Menjelaskan Macam Obat yang Disalahgunakan dengan singkat

Depresan (depressant) adalh obat yang menghambat atau mengekang aktivitas sistem syaraf pusat. Obat tersebut mengurangi perasaan tegang dan cemas, mneyebabkan gerakan kita menjadi lebih lambat, dan merusak proses kognitif kita. Dalam dosis tinggi, depresan dapat menahan fungsi vital dan menyebabkan kematian.Depresan yang paling umum digunakan, alcohol, dapat menyebabkan kematian bila dikonsumsi dalam jumlah besar karena efeknya menekan respirasi (pernafasan).Efek lainnya spesifik, tergantung pada jenis depresan tertentu.Sebagai contoh, sejumlah depresan, seperti heroin, menciptakan kenikmatan yang “cepat”. Berikut adalah bebrapa tipe utama depresan:

a. Alkohol

Istilah alkohol mengacu pada sekelompok besar molekul organik yang memiliki kelompok hidroksil terikat pada atom karbon yang jenuh. Beberapa masyarakat alkohol dianggap hal yang biasa sehingga alkohol jarang disebut sebagai “obat” atau “zat” terlarang.

Alkohol digolongkan sebagai obat depresan karena efek biokimiawinya serupa dengan golongan obat penenang minor lainnya, benzodiazepine, yang termasuk obat diazepam yang terkenal (Valium) dan klordiazepoksida (Librium).Kita dapat menganggap alcohol sebagai tipe obat penenang yang dapat dibeli tanpa resep dokter.
Banyak orang awam dan professional menggunakan istilah alkoholisme (alcoholism) untuk merujuk pada ketergantungan alcohol.Meski definisi alkoholisme bervariasi, kami menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada ketergantungan fisik, atau adiksi, pada alcohol yang ditandai oleh hendaya pada kontrol terhadap penggunaan obat.

Kerugian personal dan sosial dari alkoholisme melampaui kerugian dari gabungan semua obat terlarang.Penyalahgunaan alcohol berhubungan dengan menurunnya produktivitas, kehilangan pekerjaan, dan penurunan status sosioekonomi. Secara keseluruhan, sekitar 100.000 orang di Amerika Serikat meninggal karena penyebab yang terkait dengan alcohol setiap tahunnya, kebanyakan akibat kecelakaan bermotor dan penyalit yang berhubungan dengan alcohol.

Orang dengan alkoholisme banyak ditemui dalam seluruh kehidupan dan berasal dari semua kelas sosial dan ekonomi. Banyak yang memiliki keluarga, pekerjaan yang bagus, dan hidup yang cukup nyaman.Namun alkoholisme daapt memiliki dampak meusak pada orang yang mampu sebagaimana halnya pada yang kurang mampu, menyebabkan kehancuran karier dan perkawinan, kecelakaan kendaraan bermotor dan kecelakaan lainnya, serta gangguan fisik yang berat dan mengancam hidup, sebagaimana juga kerugian emosional yang amat besar.

• Faktor Resiko Alkoholisme

Peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang meningkatkan resiko seseorang untuk mengembangkan alkoholisme dan masalah yang berkaitan dengan alcohol. Hal-hal tersebut tercakup berikut ini:

  1. Gender. Laki-laki mempunyai kecenderungan dua kali lipat lebih besar dibanding perempuan (20% vs. 8%) untuk mengembangkan gangguan ketergantungan alcohol. Satu alasan yang mungkin untuk perbedaan gender ii adalah sosiokultural, mungkin larangan budaya lebih ketat kepada perempuan.
  2. Usia. Mayoritas kasus ketergantungan alcohol terjadi di masa dewasa muda, umurnya sebelum usia 40 tahun. Meski gangguan penggunaan alcohol cenderung berkembang agak lambat pada perempuan daripada laki-laki, perempuan yang mengembangkan masalah ini memiliki masalah kesehatan, sosial, dan pekerjaan pada usia paruh baya sebagaimana halnya pada laki-laki.
  3. Gangguan kepribadain antisosial. Perilaku antisosial pada masa remaja atau dewasa meningkatkan resiko alkoholisme di kemudian hari. Di lain pihak, banyak orang dengan alkoholisme tidak menunjukkan kecenderungan antisosial di amsa remaja, dan banyak remaja antisosial tidak menyalahgunakan alcohol atau obat lain pada usia dewasa.
  4. Riwayat keluarga. Prediktor terbak untuk masalah minum-minum pada masa dewasa tampaknya adalah riwayat penyalahgunaan alcohol daalm keluarga. Anggota keluarga yang minum dapat bertindak sebagai model.
  5. Faktor sosiodemografik. Riwayat hidup ketergantunga alcohol lebih umum ditemukan pada orang dengan pendapatan dan tingkat pendidikan yang lebih rendah dan pada orang yang hidup sendiri.

• Etiologi Alkohol

  • Sejarah pada masa kanak-kanak
    Beberapa penelitian menunjukan adanya fungsi otak tertentu yang dapat diwariskan, yang diduga menjadi predisposisi terhadap munculnya gangguan yang berkaitan dengan alkohol. Selain itu, adanya sejarah masa kanak-kanank berupa gangguan ADD/ADHD, gangguan concuct, atau keduanya, meningkatkan kemungkinan munculnya masalah yang berkaitan dengan alkohol pada masa dewasa. Demikian juga gangguan kepribadian, khususnya gangguan kepribadian antisosial, cenderung menjadi predisposisi pada gangguan berkaitan dengan alkohol.
  • Sudut pandang Psikoanalitik.
    Hipotesis pada pendekatan ini adalah berkaitan dengan hukuman berlebihan dari superego dan fisaksi masa oral dalam perkembangan psikoseksual. Menurut teori ini, seseorang dengan superego kuat yang cenderung menyalahkan dan menghukum diri sendiri akan menggunakan alkohol sebagai cara untuk menghilangkan stres yang timbul dari ketidaksadaran ini. Sedangkan oprang yang mengalami fiksasi pada masa oral akan berkurang kecemasannya dengan memasukkan sesuatu termasuk alkohol ke dalam mulut. Sedangkan hipotesis lain menyebutkan bahwa alkohol mungkin disalagunakan oleh seseorang sebagai cara untuk mengurangi ketegangan, kecemasan, dan beberapa jenis masalah jiwa lainnya. Konsumsi alkohol pada beberapa orang juga dapat menimbulkan perasaan berkuasa dan meningkatkan harga diri.
  • Sudut pandang Sosial dan Budaya
    Menurut pendapat ini, beberapa kondisi sosial tertentu dapat memicu konsumsi alkohol yang berlebihan. Misalnya kehidupan di asrama mahasiswa atau barak militer.
  • Sudut pandang Perilaku dan Belajar
    Pendekatan ini menekankan pada aspek nilai imbalan positif dari alkohol, yang dapat menimbulkan perasaan bahagia dan euforia pada seseorang. Alkohol juga dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian mendorong seseorang untuk tetap minum alkohol.
  • Sudut pandang Genetik dan Biologis Lainnya.
    Beberapa data menunjukkan adanya komponen genetik pada beberapa gangguan yang berhubungan dengan alkohol. Data juga menunjukan bahwa seseorang yang memiliki keluarga inti mengalami masalah yang sama sebesar 3 atau 4 kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki keluarga alkoholik. Namun hingga saat ini bagaimana npredisposisi genetik ini diwariskan belum dapat diketahui secara pasti.

Penyalahgunaan Alkohol

  1. Perkelahian dan tindak kekerasan, ketidak mampuan menilai realitas, ggn dalam fungki pekerjaan dan sosial
  2. Bicara cadel, ggn koordinasi, cara jaln tidak mantap, nistagmus, muka merah
  3. Perubahan alam perasaan: euphoria, disforia, iritabilitas: marah, tersinggung
  4. Banyak bicara, ggn perhatian dan konsentrasi
  5. Penangan Alkohol
  • Penanganan (treatment)
    Kebanyakan ahli sependapat bahwa penghentian total konsumsi alkohol merupakan inti dari berhasil atau tidaknya penanganan. Adapun pragnosis keberhasilan penanganan yang paling baik adalah pada individu yang datang sendiri ketempat rehabilitasi atau penangannan masalah yang berkait dengan alkohol, karena mereka sudah menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan.
  • Penanganan tradisional di rumah sakit
    Penanganan di rumah sakit terutama adalah proses deteksifikasi, yaitu menghentikan penggunaan alkohol dan membersihkan tubuh dari zat tersebut.
  • Pendekatan biologis
    Terapi biologis sebaiknya dipandang sebagai perlengkap yang dapat memberikan keuntungan jika dikombinasikan dengan intervensi psikologis. Beberapa obat psikoaktif dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan alkohol dan meningkatkan keadaan mental pasien.
  • Penekatan Kognitif dan perilaku
    Diajarkan cara untuk mengurangi kecemasan. Antara lain dengan pelatihan relaksasi, asertivitas, keterampilan kontrol diri, dan strategi baru untuk dapat menguasai lingkungan.Mereka juga diberi beberapa program kondisioning untuk mengubah pola minum atau menghentikan kebiasaan minum.

b. Barbiturate

Barbiturate (barbiturates) seperti amobarbital, pentobarbital, fenobarbital, dan sekobarbital adalah depresan, atau sedative (sedative).Obat-obatan ini memiliki beberapa kegunaan medis, termasuk pengurangan kecemasan dan ketegangan, mengurangi rasa sakit, serta penanganan epilepsy dan tekanan darah tinggi.Penggunaan barbiturate dengan cepat menimbulkan ketergantungan psikologis dan ketergantungan fisiologis dalam bentuk toleransi maupun perkembangan sindrom putus zat.

Barbiturat juga merupakan obat jalanan yang popular karena barbiturate menenangkan dan menghasilkan kondisi euphoria ringan atau ”high”. Barbiturat dalam dosis tinggi, seperti alcohol, mengakibatkan kebingungan, pembicaraan yang kacau, kerusakan motorik, iritabilitas, dan penilaian yang buruk, gabungan efek yang mematikan adalah saat penggunaannya dikombinasikan dengan mengendarai kendaraan bermotor.Dampak barbiturate berlangsung selama 3-6 jam.

Karena efek sinerginya, campuran barbiturate dan alcohol sekitar empat kali lebih kuat dibanding bila salah satunya digunakan sendiri.Obat antikecemasan yang sudah digunakan secara luas, seperti Valium dan Librium, cukup aman bila digunakan sendiri tetapi dapat pula berbahaya dan menyebabkan overdosis saat penggunaannya dikombinasikan dengan alcohol (APA, 2000).

Orang yang tergantung secara fisiologis perlu diputuszatkan dari sedative, barbiturate, dan agen antikecemasan secara hati-hati, dan hanya di bawah pengawasan medis. Putus zat mendadak bisa membuat kondisi delirium yang dapat menyebabkan halusinasi visual, taktil, atau auditori serta gangguan dalam proses berpikir dan kesadaran. Semakin panjang periode penggunaan dan semakin tinggi dosis yang digunakan, semakin besar risiko efek putus zat.Serangan grand mal dan bahkan kematian bisa terjadi jika individu putus zat mendadak tanpa perawatan.

c. Opioid

Opiod adalah kelompok sedative yang menimbukan rasa kecanduan yang dalam dosis sedang ,menghilangkan rasa sakit dan menyebabkan tidur. Paling terkenal diantaranya adlah opium, yang aslinya merupakn obat utama dalam lalu lintas perdagangan illegal internasional dan telah dikenal oleh orang – orang dalam peradaban sumeria di masa 7000 tahun sebelum masehi . mereka member nama tanaman poppy yang menghasilkan obat tersebut dengan nama yang masih dikenal hingga saat ini , yang berarti “ tanaman kebahagiaan “.Opioid adalah narkotik (narcotics), istilah yang digunakan untuk obat adiktif yang memiliki kemampuan melepaskan rasa sakit dan menyebabkan tidur.Opioid terdiri dari opiat yang tumbuh secra alami (morfin, heroin, kodein) yang berasal dari sari tanaman poppy dan juga obat sintesis (Demerol, Percodan, Darvon) yang dibuat di laboratorium sehingga memiliki efek seperti opiate.Orang Samaria Kuno menyebut tanaman poppy dengan opium, yang berarti “tanaman kebahagiaan”.

Opioid menghasilkan perasaan nikmat yang cepat dan intens, yang menjadi alasan utama di balik popularitasnya sebagai obat jalanan. Opioid juga menumpulkan kesadaran seseorang akan masalah pribadinya, di mana hal tersebut menarik bagi orang yang mencari pelarian mental dari stress.
Aplikasi medis utama dari opioid alami atau sintetis adalah melepaskan rasa sakit, atau analgesia. Bagaimanapun juga, penggunaan medis opioid diatur secara hati-hati karena overdosis dapat menyebabkan koma dan bahkan kematian. Namun beberapa resep opioid, terutama obat OxyContin, menjadi obat yang disalahgunakan saat digunakan secara illegal sebagai obat jalanan (Tough, 2011).Penggunaan jalanan dari opioid dihubungkan dengan jumlah overdosis dan kecelakaan yang fatal.

Opiat menjadi obat yang disalahgunakan karena obat tersebut menghasilkan kondisi euforik yang nikmat, atau “rush”. Efek menyenangkan tersebut berasal dari kemampuan opiate untuk menstimulasi sirkuit kenikmatan otak secara langsung, jaringan otak yang bertanggung jawab untuk kenikmatan secara seksual atau kenikmatan dari makan makanan yang memuaskan.

Sindrom putus zat yang disebabkan opioid dapat berlangsung parah. Distimulasi dalam selang waktu 4 hingga 6 jam dari dosis terakhir. Gejala seperti flu disertai kecemasan, perasaan lelah, iritabilitas, dan ketagihan (craving) untuk obat. Dalam beberapa hari, gejala meningkat diantaranya: denyut jantung semakin cepat, tekanan darah tinggi, kejang, gemetar, panas dingin, demam, muntah, insomnia, dan diare. Meski gejala ini tidak nyaman, gejala tersebut biasanya tidak merusak, terutama bila obat-obat lain diberikan untuk mengurangi gejala.Lagi pula, tidak seperti putus zat dari berbiturat, gejala putus zat opioid jarang mengakibatkan kematian.