Menjelaskan Penggunaan Kuesioner dan Angket dengan singkat

Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data. Memang kuesioner baik, asal cara dan pengadaanya mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian.

Prosedur Kuesioner :

  1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner
  2. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
  3. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih spesifik dan tunggal.
  4. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan teknis analisisnya.

Penentuan sampel sebagai responden kuesioner perlu mendapat perhatian pula. Apabila salah menentukan sampel, informasi yang kita butuhkan barangkali tidak kita peroleh secara maksimal. Kita ambil contoh, Kita menghendaki data tentang khasiat obat-obatan tradisional, termasuk jamu yang diminum.

Kita sebarkan angketbkepada sejumlah gadis yang yang kita perkirakan senang minum jamu supaya kelangsingannya terjamin. Ternyata dijawab karena responden yang kita pilih ternyata tidak suka rasa pahit. Mereka memilih tubuh ramping daripada harus setiap kali minum jamu.

Contoh serupa dapat diterapkan kepada sejumlah pemuda apabila peneliti ingin mengetahui pendapat pemuda tentang bentuk kumis dan perawatannya. Ternyata sampel yangdiambil banyak pemuda yang tidak suka memelihara kumis. Itulah sebabnya perlu adanya studi pendahuluan, seperti dijelaskan dalam langkah kedua.

Angket anonim memang ada kebaikannya karena responden bebas mengemukakan pendapat. Akan tetapi penggunaan angket anonim mempunyai beberapa kelemahan pula.

Kelemahan Angket Anonim

  1. Sukar ditelusuri apabila ada kekurangan pengisian yang disebabkan karena responden kurang memahami maksud item.
  2. Tidak mungkin mengadakan analisis lebih lanjut apabila peneliti ingin memecah kelompok berdasarkan karakteristik yang diperlukan.

enelitian yang dilakukan oleh Francis J. Di Vesta memberikan gambaran hasil bahwa tidak ada perbedaan ketelitian jawaban yang diberikan oleh orang dewasa, baik yang anonim maupun yang bernama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perlu tidaknya angket diberi nama adalah:

Faktor-faktor angket diberi nama

  1. Tingkat kematangan responden.
  2. Tingkat subjektivitas item yang menyebabkan responden enggan memberikan jawaban
  3. Kemungkinan tentang banyaknya angket.
  4. Prosedur (teknik) yang akan diambil pada waktu menganalisis data.

Untuk memperoleh kuesioner dengan hasil mantap adalah dengan proses uji coba. Sampel yang diambil untuk keperluan uji-coba haruslah sampel dari populasi dimana sampel penelitian akan diambil.

Dalam uji coba, responden diberi kesempatan untuk memberikan sarana-sarana perbaikan bagi kuesioner yang diuji cobakan itu. Situasi sewaktu uji coba dilaksanakan harus sama dengan situasi kapan penelitian yang sesungguhnya dilaksanakan.

Salah satu kelemahan metode angket adalah bahwa angketnya sukar kembali. Apabila demikian keadaannya maka peneliti sebaiknya mengirim surat kepada responden yang isinya seolah-olah yakin bahwa sebenarnya angketnya akan diisi tetapi mempunyai waktu. Surat yang dikirim itu hanya sekedar mengingatkan.