Menjelaskan Kronologi Peristiwa 10 November 1945 dengan singkat

Pada 10 November 1945 pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang dimulai dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya dan lantas mengarahkan selama 30.000 infanteri, sebanyak pesawat terbang, tank, dan kapal perang.

Menjelang senja, Inggris sudah menguasai sepertiga kota. Surat kabar Times di London memberitakan bahwa kekuatan Inggris terdiri dari 25 ponders, 37 howitser, HMS Sussex ditolong 4 kapal perang destroyer, 12 kapal terbang jenis Mosquito, 15.000 personel dari divisi 5 dan 6.000 personel dari brigade 49 The Fighting Cock.

David Welch mencerminkan pertempuran itu dalam bukunya, Birth of Indonesia ; “Di pusat kota pertempuran ialah lebih dahsyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing, serta anjing-anjing bergelimangan di selokan-selokan.

Gelas-gelas berpecahan, perabot lokasi tinggal tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara peperangan menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong. Perlawanan Indonesia dilangsungkan 2 tahap, kesatu pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang melulu bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan lantas dengan teknik yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengekor dengan seksama buku-buku tuntunan militer Jepang.”

Inggris lantas memborbardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia lantas berkobar di semua kota, dengan pertolongan yang aktif dari penduduk.

Terlibatnya warga dalam peperangan ini menyebabkan ribuan warga sipil jatuh menjadi korban dalam serangan itu baik meninggal maupun terluka.

Di luar sangkaan pihak Inggris yang mengasumsikan bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, semua tokoh masyarakat laksana pelopor muda Bung Tomo yang dominan besar di masyarakat terus menggerakkan motivasi perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sampai-sampai perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa laksana KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya pun mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu tersebut masyarakat tidak begitu patuh untuk pemerintahan namun mereka lebih patuh dan taat untuk para kyai) sampai-sampai perlawanan pihak Indonesia dilangsungkan lama dari hari ke hari, sampai dari minggu ke minggu lainnya.

Perlawanan rakyat yang pada tadinya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, kian hari kian teratur. Pertempuran skala besar ini menjangkau waktu hingga tiga miggu, sebelum semua kota Surabaya kesudahannya jatuh di tangan pihak Inggris.

Para pejuang yang masih hidup mengekor ribuan pengungsi meninggalkan Surabaya dan selanjutnya menciptakan garis pertahanan baru dari Mojokerto di Barat sampai ke arah Sidoarjo di Timur.