Menjelaskan Model – Model Perubahan Identitas Etnis dengan singkat

Pada dasarnya identitas etnik muncul bila dua atau lebih kelompok etnik berhubungan. Pada masa lalu terdapat berbagai model tentang tabiat dan proses transformasi identitas etnik, terutama model akulturasi dan model asimilasi yang kadang-kadang dipertukarkan. Asimilasi cenderung sejajar dengan hilangnya etnisitas, sementara pluralisme budaya cenderung menonjolkan kesinambungan etnisitas (Kim, 1988:30).

Asimilasi merujuk pada “sejauh mana suatu kelompok yang semula khas telah kehilangan identitas subjektifnya dan telah terserap kedalam struktur sosial suatu kelompok lain. Memang, akulturasi adalah suatu prasyarat, atau sekurang-kurangnya seiring dengan asimilasi karena bagaimana mungkin seseorang kehilangan perasaan khasnya dan sepenuhnya diterima suatu kelompok lain kecuali bila ia lancar dalam bahasa dan budaya kelompok penerima.

Konsep akulturasi dan konsep asimilasi bermula dari dan berkembang di Amerika Serikat. Perbedaan diantara dua proses itu adalah bahwa akulturasi merupakan proses dua arah, sedangkan asimilasi merupakan proses satu arah.

Sejak definisi yang autoritatif muncul, banyak ahli mengemukakan definisi akulturasi. Banyak definisi mengandung interpretasi serupa, yaitu bahwa akulturasi adalah suatu bentuk perubahan budaya yang diakibatkan oleh kontak kelompok- kelompok budaya, yang menekankan penerimaan pola-pola dan budaya baru dan ciri-ciri masyarakat pribumi oleh kelompok- kelompok minoritas.