Menjelaskan Kepercayaan dan Kekerabatan Suku Bali dengan singkat

Sistem Kepercayaan Suku Bali

Mayoritas suku Bali menganut kepercayaan Hindu Siwa-Buddha, salah satu denominasi agama Hindu. Ajaran ini dibawah oleh para pendeta dari India yang berkelana di Nusantara dan kemudian memperkenalkan sastra Hindu-Buddha kepada suku Bali berabad-abad yang lalu. Masyarakat menerimanya dan mengkombinasikannya dengan mitologi pra-Hindu yang diyakini mereka. Suku Bali yang telah ada sebelum gelombang migrasi ketiga, dikenal sebagai Bali Aga, sebagian besar menganut agama berbeda dari suku Bali pada umumnya. Mereka mempertahankan tradisi animisme.
Suku Bali Hindu percaya adanya satu Tuhan dengan konsep Trimurti yang terdiri atas tiga wujud, yakni sebagai berikut :

  • Brahmana : menciptakan;
  • Wisnu : yang memelihara;
  • Siwa : yang merusak.

Selain itu hal-hal yang mereka anggap penting adalah sebagai berikut.

  • Atman : roh yang abadi.
  • Karmapala : buah dari setiap perbuatan.
  • Purnabawa : kelahiran kembali jiwa.

Tempat ibadah agama Hindu disebut pura. Pura memiliki sifat berbeda, sebagai berikut:

  • Pura Besakih: sifatnya umum untuk semua golongan.
  • Pura Desa (kayangan tiga): khusus untuk kelompok sosial setempat.
  • Sanggah: khusus untuk leluhur.

Sistem Kekerabatan Suku Bali

Sistem perkawinan suku bali dulunya ditentukan oleh kasta. Yang mana wanita dari kasta tinggi tidak boleh kawin dengan laki-laki kasta rendah. Namun seiring perkembangan zaman, hal itu tidak berlaku lagi. Perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (mak dengan ngad). Hal itu akan menimbulkan bencana (panes).

Cara memperoleh istri berdasarkan adat ada dua, yaitu:

  • memadik, ngindih: dengan cara meminang keluarga gadis;
  • mrangkat, ngrorod: dengan cara melarikan seorang gadis.