Menjelaskan Latar Belakang Renaissance  dengan singkat

Tidak banyak orang yang tahu, kecuali mungkin para sejarawan bahwa Eropa umumya dan Italia khususnya menjadi modern seperti dewasa ini, sebenarnya telah dimulai sejak zaman Renaissance. Jika zaman renainssance dimulai sekitar abad ke-14 maka untuk menghasilkan Eropa modern seperti dewasa ini diperlukan kurang lebih lima abad.

Modernisasi bagaimanapun memerlukan waktu, bisa panjang bisa pendek tergantung dari berbagai faktor. Kalau bangsa Italia khususnya dan bangsa Eropa umumnya memerlukan waktu kurang lebih lima abad, maka bangsa Jepang memulai modernisasi sejak zaman Meiji Restorasi hingga menjadi bangsa modern memerlukan waktu kurang lebih satu setengah hingga dua abad.

 

Istilah Renaissanance (bahasa Prancis) berasal dari kata rinascita (bahasa Italia) yang artinya kelahiran kembali, merupakan istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Georgio Vasari pada abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian Italia mulai abad ke-14 hingga ke-16 yang bernapaskan semangat kesenian Yunani dan Romawi kuno. Vasari yang percaya bahwa kebudayaan itu terikat hukum alam yaitu lahir, berkembang, merosot dan mati; melihat bahwa kelahiran kembali budaya Romawi dan Yunani kuno telah terjadi di Italia sejak abad ke-14.

Lebih jauh Burckhardt mengatakan bahwa renaissance bukan sekedar kelahiran kembali kebudayaan Romawi dan Yunani kuno tetapi merupakan kebangkitan kesadaran manusia sebagai individu yang rasional, sebagai pribadi yang otonom, yang mempunyai kehendak bebas dan tanggungjawab. Manusia bebas, rasional, mandiri dan individual itulah prototype manusia modern, manusia yang sanggup dan mempunyai keberanian untuk memandang dirinya sebagai pusat alam semesta (antroprosentris) dan bukan Tuhan sebagai pusatnya (teosentris).

Maksudnya manusia harus berani bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan mengandalkan pada kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dalam menjalani kehidupan duniawi ini. Manusia tidak lagi berpegang pada prinsip memento mori (ingatlah bahwa engkau akan mati) tetapi diganti dengan semboyan carpe diem (nikmatilah kesenangan hidup)

Manusia menjadi pusat (antrhoposentris) dari alam dan di kalangan kaum humanis muncul pemikiran tentang the dignity of man. Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Francis Bacon adalah contoh yang dapat menjadi wakil dari keyakinan ini. Da Vinci pernah mengatakan bahwa mekanika ialah firdaus dari matematika dan matematika adalah dasar pemikiran serta eksperimen dalam menerjemahkan alam bagi manusia. Jika alam Abad Tengah berdasarkan otoritas Allah, sebab Allah Maha Kuasa (dues omnipoten), berkeyakinan bahwa hidup sepenuhnya tergantung  pada kuasa moril, maka pada masa renaissance manusia berkeyakinan bahwa pengalaman, eksperimen dan rasionalitas manusia merupakan dasar dalam kehidupan duniawi ini.

Ini memang mengandung benih-benih sekularisme barat sehingga agama semakin tersisihkan. Bahkan gema renaissance mengumandangkan seruan bahwa “Man can do all thing if they will”. Itu berarti bahwa manusia itu dapat berbuat apa saja, sebab dirinya memang begitu otonom.

Esensi dari semangat renaissanance dapat disimak dari pandangannya bahwa manusia dilahirkan bukan hanya memikirkan nasib di akhirat seperti semangat Abad Tengah, tetapi manusia harus memikirkan hidupnya di dunia ini. Jika Abad Tengah mengatakan manusia lahir ke dunia dengan turun dari surga dan begitu lahir langsung mengangkat kepalanya untuk menengadah lagi ke surga, maka masa renaissanance mengatakan manusia lahir kedunia untuk mengolah, menyempurnakan dan menikmati dunia ini baru setelah itu menengadah ke surga.

Nasib manusia di tangan manusia, penderitaan, kesengsaraan dan kenistaan di dunia bukanlah takdir Allah melainkan suatu keadaan yang dapat diperbaiki dan diatasi oleh kekuatan manusia dengan akal budi, otonomi, dan bakat-bakatnya. Disinilah letak awal modernitas Barat, keberaniannya untuk merombak mentalitas nasib (renaissanance). Manusia yang terbelenggu oleh dogma dan moral yang kaku dan kerdil, dirombak dengan kemampuan nalar, kebebasan individual dan tanggungjawab pribadi yang penuh.

Keberanian untuk membuka paradigm baru bahwa kesempurnaan bukan disurga tetapi ada di dunia ini. Pola pikir dan tingkah laku lama harus dirombak dengan pola pikir dan tingkah laku baru. Manusia bukan budak, manusia adalah majikan atas dirinya. Inilah semangat humanis, semangat manusia baru yang oleh Cicero dikatakan dapat dipelajari lewat bidang sastra, filsafat, retorika, sejarah dan hukum.

Manusia renaissance harus berani memuji dirinya sendiri, mengutamakan kemampuannya dalam berpikir dan bertindak secara bertanggungjawab, menghasilkan karya seni dan mengarahkan nasibnya kepada sesama. Manusia perlu membebaskan diri dari tempat yang telah dipancangkan oleh Abad Tengah yaitu antara benda dan roh, kemudian membiarkan dirinya beralih kedudukan seturut kehendaknya dalam semua tingkat mahluk, kadangkala menyamakan dirinya dengan binatang, kadangkala dengan malaikat. Ini suatu gambaran manusia yang sungguh kontras dengan Abad Tengah dimana manusia sepenuhnya terbelenggu oleh kaidah-kaidah moral yang dogmatis, manusia yang sepenuhnya tergantung pada Tuhan dan takdir.

Kendati manusia Renaissance telah mengalami pembenahan secara mental, namun masih mempunyai persamaan-persamaan disamping perbedaan dengan manusia Abad Tengah. Baik Abad Tengah maupun Ranaissance, keduanya bertumpu pada zaman klasik Yunani dan Romawi. Hanya saja pada zaman Abad Tengah, budaya klasik tersebut sepenuhnya dibingkai dan bernapaskan religiositas gereja serta dimanfaatkan bagi kepentingan gereja.

Sebaliknya, pada zaman renaissance, budaya klasik tersebut berada dibawah kekuasaan manusia dan bernapaskan keduniawian serta dimanfaatkan demi manusia itu sendiri. Dipihak lain memang harus diakui juga bahwa kedua zaman tersebut sebagian besar masih memperoleh inspirasi atau terkiat dengan tema-tema dengan tema-tema dari kitab suci (bible). Hanya saja pada umumnya karya-karya renaissance agak mengabaikan nilai-nilai spiritual, serta kurang memanfaatkan lambang-lambang dan sebaliknya lebih menekankan segi badaniah, segi luarnya.

Wajarlah bila ”keindahan” fisik sangat ditonjolkan, bahkan sering sangat terbuka dalam mengetengahkan lekuk-lekuk dan bagian yang sensual dari tubuh jasmaniah manusia. Hal ini tampak sekali misalnya dalam fresco “Ciptaan Alam”, maupun dalam diri patung “ Daud”  dan “ Musa” karya Michelangelo.

Dorongan yang paling kuat manusia zaman renaissance adalah keinginannya untuk menonjolkan diri, entah itu keindahan jasmaniahnya maupun kemampuan-kemampuan intelektualnya. Keinginannya itu dituangkan dalam berbagai hasil karya seni sastra, seni lukis, seni pahat, seni musik, arsitektur bahkan politik, dan lain-lain.

ekspresi daya kemampuan manusia itu terus berkembang sampai saat ini sehingga di zaman modern ini pun tidak ada lagi segi kehidupan manusia yang tidak ditonjolkan, kadangkala tidak hanya segi-segi yang positif dan baik tetapi tanpa sadar kadang segi negatifpun terkuak  ke luar yang secara tidak langsung mengancam dirinya sendiri. Manusia modern telah lahir dan mulai di zaman renaissance.