Menjelaskan Mekanisme Sistem Kekebalan Tubuh dengan singkat

Pada umumnya, mekanisme sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi 2, yaitu :

a. Pertahanan Nonspesifik (Alamiah)

Pertahanan Nonspesifik merupakan imunitas bawaan sejak lahir, berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada individu sehat dan siap mencegah serta menyingkirkan dengan cepat antigen yang masuk ke dalam tubuh. Pertahanan nonspesifik meliputi pertahanan fisik, kimia, dan mekanis terhadap agen infeksi; fagotosit; inflamasi; serta zat antimikroba nonspesiif yang diproduksi tubuh.

  1. Pertahanan Fisik, Kimia, dan Mekanis Terhadap Mekanisme Terhadap Agen Infeksi
  • Kulit yang sehat dan utuh, menjadi garis besar pertahanan pertama terhadap antigen. Sebaliknya, kulit yang rusak atau hilang akan meningkatkan resiko infeksi.
  • Membran mukosa, yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh, menyekresikan mukus sehingga dapat memerangkap antigen, serta menutup jalannya ke sel epitel.
  • Cairan tubuh yang menganudng zat kimia antimikroba.
  • Pembilasan oleh air mata, saliva dan urine.
  1. Fagositosis

Fagositosis emrupakan garis pertahanan ke- 2 bagi tubuh terhadap agen infeksi. Fagositosis meliputi proses penelaan dan pencernaaan mikroorganisme dan toksin yang berhasil masuk ke dalam tubuh, ini dilakukan oleh jenis sel darah putih tertentu. Sel darah putih (leukosit) terdiri atas monosit, neutrofil dan eousinofil. Neutrofil adalah sel darah yang terbanyak dalam leukosit, yaitu sekitar 70%. Neutrofil bekerja dengan memasuki jaringan yang telah terinfeksi, kemudian memakan dan merusak mikroba yang terdapat di sana. Sel-sel yang terinfeksi oleh mikroba akan mengeluarkan sinyal kimiawi sehingga menarik neutrofil untuk datang. Proses tersebut disebut dengan kemotaksis.

Monosit hanya menyusun 5% dari leukosit. Cara kerja monosit hampir sama denga neutrofil. Perbedaanya, monosit akan menjadi makrofag setelah masuk ke dalam jaringan. Makrofag merupakan sel fagotosis yang terbesar. Sel makrofag ini memilikki kaki semu (pseudopodia). Pseudopodia ini berfungsi untuk melekatkan diri pada mikroba. Mikroba yang menempel pada pseudopodia ini akan ditelan dan kemudian dirusak oleh enzim-enzim  lisosom mikrofag.

Makrofag dapat dibedakan menjadi bebrapa jenis, yaitu:

  1. Makrofag jaringan ikat (histiosit) merupakan makrofag yang menetap atau berkeliaran.
  2. Markofag dan psekursornya (monosit) yang berdifusi untuk membentuk sel raksaa asing (sel multilateral) sebagai pertahanan di anttara massa benda asing yang besar dan jaringa  tubuh.
  3. Sistem fagosit mononukleus yang merupakan kombinasi antara monosit fagositik, makrofag bergerak dan makrofag jaringan tetap. Makrofag jaringan tetap contohnya, makrofagg alveulus, sel kupffer dalam hati, sel langerhans pada epidermis, mikrogilia pada saraf pusat, sel mesangial pada ginjal, dan sel retikuler dalam limpa, nodus limfa, timus, serta sumsum tulang.

Eosinofil bekerja melawan parasit yang ukurannya lebih besar, seperti cacing darah. Eosinofil dapat melepaskan enzim-enzim untuk  merusak dinding eksternal parasit.

  1. Inflamasi

Pembengkakan Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera. Inflamasi dapat bersifat akut dan kronik. Tanda-tanda respons inflamasi, yaitu kemerahan, panas, , nyeri, atau kehilangan fungsi. Efek inflamsi menyebabkan demama (suhu tubuh tinggi abnormal). Demam itu sendiri merupakna respons tubuh terhadap radang. Selain itu, sel leukosit tertentu akan memproduksi moleku yang bernama pirogen. Pirogen ini dapat menyebabkan suhu tubuh menjadi tinggi. Suhu tubuh yang tinggi dapat membantu pertahanan  tubuh dengan cara menghambat pertumbuhan bebrapa mikroba. Selain itu, demam dapat mempermudah fagositosis dan perbaikan jaringan.

Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.

Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.
  • Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)
  • Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.

Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.

  1. Protein Antimikroba

Protein antimikroba ini sering juga disebut sitem komplemen, sistem ini terdiri atas 20 protein. Protein ini normalnya dalam keadaan non aktif.  Tetapi, apabila mikroba masuk ke dalam tubuh, glikoprotein dari permukaan sel tersebut akan mengaktifkan sistem komplemen ini.

Berikut ini beberapa fungsi dari komplemen yang sudah aktif.

  • Menghasilkan opsonin, yaitu suatu zat yag melekatkan mikroba pada leukosit sehingga memudahkan proses fagositosi
  • Menyebabkan pelepasan histamin oleh mastosit. Histamin menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan meningkatakan permebilitas kapiler terhadap protein.
  • Menimbulkan suatu reaksiterhadap membran sel mikroba berupa munculnyalubang pada membran.  Pristiwa ini akan memtikan bagi mikroba.

Baca Juga : 

Aktivitas komplemen yang menghancurkan mikroorganisme atau antigen asing, terkadang dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh sendiri.

Selain komplemen, terdapat kumpulan protein sebagai pertahanan non spesifik yaitu interferon (IFN), interferon ini diproduksi oleh sel-sel yang terinfekksi virus. Kemudian inteferon tersebut akan berikatan dengan resptor membran plasma pada sel-sel yang sehat.  Sel-sel sehat yang telah terikat dengan interferon tersebut akan membentuk suatu protein antivirus yang berfungsi untuk menghalangi multiplikasi virus. Interferon tertentu akan langsung membunuh dan menghancurkan sel-sel yang telah terinfeksi virus.

  1. Sel Natural Killer (sel NK)

Sel NK berjaga di sistem peredaran darah dan limfatik. Sel NK merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkannya sel kekebalan adiptik. Sel NK tidak bersifat fagositik. Sel ini membunuh dengan cara menyerang membran sel target dan melepaskan senyawa kimia yang disebut perforin.

b. Pertahanan Spesifik ( Adaptik)

Pertahanan Spesifik merupakan sistem kompleks yang memberikan respon imun terhadap antigen spesifik.  Pertahanan spesifik mampu mengenal benda asing bagi dirinya dan memiliki memori terhadap kontak sebelumnya dengan suatu aagen tertentu. Sistem ini bekerja apabila antigen asing telah melewati pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik disebut juaga sistem kekebalan tubuh dan menjadi garis pertahanan yang ketiga dari tubuh.

Ciri-cirinya :

  1. Bersifat selektif
  2. Tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing
  3. Mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya
  4. Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia (antibodi)
  5. Perlambatan waktu antara eksposur dan respons maksimal

Sistem Pertahanan Spesifik ini dibedakan menjadi 2, yaitu:

  • Sistem Imun Spesifik Humoral

Yang paling berperan pada sistem imun spesifik humoral ini ada Sel B atau Limfosit B. Sel B ini berasal dari sumsum tulang dan akan menghasilkan sel Plasma lalu menghasilkan Antibodi. Antibodi inilah yang akan melindungi tubuh kita dari infeksi ekstraselular, virus dan bakteri, serta menetralkan toksinnya.

Struktur antibodi :

  • pada umunya berbentuk seperti huruf Y.
  • Dua rantai berat dan 2 rantai ringan yang dihubungkan jembatan disulfida.
  • Daerah variabel anatar molekul memiliki rangkaian asam amino yang berbeda dan embentuk suatu reseptor untuk antigen spesifik.
  • Daerah konstan (C) menstabilkan sisi pengikat antigen.
  • Daerah hinge (engsel) memungkinkan kedua lengan Y dapat membuka atau menutup untuk mengkomodasi pengikatan terhadap dua determinan antigen yang terpisah pada jarak tertentu seperti yang ditemukanpada permukaan bakteri.

Antibodi merupakan protein plasma yang disebut imunoglobulin (Ig). Terdapat lima kelas imunoglobin, yaitu;

  1. Ig M, berperan sebagai reseptor permukaan sel B dan disekresi pada tahap awalrespons sel plasma.,serta mengaktivitaskan komplemen dan memperbanayk fagosistosis.
  2. Ig G, Ig G terbanyak di darah, diproduksi jika tubuh berespons terhadap antigen yg sama, Ig M dan IgG berperan jika terjadi invasi bakteri dan virus serta aktivasi komplemen
  3. Ig E ,melindungi tubuh dari infeksi parasit dan merupakan mediator pd reaksi alergi; melepaskan histamin dari basofil dan sel mast
  4. Ig A ,ditemukan pada sekresi sistem perncernaan, pernapasan, dan perkemihan. Ig A, berfungsi untuk melawan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh.

( contoh : pada airmata dan ASI)

  1. Ig D terdapat pada banyak permukaan sel B; mengenali antigen pada sel B.

Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :

  • Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.
  • Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.
  • Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.
  • Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.

Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.

Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.

  • Sistem Imun Spesifik Selular

Pada sistem imun ini, sel T atau Limfosit T yang paling berperan. Sel ini juga berasal dari sumsum tulang, namun dimatangkan di Timus. Fungsi umum sistem imun ini adalah melawan bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan tumor. Sel T nantinya akan menghasilkan berbagai macam sel, yaitu sel CD4+ (Th1, Th2), CD8+, dan Ts (Th3).

Antibody akan menyerang bakteri atau virus sebelem pathogen tersebut masuk ke dalam sel tubuh. Antibody dihasilkan oleh limfosit B dan teraktivasi bila mengenali antigen yang terdapat pada permukaan sel pathogen, dengan bantuan sel limfosit T.

Terdapat 3 jenis sel limfosit B yaitu

  1. Sel B plasma : Mensekresikan antibody ke system sirkulasi tubuh. Setiap   antibody sifatnya spesifik terhadap satu antigen patogenik.
  2. Sel B memori : Sel yang diprogram untuk mengingat suatu antigen yang spesifik dan akan merespon dengan sangat cepat bila terjadi infeksi kedua.
  3. Sel B pembelah : Berfungsi untuk menghasilkan lebih banyak lagi sel-sel limfosit B.

Apabila kemudian antibodi menang melawan antigen mak morang tersebut akan sehat dan memiliki sel memori untuk melawan antigen yang sama di waktu yang akan datang. Oleh karena itu, jika suatu saat orang tersebut dimasuki oleh antigen (kuman) berjenis sama, tubuh orang tersebut akan mengaktifkan sel-sel memori yang telah terbentuk sebelumnya. Waktu untuk menanggapi dan melawan kuman tersebut cenderung lebih pendek di bandingkan respons pertahanan primer. Hal ini disebut respons pertahanan sekunder.

Imunitas yang diperantarai sel, melibatkan sel dalam menyerang organism asing. Terdapat 3 jenis sel T.

  • Sel T pembantu : Membantu atau mengontrol komponen respon imun spesifik lainnya. Mengaktivasi makrofag untuk segera bersiap memfagosit pathogen dan sisa-sisa sel.
  • Sel T pembuluh : Menyerang sel tubuh yang terinfeksi dan sel-sel pathogen yang relative besar secara langsung.
  • Sel T supreso : Berfungsi untuk menurunkan dan menghentikan respon imun. Mekanisme tersebut diperlukan ketika respon imun sudah mulai lebih dari yang diperlukan, atau ketika infeksi sudah berhasil diatasi.

Baca Juga : 

Mekanisme Respons Imunitas Seluler

  • Ekstraseluler
  1. Antigen ditelan oleh makrofag.
  2. Makrofag membentuk molekul MHC kelas II, dan molekul tersebut bergerak menuju ke permukaan makrofag.
  3. MHC kelas II menangkap peptida antigen dan membawanya ke permukaan serta memperlihatkannya ke sel T penolong.
  4. Sel T penolong akan mengaktivitaskan makrofag untuk menghancurkan mikroorganisme yang ditelan.
  • Intraseluler
  1. Antigen menginfeksi sel tubuh.
  2. Sel tubuh membentuk molekul MHC kelas I dan bergerak ke permukaan sel
  3. MHC kelas I menangkap peptida virus dan membawanya ke permukaan sel, serta memperlihatkannya ke sel T pembuluh (CTL).
  4. Sel T pembuluh akan teraktivitasi oleh kompleks MHC kelas I, peptida virus pada sel yang terinfeksi dan sel T penolong. Sel T pembuluh kemudian terdiferensiasi menjadi sel pembunu aktif yang akan menghancurkan sel terinfeksi.
  5. Sel T pembuluh yang tidak terdiferensiasi akan menjadi sel T memori.
  6. Sel T memori berfungsi dalam respons imunitas sekunder jika terjadi pajanan antigen berulang.