Menjelaskan Klasifikasi Coelenterata ( Cnidaria ) dengan singkat

Berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, filum Coelenterata dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa, dan Anthozoa. Kelas Hydrozoa memiliki bentuk polip dan medusa, pada Kelas Scyphozoa tipe medusa lebih dominan, sedangkan pada Kelas Anthozoa hanya memiliki tipe polip saja. Berikut uraian masing-masing kelas tersebut.

Kelas Hydrozoa

Hydrozoa merupakan kelas dari Filum Coelenterata. Hydrozoa berasal dari bahasa Yunani, “hydro” artinya air, “zoon” artinya hewan sebagian besar hidup di laut, hanya sebagian spesies yang hidup di air tawar. Kelas Hydrozoa berasal dari kata hydra, artinya hewan yang berbentuk seperti ular. Umumnya berbentuk soliter atau berkoloni. Soliter berbentuk polip dan koloni berbentuk polip dan medusa. Lebih sering ditemukan dalam bentuk koloni polip sedangkan dalam bentuk medusa jarang banyak ditemukan. Contohnya hydra.

  1. Karakteristik Hydrozoa

Tubuhnya berbentuk seperti tabung (panjang 5-10 mm, garis tengah kurang lebih 2 mm), hidup berbentuk polip, permukaan mulut disebut ujung oral, dan permukaan tempat melekatkan diri disebut ujung aboral.

Mulut dikelilingi oleh tentakel (setiap spesies tidak sama jumlahnya, ada yang 6 atau 7 buah tentakel, panjang 1-20 mm). Reproduksi dilakukan secara aseksual (dengan pembentukan tunas) dan seksual (pembentukan testes di bagian atas dan ovum di bagian bawah). Persatuan anatara spermatozoid dengan ovum membentuk zigot, zigot akhirnya tumbuh menjadi individu baru.

Baik spermatozoid maupun ovum dibentuk dalam satu tubuh sehingga disebut hermafrodit. Dinding tubuh terdiri atas dua lapis (dipoblastik), yaitu lapisan luar (epidermis) dan lapisan dalam (gastrodermis).

  1. Sistem Metabolisme

Hydra bersifat holozoik, makanannya berupa Cyclops, Daphnia, larva insekta, Annelida atau zooplankton lain. Zooplankton ditangkap tentakel dan dilumpuhkan oleh nematikist, kemudian ditelan masuk kedalam rongga gastrovaskuler. Di dalam rongga gastrovaskuler makanan tadi akan dicerna dengan bantuan enzym tripsin yang dikeluarkan oleh sel kelenjar (pencernaan ekstrasel).

Sel-sel nutrisi membentuk pseudopodia dan menangkap zat-zat makanan yang telah diolah secara ekstrsel. Makanan tadi dicerna lagi di dalam vakuola makanan (pencernaan intrasel), kemudian zat-zat makanan diedarkan ke seluruh tubuh secara difusi. Sisa-sisa zat metabolisme dan makanan yang tidak dapat dicerna dikeluarkan kembali melalui mulut.

  1. Sistem Respirasi dan Ekskresi

Belum memiliki organ khusus untuk respirasi dan ekskresi, sehingga pada bagian basal (ujung aboral) banyak penumpukan sisa-sisa ekskresi. Respirasi dan ekskresi dilakukan secara difusi melalui seluruh permukaan tubuhnya.

  1. Sistem Reproduksi

          Reproduksi dilakukan secara seksual dan aseksual.

    1. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan membentuk testes dibagian atas dan ovarium di bagian bawah. Dalam reproduksi secara seksual beberapa spesies ada yang bersifat dioecius dan ada juga yang bersifat monoecius (hermaprodit) kebanyakan Hydra bersifat dioecious.
    2. Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas pada dinding tubuhnya yang kemudian melepaskan diri menjadi Hydra

Kelas Scyphozoa

Scyphozoa (dalam bahasa yunani, scypho = mangkuk, zoa = hewan) memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya. Medusa Scyphozoa dikenal dengan ubur-ubur. Semuanya hidup di laut, terdapat 200 spesies.

Pada kelas ini, medusa dapat bertahan lebih lama. Medusanya hidup di antara plankton sebagai ubur-ubur. Sebagian besar hewan dari kelas ini hidup di pantai dalam bentuk polip selama hidupnya. Contohnya Aurelia aurita.

  1. Karakteristik Scyphozoa

Bersifat soliter, bermetagenesis (mengalami pergiliran keturunan antara fase polip dengan fase medusa (fase medusa lebih menonjol, fase polip mengalami reduksi atau jarang sekali ditemukan). Bentuknya seperti payung yang tidak begitu cembung, transparan, berdiameter berkisar 7,5-30 cm. Dari tengah-tengah permukaan tubuh sebelah bawah (permukaan oral atau permukaan sub umbrella) terdapat kerongkongan yang menggantung ke bawah yang disebut manubrium.

Di ujung distal manubrium terdapat lubang mulut. Setiap sisi atau sudut mulut dilengkapi tangan mulut (4 buah). Rongga mulut bersambungan dengan manubrium dan bermuara ke dalam rongga perut, yang terdiri atas sebuah rongga sentral dan 4 buah  kantung gastrik. Masing-masing kantung gastrik dilengkapi tentakel internal endodermal lengkap dengan nematokistnya yang dapat digunakan untuk melumpuhkan mangasa. Dari kantung gastrik dapat menjulur saluran mesoglea untuk berhubungan dengan saluran cincin yang ada di tepian ubur-ubur.

  1. Sistem Pencernaan Makanan

Sistem pencernaan makanan aurelia aurita terdiri atas pencernaan ekstrasel dan intrasel. Pada pencernaan ekstrasel, zooplankton yang telah melekat atau terkumpul di bawah tubuh akan di sapu oleh flagel yang selanjutnya akan ditangkap oleh tangan mulut untuk dimasukkan ke dalam mulut. Bulu-bulu getar yang menghiasi tangan mulut cukup selektif dalam hal memilih makanan.

Bahan makanan kemudian masuk ke dalam rongga gastrovaskuler melalui manubrium. Di dalam rongga gastrovaskuler makanan yang belum mati akan dilumpuhkan oleh nematokist, selanjutnya makanan dicerna dengan bantuan enzym yang dihasilkan oleh sel-sel kelenjar. Pada pencernaan intrasel, zat-zat makanan yang belum berubah bentuk menjadi molekul-molekul sederhana akan dicerna lebih lanjut di dalam vakuola makanan.

  1. Sistem Pernapasan dan Ekskresi

Sistem pernafasan dan ekskresi dilakukan secara langsung melalui seluruh permukaan tubuh secara difusi-osmosis.

  1. Sistem Reproduksi

Organ kelamin terpisah. Proses fertilisasi terjadi di dalam rongga enteron betina. Zigot yang merupakan hasil peleburan antara ovum dengan spermatozoid selanjutnya akan dikeluarkan dari dalam tubuh betina melaui mulutnya dan berkembang menjadi larva berambut getar (planula).

Dengan rambut getarnya, planula ini akan mengembara kemudian mengikatkan diri pada suatu substrat di dasar laut, pada saat itu rambut-rambut getarya lepas dan tumbuh menjadi polip baru yang disebut skipistoma. Bila telah mencaopai ukuran maksimal (kl 12 mm) skipistoma mengalami strobilasi (membelah secara transversal sehingga terbentuk setumpukan ruas-ruas yang masing-masing berbentuk cakram).

Selanjutnya ruas-ruas strobila (ephyra) yang telah tua, yaitu terletak di bagian ujung strobila melepaskan diri dan berenang-renang bebas untuk hidup secara mandiri menjadi ubur-ubur/ medusa muda dan selanjutnya menjadi dewasa.

Kelas Anthozoa

Anthozoa berasal dari bahasa yunani, anthos = bunga, zoon = hewan merupakan hewan laut yang memiliki bentuk mirip bunga. Anthozoa hidup sebagai polip soliter atau berkoloni dan tidak memiliki bentuk medusa. Ada Anthozoa yang membentuk rangka dalam atau rangka luar dari zat kapur, namun ada pula yang tidak membentuk rangka. Rongga gastrovaskuler pada Anthozoa bersekat-sekat dan mengandung nematosista.

Sel epitelial cnidaria pembangun koral mengeluarkan dinding kalsium karbonat (CaCO3) dimana polip menyembunyikan dirinya. Senyawa yang dikeluarkan polip inilah yang menjadi terumbu karang. Kelas anthozoa terdiri atas 6.100 spesies. Anthozoa meliputi anemon laut, koral batu, koral tanduk, bulu laut atau pena laut.

  1. Karakteristik Anthozoa

Tubuhnya silindris, panjang 5 atau 7 cm, ada juga yang berukuran raksasa (1 m), radial simetri. Tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu: (1) cakram pedal (kaki), (2) kolumna/skapus/batang tubuh, dan (3) cakram oral (kapitulim). Antara cakaram pedal dengan bagian skpaus dihubungkan olehbagianyang disebut limbus, sedangkan antara bagian skapus dengan bagian cakram oral dihubungkan oleh bagian yang disebut kollar.

  1. Sistem Pencernaan Makanan

Sistem pencernaan makanan dimulai dari mulut-stomodeum (kerongkongan) rongga gastrovaskuler. Disepanjang sisi stomodeum dilengkapi alur cincin bersilia yang disebut siphonogliph. Alur ini merupakan jalan masuknya air ke dalam koelenteron. Air dapat mengalir dari ruang yang satu ke ruang yang lainmelalui celah yang disebut ostia.

Di bagian bawah stomodeum berkembang menjadi bentuk yang tebal disebut filamen pencernaan, di dalamnya mengandung sel-sel kelenjar penghasil getah pencernaan yang mengandung enzym. Di dekat bagian dasar sistem filamen ditemukan benang-benang akontia yang di dalamnya dilengkapi dengan sel-sel kelenjar dan nematokist.

Sistem pencernaan makanan dilakukan secara ekstrasel dan intrasel. Pada pencernaan makanan secara ekstrasel, mangsa dilumpuhkan oleh nematokist. Dengan bantuan tentakel, makanan ditarik ke dalam mulut, kemudian ke stomodeum, lalu ke rongga gastrovaskuler. Didalam rongga gastrovaskuler makanan tersebut dicerna secara ekstrasel dilakukan oleh enzym yang dikeluarkan oleh getah pencernaan. Sari-sari makanan diserap oleh dinding gastrodermis, sedangkan bagian atau partikel-partikel yang tidak dicerna dikeluarkan kembali melalui mulut.

  1. Sistem Pernapasan dan Ekskresi

Sistem respirasi dan ekskresi berlangsung secara difusi dan osmosis.

  1. Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi berlangsung secara seksual dan aseksual. Daur hidup Anthozoa diawali dengan pembuahan. Pembuahan di luar terjadi di laut dan pembuahan di dalam terjadi pada rongga gatrovaskular. Pembuahan tersebut menghasilkan zygot.

Zygot akan berkembang menjadi coeleblastula. Kemudian blastula akan menjadi grastula dan akan menjadi larva planula yang akan berenang bebas. Selama berenang akan terjadi pharink, hingga bentuknya seperti bola bercilia. Kemudian akan menempel pada substrat. Setelah itu akan terbentuk tentakel yang dikuti oleh tumbuhnya sekat.