Menjelaskan Penangkapan DI/TII Pusat dengan singkat

Sebelumnya perlu diketahui bahwa penumpasan DI dilakukan oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Sebenarnya berkaitan dengan Gerakan Darul Islam yang kemunculannya bersamaan dengan agresi Militer II, TNI sendiri memiliki rencana tertentu untuk menghadapi agresi militer Belanda II. Dimana TNI menyusun rencana umum yang terkenal dengan nama Perintah Siasat No.1 atau instruksi Panglima Besar pada November 1948 yang telah mendapat pengesahan dari Pemerintah RI. Rencana ini didasarkan atas peraturan pemerintah No. 33 tahun 1948 dan peraturan pemerintahan No 70 tahun 1948. Gerakan TNI atas perintah ini lebih dikenal dengan sebutan Wingate TNI.

Berkaitan dengan hal itu, Divisi Siliwangi juga memulai gerakan Wingate-nya, pada tanggal 19 Desember 1948, setelah mendengar Perintah kilat dari Panglima Besar Sudirman yang merupakan perintah bergerak menyusun Wehrkreise-wehkreise di tempat-tempat dalam perintah Siasat No.1, seperti telah disinggung di muka yang antara lain, mengatur :

  1. Cara perlawanan, ialah bahwa kita tidak lagi akan melakukan pertahanan liniar
  2. Melakukan siasat /politik bumihangus
  3. Melakukan pengungsian atas dasar politik non-kooperasi.
  4. Pembentukan Wehkreise-wehkreise.

Perintah kilat ini disambut dengan gembira oleh anak-anak Siliwangi yang bagaimanapun juga sudah sangat merindukan kampung halaman mereka di Jawa Barat. Letnan Kolonial Daan Yahya, Kepala Staf Divisi segera pergi ke Istana untuk melaporkan, bahwa Siliwangi akan memulai gerakan kembali ke Jawa Barat sebagaimana yang telah ditentukan dalam perintah siasat No.1.

Kemudian, TNI, Divisi Siliwangi, memulai long march-nya berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Hal ini kemudian dianggap oleh pihak Kartosuwirjo sebagai ancaman bagi kelangsungan dan cita-cita Kartosuwirjo untuk membentuk Negara Islam. Maka dari itu Pasukan tersebut harus dihancurkan agar tidak memasuki daerah Jawa Barat. Pada tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata utuk pertama kalinya antara pihak TNI, Divisi Siliwangi dan Tentara Islam Indonesia. Bahkan pada akhirnya terjadi perang segitiga antara DI/TII-TNI-Tentara Belanda.

Pemimpin Masyumi sendiri Moh. Natsir, yang menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Hatta pada tanggal 29 Januari sampai awal agustus 1949, berusaha menghubungi Kartosuwirjo melalui sepucuk surat pada tanggal 5 Agustus 1949. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah timbulnya keadaan yang semakin buruk. Dikarenakan kemelut ini mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Jawa Barat. Bahkan banyak orang-orang tak berdosa tewas pada pertikaian ini. Moh. Natsir juga kemudian membentuk sebuah komite yang dipimpin oleh dirinya sendiri di bulan September 1949, sebagai upaya kedua untuk mengatasi hal ini. Namus sekali lagi ia gagal.

Operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII dimulai pada tanggal 27 Agustus 1949. Operasi ini  menggunakan taktik “Pagar Betis” yang dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat berjumlah ratusan ribu untuk mengepung gunung tempat gerombolan bersembunyi. Taktik ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak mereka. Selain itu, juga dilakukan operasi Tempur Bharatayudha dengan sasaran menuju basis pertahanan mereka. Walaupun demikian, operasi penumpasan ini memakan waktu yang cukup lama. Baru pada tanggal 4 Juni 1962, Kartosuwirjo terkurung dan berhasil ditangkap di Gunung Geber di daerah Majalaya oleh pasukan Siliwangi. Yang kemudian selanjutnya ia diberi hukuman mati.