Menjelaskan Media sebagai Saluran Persuasi Politik/Kampanye Politik dengan singkat

Pada poin sebelumnya telah disebutkan bentuk kegiatan persuasi politik yang dilakukan oleh para politikus. Dan dalam poin ini penulis ingin membahsa secara lebih rinci tentang salah satu bentuk kegiatan politik, yaitu kampanye politik. Penulis memilih kampanye politik karena di Indonesia saat ini para politikus sedang sibuk melaksanakan kampanye politik terkait dengan kegiatan pemilihan kepala daerah.

Pemilu dilakukan menjelang pemilihan, terutama pemilihan anggota legisltif yang disebut pemilihan umum (Pemilu) atau pemilihan raya. Selain pemilihan anggota parlemen, yang tidak kalah pentingnya adalah pemilihan jabatan-jabatan politik, terutama pemilihan  presiden, gubernur, walikota, dan bupati.

Kampanye politik adalah bentuk komunikasi poltik yang dilakukan oleh seseorang atau sekompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari rakyat. Pada umumnya, kampanye politik diatur dengan peraturan tersendiri, yaitu waktu, tata cara, pengawasan, dan sanki-sanksi jika terjadi pelanggaran oleh  penyelenggara kampanye.

  • Media Sebagai Pelantara Kampanye Politik

Penulisan ini membahas tentang media dan politik, maka penulis ingin memaparkan kegiatan kampanye dengan media sebagai alat atau pelantaranya. Penulis membagi media dalam kegiatan kampanye politik kedalam dua bagian, yaitu media cetak dan media elektronik.

1. Media Cetak sebagai Pelantara
Media cetak masih merupakan alat utama untuk berkomunikasi dengan khalayak. Kepustakaan kampanye (selebaran, brosur, foro, dsb), masih tetap merupakan bagian dari politik kontemporer. Berikut dua tipe media cetak yang sangat penting dalam melakukan kampanye politik , yakni:

a) Surat langsung
Industri surat langsung telah menguasai bagaian yang semakin besar dari anggaran kampanye kandidat. Berbagai perusahaan komersial melakukan kampanye surat langsung dan beberapa, terutama Richar Viguerie melakukan spesialisasi dalam pengiriman surat regional dan nasional selama pemilihan. Kampanye surat langsung ditujuakan pada:

  • Pengumpul dana
  • Pembinaan pengenalan nama dan citra kandidat
  • Imbauan untuk mengumpulkan dana.

Di Indonesia, kampanye melalui sutat langsung jarang digunakan. Kampanye melalui surat langusung biasanya memakan banyak biaya. Dalam membangun citra dan mempengaruhi pemilih, surat langsung biasanya lebih tidak menguntungkan. Robyn dan Miller memeriksa pengaruh pengiriman surat langsung kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa surat langsung tidak memiliki cukup pengaruh terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memberikan surat dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat. Singkatnya, hasil dari surat langsung tidak selalu mamadai bagi biayanya.

b) Surat kabar
Tiga tipe surat kabar yang bertindak sebagai sarana bagi kampanye politik adalah ihwal berita, editorial, dan iklan. Semuanya membantu pembinaan citra dan penyajian masalah. dalam editorial, dukungan lebih berorientasikan masalah, tetapi juga dengan cara mengesankan atau dengan cara menghinakan, berbicara tentang sifat pribadi kandidat. Begitu juga dengan iklan politik. Periklanan politik melaksanakan fungsi lain di luar pembuatan citra dan penyajian masalah. ikaln politik dalam surat kabar, begitu pula yang dibagikan dengan selebaran, brosur, dan surat langsung menyokong morel para pekerja kampanye: setikdaknya mereka mendapat kesan bahwa terjadi pengeluaran uang.

Periklanan politik dalam media cetak adalah suatu cara untuk menyelundupkan iklan yang sewaktu-waktu yang keberatannya terlalu besar untuk ditempatkan di radio atau televisi. Jenis iklan ini adalah iklan yang mencantumkan dafta nama orang yang mendukung seorang kandidat. Yang terpenting dalam menimbang peran suarat kabar dalam persuasi politik adalah dampak dukungan surat kabar kepada bagaimana orang memilih.

c) Poster Politik
Poster politik merupakan salah satu teknik komunikasi kampanye yang paling beraneka warna dan paling menarik. Yang tersebar pada lanskap pada pemilihan, pada billboard, pohon, tiang listrik, dan dinding bangunan adalah contoh bentuk periklanan politik ini. Gary Yanker menyebut poster politik sebagai “Prop Art” atau seni propaganda.
Poster mencari dukungan luas untuk kandidat, partai, dan program partai; mengumumkan pertemuan politik dan rapat umum partai yang akan datang; membantu mengumpulkan dana; mengkritik oposisi; membinan pengenalan nama bagi kandidat yang tidak dikenal; dan membangkitkan semangat para pekerja kampanye.

2. Media Elektronik sebagai Pelantara
Bila memkirkan media elektronik, biasanya kita menjadi ingat kepada radio dan televisi, namun dalam komunikasi politik, telepon juga merupakan media yang penting. Apalagi, terdapat berbagai inovasi dalam komunikasi elektronik yang juga mempunyai efek di bidang politik.

a. Kampanye telepon
Telepon sebagai alat komunikasi lisan mempunyai beberapa kegunaan bagi kampanye kontemporer. Telepon merupakan sarana yang bergunan bagi hubungan pribadi jika organisasi kampanye ingin mengumpulkan dana. Baik melalui panggilan telepon kepada para pendukung atau digunakan bersama-sama dengan teleton (acara televisi yang menghimpun dana untuk darmabakti), telepon mencapai sejumlah pemilih dalam tempo yang sangat singkat.
Telepon juga menambah jumlah pemilih yang datang. Hal ini terutama berguna jika seorang kandidat menginginkan banyak pemilih yang hadir dalm distrik dan seleksi yang diketahuinya banyak simpati yang laten terhadap pencalonannya. Hubungan telepon juga memperkenalkan kandidat kepada pemilihnya. Kandidat merekam suatu pesan, kemudian pesan itu diputar pada setiap pesawat penerima telepon setelah terjadi sambungan melalui pemutaran nomor secara otomatis.

Imbauan untuk mendapat suara juga dapat dilakukan melalui telepon, biasanya oleh staf besar yang terdiri atas pekerja sukarela yang mengoperasikan sederatan telepon atau oleh pekerja perseorangan yang menelepon dari rumah masing-masing. Pesan yang terkandung bahwa sukarelawan itu cukup menaruh perhatian kepada kandidat sehingga ia menelopon secara pribadi. Akhirnya, telepon membantu survei tentang opini para pemilih; polling telepon, dengan menggunakan teknik pemutaran nomor secara acak.  Untuk melengkapi telepon bagi setiap tujuan ini terdapat beberapa sarana teknik: sambungan WATS yang memungkinkan sejumlah besar hubungan interlokal dengan biaya tetap; mesin pemutar nomor otomatis, seperti TELO/PLAY yang digunakan dalam kampanye tahun 1972, menungkinkan seorang pekerja kampanye mengadakan 300 hubungan telepon dalam lima jam dari sebuah telepon rumah.

b. Kampanye radio
Radio memiliki keuntungan tertentu yang melebihi sarana komunikasi lain. Radio lebih murah daripada televisi dan surat langsung. Di samping itu radio merupakan saluran massa dan saluran minoritas. Berbagai saluran radio melayani khalayak khusus. Seorang kandidat bukan menyebarkan imbauannya ke wilayah dan kepada khalayak yang luas yang tidak relevan dalam kampanyenya, malainkan menunjukkanya kepada sasaran berupa jenis pemilihan yang paling besarnya ditanggapi.

Radio mulai berperan selama pemilihan dalam berbagai hal. Contoh yang paling terkenal adalah Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat. Ia menggunakan radio dengan sangat efektif untuk memperoleh dukungan publik. Waktu Presiden Roosevelt menggunakan media, suasana politik dan ekonomi Amerika Serikat sedang terjerembab karena krisis ekonomi bangsa (depresi ekonomi) dan usaha Roosevelt untuk pemulihan ekonomi kembali, tidak saja usaha pemerintah tapi juga dengan dukungan rakyat Amerika. Inilah salah satu yang mendorong Roosevelt menggunakan media bagi program-program ekonominya.

Radio memberikan para pendengarnya peluang untuk mengevaluasi pejabat-pejabat publik yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Dari pada siaran radio hanya untuk pidato dan kampanye, Roosevelt berbicara secara bersahabat dengan publik Amerika tentang cara penanggulangan depresi ekonomi. Yang menarik, pidatonya itu seolah-olah semacam ‘pelajaran perbankan’ kepada penduduk Amerika yang waktu itu berjumlah sekitar 60 juta jiwa.  Pidato radio Roosevelt dinamakannya Fireside Chat karena dilaksanakannya dekat perapian di lantai dasar Gedung Putih. Dan kemudian, pidato-pidato lainnya dengan menggunakan media radio juga dinamakannya sebagai fireside chat dilakukan di tempat yang sama di Gedung Putih.

Terdapat beberapa pedoman praktis bagi kandidat yang mempersiapkan penyajian radio, di antaranya:

  1. Bagi pembicaraan radio, pilih tema pokok yang dikenal baik;
  2. Membuka siaran dengan pernyataan atau gagasan yang memikat agar pendengar tetap mendengarkan;
  3. Sajikan pidato dengan urutan yang logis dengan kata-kata sederhana dan kalimat-kalimat deklaratif yang sederhana;
  4. Gunakan sedikit mungkin statistik;
  5. Capai kesimpulan yang pasti.

c. Kampanye televisi
Televisi tetap digunakan secara luas sebagai saluran komunikasi kampanye. Pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an, tekanan dalam kampanye televisi adalah pada pembentukan citra. Pada tahun 1960-an, pertama kali dalam sejarah Amerika, debat antara calon presiden AS, Kennedy dengan Nixon. Dalam empat kali perdebatan melalui televisi siaran, Kennedy yang sebelumnya dipandang oleh rakyat Amerika, bukanlah calon yang tepat untuk presiden AS, namun sewaktu debat via televisi secara total merubah pandangan masyarakatnya bahwa pemimpin AS yang akan datang adalah Kennedy.

Rahasianya, sebagaimana diungkapkan oleh pakar media, Joseph C. Spear (1984) dalam bukunya: Presidents and the Press, sewaktu panelis meminta Kennedy mengajukan pertanyaan, Nixon cenderung bersikap difensif, menjawab pertanyaan Kennedy point by point dan kurang menghiraukan khalayak massa (pemirsa) di balik kamera. Sedangkan Kennedy, sebaliknya, tampil santai, tenang, meyakinkan sekali. Ketika ia menjawab pertanyaan, ia mengarahkan pandangannya pada kamera seolah-olah ia berbicara kepada jutaan pemirsa Amerika yang mengikuti debat terbuka tersebut. Akhirnya pada pemilihan presiden 8 November 1960, John F. Kennedy keluar sebagai pemenang dengan selisih suara tipis pada popular vote. Ia meraih 34.220.984 popular vote (49,7 %), sedangkan rivalnya Nixon memperoleh 34.108.157 popular vote (49,6 %). Sementara pada tingkat electoral vote, Kennedy jauh meninggalkan Nixon dengan perolehan 303 suara sedangkan lawannya hanya mendapat 219 suara.

Memperhatikan dampak televisi dalam kampanye pemilihan presiden, beberapa pengamat media massa berpendapat bahwa andaikata pada zaman George Washington sudah ada televisi mungkin ia tidak akan terpilih sebagai presiden karena mukanya datar tanpa ungkapan apapun juga sedangkan tingkah-lakunya kaku. Pengamat lain berpendapat bahwa Franklin Delano Roosevelt yang lumpuh setengah badannya dan terpaksa memakai kursi dorong kemungkinan besar juga tak akan terpilih.

  • Inovasi dalam Media Politik

Semakin berkembangya teknologi, para juru politikus dan juru kampanye politikpun menerapkannya untuk tujuan persuasif. Beberapa inovasi teknologi yang digunakan para politikus dalam melakukan kampanye, antara lain:

  1. Televisi antena komunitas => seperti televisi kabel atau CATV sangat menambah jumlah saluran televisi yang tersedia. Terdapat kemungkinan membuat acara 24 jam sehari pada saluran-saluran khusus yang di sampaikan ke rumah melalui CATV.

  2. Rekaman video elektronik => seorang kandidat dapat memasok sejumlah besar pemilih dengan penampilan televisi yang direkam. Cocok untuk ditonton pada waktu luang melalui playback pada pesawat televisi di rumah.

  3. Studio elektronik mobil ( Paxmobiles) => saluran ini menjelajah dari kota ke kota. Dilengkapi dengan deretan pesawat telepon, perlengkapan perekam audio dan video, dan perkakas elektronik lainnya. Mobil van ini memasok para pekerja kampanye dengan beraneka ragam komunikasi seketika.

  4. Radio citizen (CB) => salah satu yang menggunakan media ini adalah Betty Ford. Ia melakukan kampanye untuk suaminya dalam pemilihan pendahuluan kepresidenan tahun 1976 di Texas. Betty menggunakan CB dengan nama siar First Mama.

  • Jejaring Sosial

Menguasai komunikasi publik memang salah satu kunci kemenangan. Franklin Delano Roosevelt menggunakan radio dan John F Kennedy memanfaatkan televisi untuk menggapai kemenangan. Kini Barack Obama menggunakan internet sebagai media sosial, menyapa masyarakat melalui teknologi komunikasi yang berkembang amat pesat, yakni  jejaring sosial ( social networking ).

Namun, Obama bukan politisi Amerika pertama yang memanfaatkan jejaring sosial untuk menuju kursi kepresidenan. Howard Dean menggunakan Meetup.com saat nominasi Partai Demokrat dalam pemilihan presiden tahun 2004. Dean berhasil mengumpulkan 27 juta dollar AS melalui online. Pakar komunikasi Phil Noble, menyebutkan, Obama meraih hampir satu miliar dollar AS selama kampanye tahun 2008. Jumlah ini 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan perolehan John Kerry, yang juga memperoleh dana kampanye lewat cara yang sama tahun 2004.

Yang pasti, Obama dan tim suksesnya betul-betul memanfaatkan internet sebagai alat menuju kemenangan. Hal ini tidaklah heran karena di AS sebesar 71,9 persen atau 218,3 juta dari 303,8 juta penduduknya menggunakan internet. Bahkan, internet telah menjadi bagian utama kehidupan politik Amerika. Sampai akhir Oktober lalu, Obama memiliki lebih dari 1,7  juta sahabat di Facebook, beberapa di antaranya warga negara Indonesia, dan 510.000 teman di MySpace. Di jejaring sosial Twitter, Obama memiliki lebih dari 45.000 pengikut. Semua aktivitasnya diinformasikan melalui jejaring sosial tersebut langsung kepada sahabat-sahabatnya.

Jutaan orang di dunia, tidak hanya di Amerika, dapat menyaksikan pidato Obama melalui You Tube. Obama juga memiliki blog pribadi, mengajak pendukungnya berperan serta dalam pengumpulan dana melalui online. Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online. Obama telah memindahkan politik kepresidenan masuk ke abad digital.

Di indonesia pun, beberapa politisi juga menggunakan jejaring sosial dalam untuk mendapatka dukungan dari rakyat. melalui fasilitas jejaring sosial mereka bisa melakukan  persuasi kepada masyarakat indonesia, khususnya kaula muda.