Menjelaskan Menghitung Nilai Persediaan Akhir Barang Jadi dengan singkat

Salah satu informasi yang dsajikan dala anggaran produksi adalah kualitas persediaan barang jadi yang akan dipegang oleh persediaan diakhir periode atau yang biasa kita kenal sebagai persidiaan akhir barang jadi. Perhitungan biaya persediaan akhir barang jadi memerlukan informasi tentang asumsi arus biaya persediaan yang digunakan oleh perusahaan.

Baca Juga : 

Dua asumsi arus biaya persediaan yaitu:

  1. FIFO (first in, first out)

Metode FIFO bahwa biaya persediaan barang jadi yang diproduksi pertama kali dalam 1 periode akan menjadi beban pokok penjualan untuk barang jadi yang dijual pertama dalam periode yang sama. Jika perusahaan menggunakan metode FIFO, maka biaya persediaan barang jadinya berasal dari persediaan barang jadi ang terakhir dibuat dalam 1 periode.

  1. AVERAGE

Metode AVERAGE mengasumsikan bahwa biaya persediaan barang jadi adalah biaya rata-rata yang diperoleh dari biaya produksi yang dikeluarkan dalam suatu periode dan biaya persediaan barang jadi awal yang sudah diawal periode.

Contoh:

Total biaya persediaan barang jadi pada 1 juli 2008 adalah Rp 4.000.000 atau Rp 2.000.000 per unit. Biaya produksi per unit untuk setiap barang jadi yang diproduksi di bulan juli 2008 adalah Rp 220.000.

Berdasarkan anggaran produksi dan informasi tentang biaya persediaan per unit PT ABC, hitunglah biaya persediaan akhir barang jadi dengan menggunakan metode arus biaya:

  1. FIFO
  2. AVERAGE