Menjelaskan Pengaruh Sosial Suku Wana dengan singkat

Sebagaimana suku-suku pedalaman lainnya, Suku Wana juga menjalankan pola hidup yang secara simbolik terkait dengan upaya menjaga keharmonisan hubungan dengan para leluhur mereka. Satu hal yang paling menonjol dari upaya tersebut adalah dengan menjaga setiap jengkal tanah yang diwariskan oleh leluhur mereka. Dalam keyakinan Suku Wana, tanah (tana poga’a) diciptakan oleh Pue (Tuhan) adalah tidak lain untuk menjadi tempat hidup leluhur pertama mereka. Jadi, tanah tempat hidup mereka sekarang ini adalah tanah yang diberikan oleh Pue kepada nenek moyang mereka, yang selanjutnya diwarisi oleh Orang Wana saaat ini untuk dijaga kelestariannya. Jika tanah tersebut sampai rusak atau berubah fungsi, maka Pue dan leluhur mereka akan murka dan segera mendatangkan bencana alam seperti tanah longsor dan kebakaran hutan. Dalam kehidupan sehari-hari, Suku Wana menyebut tanah warisan leluhur mereka dengan “tana ntautua” atau tanah para leluhur (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).

Keyakinan tentang kekeramatan tentang tana ntautua begitu melembaga dalam kehidupan Suku Wana hingga sekarang ini. Hal ini membuat Suku Wana selalu menolak setiapkali pemerintah berniat memindahkan (resettlement) mereka menuju kawasan pemukiman yang menurut pemerintah labih layak. Bagi Suku Wana, resettlement tersebut adalah sebuah pemaksaan untuk membuat mereka durhaka kepada leluhur, karena tidak lagi menjaga dan mempertahankan tana ntautua (Camang, Nunci, dan Tampobolan, 2005).

Keteguhan menjaga tana ntautua tersebut juga yang melahirkan implikasi-implikasi simbolik yang bagi Suku Wana telah menjadi semacam hukum adat yang harus dipenuhi. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Menebang pohon berakibat pada petaka

Dalam keyakinan Suku Wana, pohon berfungsi sebagai perekat tanah leluhur. Jika pohon ditebang secara berlebihan, maka tanah enjadi tidak rekat lagi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya bencana alam. Dengan demikian, dalam memaknai fungsi pohon, Suku Wana memiliki kesamaan dengan kaum konservasionis yang juga menganggap pohon berfungsi sebagai perekat tanah. Hanya saja keduanya memiliki alasan yang berbeda. Jika kesimpulan kaum konservasionis itu merujuk pada ilmu ekologi modern, maka kesimpulan Suku Wana merujuk pada cerita tentang kaju paramba’a. Tentu adat Suku Wana menjelaskan cerita kaju paramba’a sebagai berikut :

kaju kele’i dan kaju paramba’a adalah kayu yang sengaja ditancapkan oleh Pue (Tuhan) tidak saja untuk melindungi leluhur Suku Wana tetapi juga untuk mengikat tanah leluhur atau tana ntautua agar kuat dan terus menyatu. Tapi karena kaju paramba’a kemudian ditebang oleh ngga, akibatnya timbul bencana tanah longsor, sehingga tana ntautua terpecah menjadi pulau-pulau. tana ntautua yang dulunya luas menjadi sempit. Setelah kaju paramba’a ditebang, maka yang sudah sempit akan menjadi semakin sempit.” (dalam Abubakar dan Camang, 2004).

Selain tanah dan kayu, satu komponen lagi yang menurut Suku Wana harus dilindungi adalah sungai. Pohon-pohon besar (kaju), tanah (tana), dan sungai (ue) adalah kesatuan yang saling terkait. Kesatuan itulah yang oleh Suku wana kemudian disebut sebagai hutan atau pangale. Jika salah satu unsur pangale tersebut dirusak, maka keseimbangan kesatuan tersebut akan rusak. Untuk itu, menurut keyakinan Suku Wana, jika manusia ingin kehidupannya di dunia ini terhindar dari bencana, maka mereka harus mampu menjaga kelestarian pangale nya (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).

Baca Juga : 

  1. Pangale “Orang tua” yang harus dilindungi

Makna simbolik lain yang juga melembaga sampai saat ini di kalangan Suku Wana sebagai hasil dari penafsiran terhadap cerita kajuparamba’a adalah “hutan sebagai orang tua”. Hal ini pernah disampaikan oleh Jeo, pemula adat dari Lipu Mpoa, dalam acara “Lokakarya dan Dialog Nasional Promosi Sistem Hutan Kerakyatan,” di Jakarta tanggal 3 – 7 Juli 2010. Ketika itu, Jeo yang biasa dipanggil Apa Inse, memaparkan :

“Istilah hutan bagi kami adalah Pangale. Dia adalah ibu bagi masyarakat kami. Kenapa hutan itu kami jaga karena hutan (pangale) adalah ibu kami. Dalam melakukan kapongo (membuka hutan), kami bikin upacara adat, karena itu termasuk memindahkan nyawa ibu. Navu (kebun) kami akan hidup karena dalam lindungan ibu (pangale)… kami marah pada HPH karena merusak hutan. Kami yang pelihara hutan justeru dianggap merusak” (dalam Camang, Nunci, dan Tampubolon, 2005).

  1. Pangale : Tempat Keramat

Selain memaknai hutan berdasarkan penafsirannya terhadap cerita kaju paramba’a, komunitas Suku Wana juga memiliki pemahaman tentang hutan berdasarkan keyakinannya terhadap pandangan dunianya (kosmologi). Dari pandangan dunia ini, mereka kemudian menafsirkan hutan (pangale) sebagai tempat sakral (keramat) yang mesti diperlakukan secara religio magis.  Suku Wana percaya bahwa terdapat tiga jenis kekuatan roh yang menjaga hutan, yaitu roh-roh suci (malindu maya, malindu oyo, lamba jadi) roh-roh jahat (walla), dan arwah-arwah manusia (rate). Menyebut nama roh-roh ini adalah pantangan bagi Suku Wana ketika mereka berada di dalam hutan, kecuali sedang meakukan ritual-ritual tertentu (Camang, Nunci, dan Tampubolon, 2005). Keyakinan akan adanya roh penunggu hutan tersebut membuat Suku Wana memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pelestarian kawasan hutan. Sebab, jika hutan dirusak, roh-roh penunggu hutan akan marah, dan selanjutnya akan mendatangkan malapetaka kepada manusia yang merusak hutan tersebut.