Menjelaskan Kepercayaan Suku Mandobo dengan singkat

 Di sinilah, kepercayaan kepada babi yang sakral memberikan pengaruh sendiri yang sangat khusus. Di dalam suatu pandangan hidup kosmologis sekelompok orang yang ditahbiskan akan percaya, merayakan, dan melaksanakan pandangan hidup seorang pendiri.

Peraturan-peraturan mendapat muatan yang bisa membawa orang kepada keselamatan atau kehancuran dari kenyataan bahwa peraturan-peraturan tersebut diberikan oleh si pendiri, yang sendiri sudah menghayatinya. Jadi bukan muatan magis benda-benda itu sendiri, yang menentukan pemakaian; melainkan karena “sudah diatur” itulah, bahwa kekuatan benda-benda itu bisa membawa orang kepada keselamatan atau kehancuran.

Ketaatan bukan lagi menyesuaikan diri dengan apa harus dipatuhi di hadapan hakikat benda-benda; ketaatan di sini tunduk kepada kemauan seseorang, yang memilih sendiri benda-benda dan menyusun suatu tata tertib tertentu.

Orang menerima tata tertib itu dengan ikut makan dari “si pendiri”, yang datang hadir di dalam babi keramat. Inti mitos si pendiri ini tedetak di dalam penekanan kenyataan, bahwa Kowamup secara kreatif memanfaatkan keadaan-keadaan hidup yang didesakkan terhadap dia.

Orang memanterai makanannya; dia mengancam akan mengubah diri menjadi seekor babi dan menerima kejadian ini begitu konsekuen, sehingga dari ketaatannya kepada nasibnya dia memperoleh kekuatan aktif yang dapat memberikan suatu tata kehidupan lebih tinggi. Para pengikutnya bisa mendapat bagian dari kehidupan ini, asal mereka membiarkan diri ditahbiskan.

Sangat jelas terlihat di sini bahwa kebudayaan konsumptif kaum peramu diubah menjadi kebudayaan kaum peladang yang produktif. Kedua jenis kebudayaan itu mengenal penyesuaian diri kepada kenyataan kemungkinan hidup sehari-hari yang riil, tetapi penerimaan nasib kaum peramu dengan segala kekuatan improvisasirtya, akhir-akhirnya bersifat pasif.

Dia tetap “bergantung” pada kemungkinan-kemungkinan yang “diberikan”, sedangkan penerimaan nasib kaum peladang timbul dari kepercayaan, bahwa dia dapat menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru, asalkan dia aktif dan kreatif memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan itu dan membangunnya menjadi suatu susunan yang baru.

Nama babi keramat pertama, Kowamup, berarti “yang di tengah-tengah”, yaitu nama untuk seorang anak pria yang berada di antara anak sulung dan anak bungsu. Kata orang, anak pria “yang di tengah tengah” itu sebenarnya harus dibunuh (kadang-kadang orang mengatakan “sudah dibunuh”), tetapi mendapat gantinya dalam diri babi keramat itu.

Akan tetapi anak pria yang di tengah-tengah itu berarti manusia sebagai manusia, yang terdapat di antara generasi yang terdahulu dan generasi berikutnya; manusia, yang berada di antara pihak pemberi mempelai dan pihak penerima mempelai dan yang di dalam rumahnya (rumah kediaman dengan tiga kamar itu) merupakan pemisah di antara kediaman kedua orang istrinya.

Di dalam situasi purba ini manusialah, yang secara produktif dan kreatif memanfaatkan segala kemungkinan hidup. Dia terjebak di dalam
“perangkap kehidupan”, perangkap kebutuhan-kebutuhan ekonomi, dan perangkap kebutuhan pembiakan, perangkap uang siput, yang berbentuk vagina dan di dalam itulah dia harus membuat kehidupan, sedapat-dapatnya sekalipun dia harus mati untuk itu dan membiarkan dirinya dimakan.

Di sinilah juga terkandung pikiran-asal akan mutlak perlunya pengorbanan diri (secara kreatif), sebagaimana sudah kita lihat di kalangan kaum peramu, sebagai tuntutan terakhir kehidupan konsumptif.