Menjelaskan Klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih) dengan singkat

Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih), sebagai berikut:

  1. Turbellaria (cacing berambut getar)

Keberadaan: 4000+ spesies di seluruh dunia; hidup di batu dan permukaan sedimen di air, di tanah basah, dan di bawah batang kayu. Hampir semua Turbellaria hidup bebas (bukan parasit) dan sebagian besar adalah hewan laut.

Kebanyakan turbellaria berwarna bening, hitam, atau abu-abu. Namun, beberapa spesies laut, khususnya di turumbu karang, memiliki corak warna lebih cerah. Panjang mulai kurang dari 1 mm hingga 50 cm. Spesies terbesar bertubuh seperti kertas.

a. Planaria sp

Cacing ini dipakai sebagai contoh yang mewakili anggota kelas Turbellaria pada umumnya. Anggota genus Dugesia, yang umumnya dikenal sebagai Planaria, berlimpah dalam kolam dan aliran sungai yang tidak terpolusi. Planaria mempunyai kebiasaan berlindung di tempat-tempat yang teduh, misalnya di balik batu-batuan, di bawah daun yang jatuh ke dalam air.

Bentuk tubuh anggota ini adalah pipih dorsoventral, dengan bagian kepala yang berbentuk seperti segitiga, sedangkan bagian ekornya berbentuk meruncing yang panjang tubuh sekitar 5-25 mm. Planaria memangsa hewan yang lebih kecil atau memakan hewan-hewan yang sudah mati.

Planaria dan cacing pipih lainnya tidak memiliki organ yang khusus untuk pertukaran gas dan sirkulasi. Bentuk tubuhnya yang pipih itu menempatkan semua sel-sel berdekatan dengan air sekitarnya, dan percabangan halus rongga gastrovaskuler mengedarkan makanan ke seluruh hewan tersebut.

Sistem saluran pencernaan makanan terdiri dari mulut, faring, oesofagus, dan usus. Mulut, terletak di bagian ventral dari tubuh, yaitu kira-kira dekat dengan pertengahan agak ke arah ekor. Lubang mulut ini dilanjutkan oleh kantung yang bentuknya silindris memanjang yang disebut rongga mulut (Faring). Oesofagus merupakan persambungan daripada faring yang langsung bermuara kedalam usus; ususnya bercabang tiga, yaitu menuju ke arah anterior, sedang yang dua lagi sejajar menuju ke arah posterior.

Seperti halnya hewan tingkat rendah lainnya, Planaria juga belum mempunyai alat pernafasan yang khusus. Pengambilan O2 maupun pengeluaran CO2 secara osmosis langsung melalui seluruh permukaan tubuh.

Sistem ekskresi terdiri dari 2 tabung ekskresi longitudinal yang mulai dari sel-sel nyala (flame cells) yang di bagian anteriornya berhubungan silang. Seluruh sistem ini terbuka ke luar melalui porus ekskretorius. Flame cells atau sel-sel api berfungsi sebagai alat ekskresi yang membuang zat-zat sampah yang merupakan sisa-sisa metabolisme dan juga sebagai alat osmoregulasi dalam arti ikut membantu mengeluarkan ekses-ekses penumpukan air di dalam tubuh, sehingga nilai osmosis tubuh tetap dapat dipertahankan seperti ukuran normal.

Sistem saraf terdiri dari 2 batang saraf yang membujur memanjang, yang di bagian anteriornya berhubungan silang, dan 2 ganglion anterior yang terletak dekat di bawah mata. Ganglion berfungsi sebagai otak dalam arti bertindak sebagai pusat susunan saraf serta mengkoordinir aktivitas-aktivitas anggota tubuh. Seonggok ganglion tersebut letaknya di bagian kepala persis di bawah lapisan epidermis agak di sebelah bintik mata. Ganglion ini karena terletak di bagian kepala dan berfungsi sebagai otak maka biasa disebut ganglion kepala atau ganglion cerebral.

Dari ganglin cerebral ini keluarlah cabang-cabang urat saraf secara radier menuju ke arah lateral, anterior, dan pasterior. Cabang anterior menuju ke bagian bintik mata, cabang lateral menuju ke alat indera cemoreseptor, sedangkan cabang posterior ada satu pasang kanan kiri yang saling bersejajar yang membentang di bagian ventral tubuh yang disebut tali saraf.

Planaria sudah mempunyai alat indera yang berupa bintik mata, dan indera aurikel, yang kedua-duanya terletak di bagian kepala. Bintik mata merupakan titik hitam yang terletak di bagian dorsal daripada bagian kepala. Masing-masing bintik mata terdiri dari sel-sel pigmen yang tersusun dalam bentuk mangkok yang dilengkapi dengan sel-sel saraf sensorik yang sangat sensitif terhadap sinar. Bintik mata itu sekedar dapat membedakan gelap dan terang saja.

Planaria bersifat hermafrodit, terdapat alat kelamin jantan dan betina. Alat kelamin jantan terdiri dari:

  • Testis, yang berjumlah ratusan, berbentuk bulat tersebar di sepanjang sisi tubuh keduanya.
  • Vasa eferensia, yang merupakan pembuluh yang menghubungkan testis dengan bagian pembuluh lainnya.
  • Vasa deferensia, merupakan pembuluh berjumlah dua buah yang masing-masing membentang di setiap sisi tubuh yang kedua-duanya saling bertemu dan bermuara ke dalam suatu kantung yang disebut vesiculus seminalis.
  • Vesiculus seminalis, berfungsi untuk menampung sperma dan menyalurkan sperma menuju ke penis.
  • Penis, yang merupakan alat pentransfer ke tubuh waktu mengadakan kopulasi pada perkawinan silang.

Sistem alat kelamin betina terdiri dari atas bagian-bagian seperti berikut:

  1. Ovari, berjumlah dua buah, berbentuk bulat terletak di bagian anterior tubuh.
  2. Oviduct, dari setiap ovarium akan membentang ke arah posterior sebuah saluran yang disebut oviduct (saluran telur). Antara saluran telur kanan dan kiri saling bersejajar yang masing-masing dilengkapi dengan kelenjar yang menghasilkan kuning telur.
  3. Kelenjar kuning telur, menghasilkan kuning telur yang akan disediakan bagi sel telur bila telah diproduksi oleh ovarium.
  4. Vagina, merupakan suatu aliran yang berfungsi untuk menerima transfer spermatozoid dari cacing planaria lain.
  5. Uterus, merupakan ruangan yang bentuknya menggelembung yang berfungsi untuk menyimpan spermatozoid. Uterus juga biasa disebut receptaculus seminalis.
  6. Genital atrium (ruang genitalis) yaitu muara antara kedua buah saluran telur.

Planaria berkembang biak dengan cara seksual maupun aseksual. Planaria akan menghindarkan diri bila terkena sinar yang kuat, oleh karena itu pada siang hari cacing itu melindungkan diri di bawah naungan batu-batu atau daun atau di bawah objek yang lain. Pada waktu istirahat biasanya Planaria melekatkanatau menempelkan diri pada suatu objek dengan bantuan zat lendir yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar lendir. Planaria melakukan dua macam gerak, yaitu gerak merayap dan meluncur.

  1. Trematoda (cacing hisap)

Keberadaan: 12000 spesies di seluruh dunia; hidup di dalam atau pada tubuh hewan lain. Semua cacing hisap adalah parasit, berbentuk silinder atau seperti daun. Panjang berkisar 1 cm hingga 6 cm. Cacing ini memiliki penghisap untuk menempelkan diri ke organ internal atau permukaan luar inangnya, dan semacam kulit keras yang membantu melindungi parasit itu. Organ reproduksinya mengisi hampir keseluruhan bagian interior cacing hisap.

Sebagai suatu kelompok, cacing trematoda memparasiti banyak sekali jenis inang, dan sebagian besar spesies memiliki siklus hidup yang kompleks dengan adanya pergiliran tahap seksual dan aseksual. Banyak trematoda memerlukan suatu inang perantara atau intermediet tempat larva akan berkembang sebelum menginfeksi inang terakhirnya (umumnya vertebrata), tempat cacing dewasa hidup. Sebagai contoh, trematoda yang memparasati manusia menghabiskan sebagian dari sejarah hidupnya di dalam bekicot.

Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati, usus, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata. Trematoda berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan tubuhnya dengan kutikula dan permukaan tubuhnya tidak memiliki silia.

Trematoda tidak mempunyai rongga badan dan semua organ berada di dalam jaringan parenkim. Tubuh biasanya pipih dorsoventral, dan biasanya tidak bersegmen dan seperti daun. Mereka mempunyai dua alat penghisap, satu mengelilingi mulut dan yang lain berada di dekat pertengahan tubuh atau pada ujung posterior. Alat penghisap yang kedua disebut asetabulum karena bentuknya mirip dengan mangkuk cuka.

Dinding luar atau tegumen trematoda adalah kutikula yang kadang2 mengandung duri atau sisik.

Sistem pencernaan makanan sangat sederhana. Terdapat mulut pada ujung anterior, yang dikelilingi oleh sebuah alat penghisap. Makanan dari mulut melalui farings yang berotot ke esofagus dan kemudian ke usus, yang terbagi menjadi dua sekum yang buntu. Sekum ini kadang2 bercabang, dan percabangan ini kadang-kadang sedikit rumit. Kebanyakan trematoda tidak mempunyai anus, dengan demikian sisa bahan makanan harus diregurgitasikan.

Sistem saraf adalah sederhana. Cincin dari serabut saraf dan ganglia mengelilingi esofagus, dan dari sini saraf berjalan ke depan dan belakang. Biasanya, sebatang saraf berjalan kebelakang pada setiap sisi, dan saraf-saraf bertolak dari sini menuju ke berbagai organ.

Trematoda tidak mempunyai sistem peredaran darah. Sistem ekskresi tersusun dari sebuah kandung kemih posterior. Sebuah sistem percabangan dari tabung pengumpul yang masuk ke dalam kandung kemih, dan sebuah sistem sel-sel ekskresi yang terbuka ke dalam saluran pengumpul tersebut. Tidak terdapat organ ekskresi yang terlepas, sel-sel ekskresi ditempatkan secara strategis di seluruh tubuh. Sel ekskresi terdiri dari sebuah sitoplasma basal yang berisi inti dan sebuah vakuola berisi seberkas silia ynag terbuka secara tetap ke dalam saluran pengumpul.

Sistem reproduksinya kompleks. Sebagian besar dari trematoda adalah hermafrodit, mempunyai organ jantan dan betina. Tetapi pembuahan silang merupakan hal yang biasa, dan pembuahan sendiri tidak umum. Pembuahan biasanya uterus, sperma melewati sirus dari satu cacing ke uterus cacing lain.

Siklus Hidup Trematoda

  • Clonorchis sp (cacing hati pada manusia)

Zygot → Larva Myrasidium → Sporosit → Redia → Sercaria → Metacercaria → Cacing dewasa.

Keterangan:

  1. Telur dilepaskan bersamaan dengan kotoran dari penderita
  2. Telur akan berkembang menjadi larva mirasidium dan masuk ke inang perantara 1, biasanya adalah siput
  3. Di tubuh siput, larva myrasidium akan bermetamorfosis menjadi sporosit
  4. Sporosit ini mengandung banyak kantung embrio, yang akan tumbuh menjadi Redia
  5. Redia akan tumbuh dan mengandung embrio yang akan berkembang menjadi Sercaria
  6. Sercaria yang dihasilkan akan berpindah menempel pada tumbuhan air membentuk kista metasercaria
  7. Tumbuhan yang mengandung kista di makan oleh domba, maka kista akan berkembang menjadi cacing hati dewasa.
  • Fasciola hepatica (cacing hati pada domba)

Zygot → Larva Myrasidium → Sporosit → Redia → Sercaria → Metacercaria → Cacing dewasa.

Keterangan:

  1. Telur dilepaskan bersamaan dengan kotoran dari penderita
  2. Telur akan berkembang menjadi larva mirasidium dan masuk ke inang perantara 1, biasanya adalah siput
  3. Di tubuh siput, larva myrasidium akan bermetamorfosis menjadi sporosit
  4. Sporosit ini mengandung banyak kantung embrio, yang akan tumbuh menjadi Redia
  5. Redia akan tumbuh dan mengandung embrio yang akan berkembang menjadi Sercaria
  6. Sercaria yang dihasilkan akan berpindah menempel pada tumbuhan air membentuk kista metasercaria.
  7. Tumbuhan yang mengandung kista di makan oleh domba, maka kista akan berkembang menjadi cacing hati dewasa
  1. Cestoda (cacing pita)

Keberadaannya: 3500 spesies di seluruh dunia; hidup sebagai parasit dalam tubuh hewan. Contoh cacing pita adalah Taenia solium dan Taenia saginata yang parasit pada orang.Taenia terdiri dari sebuah kepala bulat yang disebut scolex, sejumlah ruas, yang sama disebut disebut proglotid.

Pada kepala terdapat alat hisap dan jenis Taenia solium mempunyai kait (rostellum) yang sangat tajam yang mengunci cacing itu ke lapisan intestinal inang. Di belakang scolex terdapat leher kecil yang selalu tumbuh yang akan menghasilkan proglotid baru yang mula-mula kecil tumbuh menjadi besar. Panjang tubuh cacing pita mencapai 2 m. Setiap proglotid mengandung organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin betina (ovarium).

Tiap proglotid dapat terjadi fertilisasi sendiri. Proglotid yang dibuahi terdapat di bagian posterior tubuh cacing. Proglotid dapat melepaskan diri (strobilasi) dan keluar dari tubuh inang utama bersama dengan tinja dengan membawa ribuan telur. Jika termakan hewan lain, telur akan berkembang dan memulai siklus hidup barunya. Cacing pita tidak memiliki saluran pencernaan. Cacing pita menyerap makanan yang telah dicerna terlebih dahulu oleh inang.

Cestoda bersifat parasit karena menyerap sari makan dari usus halus inangnya. Sari makanan diserap langsung oleh seluruh permukaan tubuhnya karena cacing ini tidak memiliki mulut dan pencernaan (usus). Manusia dapat terinfeksi Cestoda saat memakan daging hewan yang dimasak tidak sempurna. Inang perantara Cestoda adalah sapi pada Taenia saginata dan babi pada taenia solium.

Cacing pita tidak mempunyai saluran pencernaan dan sitem peredaran darah. Makanan langsung melalui dinding tubuh. Sistem ekskresi yaitu berupa sel api.

Sistem saraf tersusun dari beberapa ganglion pada skoleks, dengan komisura melintang diantaranya. Dan tiga batang saraf longitudinal setiap sisil tubuh (sebuah batang besar disebelah lateral dan yang kecil disebelah ventral), satu ganglion kecil disetiap segmen pada masing-masing dari enam batang tersebut, dan komisura pada setiap segmen menghubungkan ganglion-ganglion ini.

Cestoda adalah hermafrodit, yang mempunyai organ jantan dan betina. Organ jantan terdiri dari testis (menghasilkan spermatozoa), vas deferen, seminal vesicle, penis, dan lubang kelamin. Sedangkan organ bertina terdiri dari ovarium, oviduk, seminal uterus, vagina, dan lubang kelamin.