Menjelaskan Konsep agroforestri dengan singkat

Konsep agroforestri ialah  rintisan dari tim Canadian International Development Centre, yang bertugas untuk dapat mengindentifikasi prioritas-prioritas pembangunan pada bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun 1970-an. Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara tersebut belum cukup dimanfaatkan. Pemanfaatan di bidang kehutanan sebagian besar hanya ditujukan kepada dua aspek produksi kayu, ialah :

  • eksploitasi secara selektif di hutan alam
  • tanaman hutan secara terbatas.

Agroforestri diharapkan dapat bermanfaat selain untuk dapat mencegah  perluasan tanah yang terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan, meningkatkan mutu pada pertanian dan juga menyempurnakan intensifikasi serta diversifikasi silvikultur. Tetapi sistem Agroforestri telah dipraktekan oleh petani di berbagai tempat di Seluruh Indonesia selama berabad-abad dengan nama serta istilah yang berbeda-beda.

Sesuai dengan definisi agroforestri diatas maka sistem ini cukup bervariasi dan juga cukup luas sehingga dapat diklasifikasi berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut :

  1. Secara Struktual, ialah yang menyangkut komposisi komponen, seperti sistem-sistem agrisilvikultur, silvopastur serta agrisilvopastur.
  2. Secara Fungsional, ialah yang menyangkut fungsi atau peranan utama dalam  suatu sistem, terutama  pada komponen kayu-kayuan.
  3. Secara Sosial Ekonomis, ialah yang menyangkut pada tingkat masukan dalam suatu pengelolaan (masukan rendah, masukan tinggi, intensitas dan juga skala pengelolaan, tujuan usaha, subsisten, komersial, intermedier).
  4. Secara Ekologis, ialah yang menyangkut pada suatu kondisi lingkungan dan juga kesesuaian ekologis dari sistem Agrisilvikultur, Silvopastur, Agrosilvopastur, Silvofishery, pohon serbaguna, dan lain-lain.

Pada dasarnya agroforestri mempunyai komponen-komponen pokok yaitu sebagai berikut :

  1. kehutanan,
  2. pertanian,
  3. peternakan
  4. perikanan.