  eradikasi  lebih dari 90 % akan menyembuhkan tukak peptik,  tanpa perlu terapi pemeliharaan  sehingga  leblh cost effective dibandingkan  dengan  terapi  konvensional.  Terapi  tripel pada  awalnya jelas  lebih mahal,  tetapi  dalam  jangka panjang akan  lebih murah. apalagi  bila diperhitungkan  peningkatan kualitas hidup,  terbebas  dari keluhan dan gangguan penyakit.

Yang dimaksudkan  eradikasi  adalah  hilangnya kuman pada  pemeriksaan  4 minggu pasca  terapi  yang dibuktikan dengan metoda yang paling akurat. Dalam perkembangamya  dikenal  terapi mono,  dual,  tripel dan kuadripe  (tabel2). Dewasa ini dianjurkan  adalah  terapi kombinasi  dengan  penyembuhan  lebih dari 90%.

Kesepakatan yang dirumuskan dalam  konsensus nasional merupakan petunjuk yang dapat digunakan bersama,  sekaligus memberikan  kemungkinan  untuk mendapat  data penelitian  yang bersifat  nasional  tentang infeksi  Helicobacter  pylori  di Indonesia. Pola  terapi  ideal  yang mencakup efektivitas,  keamalan, kepatuhan  dan cost effectiveness mungkin belum  ada,  tetapi harus diupayakan  terapi optimal yang sesuai dengan lingkungan  dan kondisi  pasien.

Tabel 3. Terapi Eradikasi Helicobacter Pylori

Jenis Terapi                                                    

 

            Eradikasi

Terapi Mono

 

 

Bismuth subsalisilat 5-10%
Colloidal bismuth subcitrate  (BSS) 10-25%
Amoksisilin 15-25%
Klaritromisin 50%
lnhibitor  pompa proton  (lPP) 0-15%
 

Terapi Dual

Bismuth/amoksisilin 30-60%
Bismuth/metronidazol 30-60%
Amoksisilin/metronidazol 55-95%
IPP/Amoksisilin 55-95%
IPP/klaritromisin 70-90%
Ranitidin bismuth sitrat 70-80%
Terapi Tripel

 

Bismuth/metro/tetra 80-95%
IPP/metro/amoksilin atau klaritromisin 70-95%
I PP/amoksilin/klaritromisin

 

70-90%
Ranitidin/bismuth sitraVamoksilin,klaritromisin

 

80-90%
Terapi Kuadrupel
Bismuthimetro/tetra/l PP >90%