Menjelaskan Konsep Tanah dengan singkat

Konsep ilmu tanah yang dilandasi keilmuan kimia dan geologi dipelopori oleh seorang pakar berkebangsaan Jerman, Justus von Liebig (1840), yang selanjutnya mendasari konsep ilmu tanah yang berkembang di Amerika. Konsep ini disebut teori keseimbangan, tanah merupakan tempat cadangan hara yang suatu saat dapat diserap oleh tumbuhan, yang keberadaannya dapat digantikan dengan pupuk kandang, kapur, dan pupuk kimia. Teori ini disebut juga dengan Hukum Minimum Liebig.

Berbagai konsep tentang tanah berbeda-beda, berikut disampaikan konsep tanah berdasarkan pandangan ahli ilmu tanah.

  • Tanah sebagai Pijakan Bumi

Tanah merupakan landasan yang mendukung kegiatan dan tempat tinggal. Tanah merupakan landasan untuk melakukan aktivitas yang mendukung kehiduapan. Tanah mempengaruhi lokasi jalan rintis dan tempat berkemah. Berbagai kemampuan daerah yang berbeda-beda untuk pertumbuhan tanaman dan hewan, tetapi bisa saja tidak terpikirkan keadaan tersebut berhubungan dengan perbedaan tanah. Pengenalan tanah sebagai medium untuk pertumbuhan tanaman timbul jauh sesudah itu.

  • Tanah sebagai Medium Untuk Pertumbuhan Tanaman

Tanah merupakan daerah peralihan antara yang hidup dan yang mati tempat tumbuh menggabungkan energi surya dan karbondioksida dari atmosfer dengan hara dan air dari tanah menjadi jaringan hidup. Kebudayaan manusia sampai pada pandangan berburu tanah merupakan medium untuk pertumbuhan dana. Pada tahun 3000 SM, desa-desa pertanian bermunculan hingga ke Skandinavia di Eropa. Para petani tersebut telah dapat mengenal perbedaan tanah dan lebih menyukai tanah berlumpur (tanah yang berkembang dari loes, yaitu lumpur halus (silt) yang tertiup angin). Klasifikasi ini didasarkan pada kemampuan tanah untuk memberikan hasil pertanian untuk menentukan pajak. Dari semua konsep tanah, yang paling penting bagi kebanyakan orang adalah konsep tanah sebagai medium untuk pertumbuhan tanaman.

  • Tanah sebagai Mantel Batuan yang Lapuk

Ahli geologi menjadi tertarik pada tanah sebagai produk pelapukan. Tanah diklasifikasikan sebagai aluvial, residual, kapur, silikon, pasir, tanah liat, dan sebagainya. Adanya penambahan organik pada bagian atas mantel yang lapuk atau regolit. Karena regolit dapat terkena erosi dan akhirnya diangkut ke samudera, tanah dapat dianggap sebagai “batuan dalam perjalanan ke laut”. tanah bertindak sebagai medium untuk pertumbuhan tanaman.

  • Tanah sebagai Campuran Bahan

Tanah dianggap sebagai satu di antara 4 komponen dasar semua benda, selain api, air, dan udara. Konsep tanah sebagai campuran bahan berguna dalam membahas tanah sebagai teknik, tanah sebagai sistem 3 fase, dan tanah sebagai produk buatan pabrik.

  • Konsep Tanah Teknik

Tanah sebagai bahan teknik adalah bahan yang tak terkonsolidasi (dikokohkan) yang tersusun dari partikel padat yang terpidah-pisah dengan cairan dan gas yang menduduki ruangan-ruangan antarpertikel tersebut. Longsoran tanah dan batuan di sepanjang jalan raya merupakan masalah teknik biasa di pegunungan. Tanah rabuk cenderung untuk mengendap dan tidak cocok sebagai bahan landasan untuk jalan dan bangunan.

  • Tanah sebagai Sistem 3 Fase

Tanah dapat didefinisikan sebagai sistem 3 fase yang terdiri atas padatan, cairan, dan gas. Fase padat terdiri atas partikel mineral yang membentuk kerangka yang padatnya humus atau partikel organik terabsorpsi. Fase cair kebanyakan adalah air dari presipitasi, yang terdapat sebagai lapisan yang mengelilingi partikel fase padat dan menduduki ruang pori yang lebih kecil. Ruangan pori yang lebih besar terisi oleh gas kecuali tanah dan atmosfer. Kegiatan biologis, seperti pernapasan akar, penguraian bahan organik, menyerap oksigen dan menghasilkan karbondioksida. Akibatnya, terdapat difusi (penyebaran) oksigen yang terus-menerus dari atmosfer ke dalam tanah dan karbondioksida dari tanah ke atmosfer.

Volume udara dan air mempunyai hubungan timbal balik secara langsung satu sama lain melalu drainase, penguapan/pertumbuhan tanaman, ruangan pori yang diduduki air menjadi terisi oleh udara lagi. Lapisan tanah bawah bercirikan bahan organik yang jauh lebih sedikit dibanding tanah permukaan. Tanah organik, seperti rabuk atau gambut, mempunyai lebih banyak bahan organik dibanding bahan mineral.

  • Tanah sebagai Tubuh yang Terorganisasi

Pengetahuan tentang tanah menimbulkan keperluan akan konsep tanah yang dapat menampung kenyataan-kenyataan baru. Cara memandang tanah yang revolusioner dikembangkan Dokuchaev di Rusia sekitar 1870. Ia mengamati berbagai macam tanah dan mengamati bahwa tanah tertentu berulang ulang terdapat pada situasi tertentu. Bahwa setiap macam tanah mempunyai morfologi unik yang terdiri karena kombinasi iklim, makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan induk tanah, fotografi, dan umur lahan. Tanah adalah produk evolusi dan berubah mengikuti waktu.

  • Tanah sebagai Sumber Daya Alam

Perubahan penggunaan dan intensitas pendayagunaan tanah merupakan bagian dari perkembangan. Perubahan-perubahan ini akan membantu memperjelas tekanan masa kini dan mendatang yang kiranya akan meningkat sehubung dengan penggunaan tanah dalam masyarakat. Hal ini sering mengakibatkan kehidupan normal dan (pengembara), karena orang yang mengikuti migrasi hewan atau berimigrasi mengikuti musim untuk memperoleh makan yang cukup. Keadaan alami diperlukan untuk menunjang satu orang dalam ekonomi pengumpul makanan.

  • Tanah sebagai Peralihan Tempat kita Hidup

Pendayagunaan tanah adalah konsep tanah sebagai daerah peralihan antara atmosfer dan litosfer. Di sampin sebagai sumber daya dasar untuk produksi makanan, tanah menampung dan memurnikan air serta membuang limbah. Tanah sendiri dapat merupakan pencemar berupa debu di udara dan berupa sedimen dalam air. Konsep pendayagunaan tanah diolah menjadi konsep yang mempertimbangkan dampak pendayagunaan tanah terhadap semua segi kehidupan termasuk mutu lingkungan.