Menjelaskan Nasionalisme Kartini dengan singkat

Nasionalisme merupakan sebuah ekspresi emosional antara warga negara dengan tanah dimana tempat dia dilahirkan. Oleh karenanya gejala timbulnya nasionalisme merupakan suatu gejala yang wajar, dimana secara psikologis ada hubungan emosional yang signifikan antara warga negara dengan wilayah negaranya. Namun pengertian nasionalisme menemukan momentumnya pada awal abad ke-20 yaitu ketika pengertian nasionalisme ditempatkan sebagai antithesis dari imperialisme dan kolonialisme.

Nasionalisme dapat digolongkan dalam dua arti. Pertama dalam arti negatif yang diartikan sebagai sikap keterlaluan, sempit, congkak dan sombong. Dalam hal ini, imperialisme-kolonialisme merupakan manifestasi dari pengertian tersebut. Kedua nasionalisme dalam pengertian positif sebagai ekspresi dari sikap untuk mempertahankan kemerdekaan dan harga diri bangsa dan sekaligus menghormati bangsa lain. Pengertian kedua merupakan sikap positif seorang warga negara yang memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap keadaan bangsanya. Dalam pengertian yang positif, nasionalisme dapat diartikan sebagai suatu paham yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu atau sekelompok individu kepada negara. Dalam kaitan tersebut, Ruslan Abdulgani mengemukakan bahwa nasionalisme dianggap sebagai sebuah ajaran, ideologi, kepercayaan, keyakinan, bahkan dianggap semacam agama baru.

Nasionalisme Kartini dapat dilacak dari pemikirannya yang terdapat dalam surat-suratnya. Nasionalisme Kartini merupakan refleksi sosial yang kritis dari seorang wanita Indonesia yang didasarkan pada religieusiteit, wijsheid en schoonheid (ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan) ditambah dengan humanitarianisme (kemanusiaan) dan nasionalisme. Nasionalisme yang tampak dalam pandangan Kartini dapat dikategorikan sebagai sebagai nasionalisme universal dalam arti gagasan-gagasan yang diungkapkan mengandung nilai-nilai universal, seperti pendidikan, persamaan derajat, dan solidaritas sosial.

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada tanggal 12 Januari 1900, Kartini mengutip pandangan ayahnya dalam sebuah nota yang dikirimkan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai berikut, ”Father says in his note that the government can’t set the rice upon the table for every Javanese, and see that he partakes of it. But it can give him the means by which he can reach the place where he can find the food. The means is education. When the government provides a means of education for people, it is as though it placed torches in their hands which enabled them to find the good road that leads to the place where the rice is served. From it you will learn something of the present condition of the people. … Father wishes to do everything that he can to help the people and needless to say, I am on his side”22 Kartini memang selalu mengungkapkan gagasan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan derajat bangsanya.

Disamping itu Kartini juga mengingatkan pentingnya persatuan bagi bangsa Indonesia serta mengajak untuk menggalang persatuan diantara kalangan muda Indonesia baik pria maupun wanita. Hal ini terungkap dalam suratnya kepada kepada Ny. Abendanon pada tanggal 30 September 1901. “The young guard, regardless of sex, should band themselves together. We can each of us do something unaided, towards the uplifting and civilizing of our people, but if we were united our strength would be multiplied many times. By working together we could gather a goodly store offruit. In union there is strength, and power.

Sementara itu sisi humanitarianisme yang melekat dari diri Kartini tampak dalam ungkapannya dimana ia ingin dipandang sebagai individu yang sama dengan orang lain. Kartini merasa tidak berbeda dengan rakyat biasa yang sama-sama hidup dibawah penjajahan. Bahkan kartini ingin dipanggil Kartini saja, tanpa ditambah dengang embel-embel Raden Adjeng. Hal ini terungkap dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada tanggal 17 Mei 1902. Dalam suratnya tersebut, Kartini menulis, “… For the first time, my name would come out openly in connection with my people. I am proud of that, Stella to be named in the same breath with my people. 24 Kartini tidak mau dianggap jauh di atas orang lain, lebih- lebih di atas insan yang sering disebut dengan rakyat jelata. Barangkali, ini merupakan dampak dari perkenalannya dengan Stella Zeehandelaar melalui korespodensinya. Seperti diketahui Stella Zeehandelaar merupakan sosok gadis yang demokratis karena berada dilingkungan masyarakat Barat yang demokratis, disamping ia merupakan anak orang biasa.

Humanitarianisme Kartini merupakan refleksi kritis dari stratifikasi sosial yang hierakhis akibat konstruk budaya yang feodalistik. Gagasan ini merupakan embrio dari munculnya ide persamaan derajat atau yang dikenal dengan emansipasi dimana wanita sudah selayaknya ditempatkan pada proporsi yang semestinya. Pada sisi yang lain pemikiran tersebut juga mencerminkan adanya solidaritas sosial antara bangsa-bangsa yang sedang dijajah oleh bangsa asing. Apalah artinya memiliki darah bangsawan, dihormati, hidup mewah dan lain sebagainya, apabila ia juga sama-sama berada dibawah penguasaan bangsa lain. Arti dari semua itu adalah sebuah realitas bahwa bangsawan dan rakyat jelata berada dalam posisi yang sama, yaitu sama-sama dikuasai bangsa asing.

Kartini sadar bahwa untuk mencapai cita-citanya tentang persatuan dan persamaan derajat manusia tersebut diperlukan perjuangan yang keras melalui pendidikan. Oleh karenanya minat Kartini dalam masalah pendidikan demikian besarnya. Keterbelakangan yang dihadapi bangsa Indonesia pada saat itu disebabkan oleh ketidaktahuan rakyat tentang cara mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya seperti soal pangan, kesehatan, ataupun pendidikan bagi anak-anak.