Menjelaskan Kemunculan dan Perkembangan Kapitalisme dengan singkat

Kemunculan kapitalisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor budaya dan faktor struktural (Wasino, 2007: 3-4). Teori tentang budaya sebagai faktor yang mendorong munculnya kapitalisme ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Weber menyatakan bahwa kapitalisme yang ada di Eropa dan di Amerika bersumber pada nilai-nilai Protestan. Lebih jauh lagi ke belakang hal ini disebabkan adanya gerakan individualisme, sehingga menimbulkan adanya reformasi (Ebenstein dan Folegeman, 1987:148). Berkaitan dengan nilai-nilai Protestan sebagai pendorong munculnya kapitalisme, Weber menjelaskan bahwa dalam ajaran Protestanisme tidak dianjurkan bagi orang-orang beriman untuk melupakan duniawi dan mengasingkan diri dalam biara atau berkonsentrasi pada kegiatan meditasi atau berdoa serta aktivitas untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian seperti yang banyak dilakukan oleh ajaran Katolik, tetapi dalam hidup di dunia ini harus dilakukan dengan kerja keras dan ketekunan. Faktor pendorong dari ajaran Protestan ini terhadap perkembangan kapitalisme didukung dengan adanya ajaran dari Luther yang mengubah arti dari pekerjaan dari yang bersifat keagamaan menjadi keduniawian, dan ajaran dari Calvin tentang “suratan nasib ganda”.

Faktor lain selain faktor budaya yang mendorong terjadinya kapitalime adalah faktor struktural. Konsep ini didukung oleh pemikiran dari Karl Marx yang menyatakan bahwa faktor struktural adalah terjadinya suatu perubahan cara produksi dari masyarakat feodal ke masyarakat kapitalis. Perubahan ini seperti diungkapkan Tom Bottom ore dalam Theories of Capitalism, berlangsung dalam waktu yang cukup panjang yang diawali dengan (1) meningkatnya ketersingan produsen kecil dari produksinya, (2) tumbuhnya kota-kota, (3) tansformasi petani menjadi buruh, (4) munculnya proletariat perkotaan, (5) perluasan melalui laut yang berakibat perluasan kapital secara cepat (Arif Purnomo, 2007:35).

Dalam perubahan struktural cara produksi masyarakat itu yang terpenting bagi tumbuhnya kapital menurut Anthony Giddens seperti dikutip Purnomo (2007) adalah faktor akumulasi. Akumulasi ini merupakan suatu produksi kapitalis yang dibangun sebagai konsekuensi akibat kemajuan teknologi, kompetisi diantara pada kapitalis secara individual, di mana peristiwa ini mendrong untuk menabung dan berinvestasi.

Berkembangnya kapitalisme tidak lepas dari adanya pandangan dari tokoh-tokoh adam Smith, Keynes, Rostow, dan sebagainya. Adam Smith yang dikenal sebagai bapak ideologi kapitalisme mengemukakan teori The Wealth of Nations yaitu kemakmuran bangsa-bangsa akan tercapainya melalui ekonomi persaingan bebas, artinya ekonomi tanpa campur tangan negara. Menurut Adam Smith, kapialisme merupakan paham yang membebaskan manusia untuk berekonomi secara bebas dan mengejar laba bebas dari tekanan agama dan negara. Prinsip yang menancap kuat pada waktu itu adalah laissez faire, yaitu sebuah prinsip yang melarang otoritas eksternal untuk turut campur dalam masalah ekonomi. Smith berkeyakinan bahwa apabila manusia dibebaskan untuk mengejar profit, maka akan ada kompetisi, dan melalui kompetisi inilah stabilitas masyarakat akan terjaga (seolah-olah ada tangan yang tak kelihatan yang mengatur masyarakat di luar pengatahuan pelaku- pelaku ekonomi) (Donny Gahral Adian, 2005:70).

Ideologi kapitalisme kemudian diperbaharui dan dikembangkan oleh Keynes dengan teorinya “campur tangan negara dalam ekonomi” khususnya dalam menciptakan kesempatan kerja menetapkan tingkat suku bunga, tabungan, dan investasi. W.W Rostow kemudian mengemukakan teorinya The Five Stage Scheme, Harrod-Domar dengan teori tentang tabungan dan investasi, Mc Celland dengan teori The Need for Achievment, Reagan dan

Tacher dengan teori Neo-Liberalism atau globalisasi pasar bebas atau teori kedaulatan pasar bebas (Arif Purnomo, 2007:28).

Pada perkembangan selanjutnya, kapitalisme terutama kapitalisme industrial, menutur Dillard dibagi menjadi beberapa fase, yakni periode kapitalisme awal (1500-1750), kapitalisme klasik (1750-1914), serta kapitalisme lanjut. Namum demikian, sebelum adanya kapitalisme industrial ada pula yang disebut dengan kapitalisme purba.

Kapitalisme purba adalah tahapan awal pembentukan kapitalisme yang ditemukan dalam bibit-bibit pemikiran masyarakat feodal yang berkembang di Babilonia, Mesir, Yunani, dan Kekaisaran Roma. Para ahli ilmu sosial menamai tahapan kapitalisme ini dengan sebutan commercial capitalism. Kapitalisme komersial berkembang dan membutuhkan sistem ekonomi untuk menjamin fairness perdagangan ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang, tuan tanah, kaum rohaniwan.

Max Weber mengatakan bahwa akar kapitalisme berawal dari sistem Codex Luris Romae sebagai aturan main ekonomi yang kurang lebih universal dipakai oleh kaum pedagang eropa, Asia Barat, serta Asia Timur Jauh dan Afrika Utara. Aturan main ekonomi ini sebetulnya dimanfaatkan untuk memapankan system pertanian feodal. Sehingga, dari aturan ini muncul istilah borjuis yang mengelompokkan sistem feodalisme yang disempurnakan dengan sistem hukum ekonomi itu. Kaum borjuis merupakan sebutan bagi golongan tuan tanah, bangsawan, dan kaum rohaniawan yang mendiami biara yang luas dan besar. Perkembangan selanjutnya merupakan perkembangan kapitalisme yang disebut dengan tata cara dan “kode etik” yang dipakai kaum merkantilisme, yaitu kaum pedagang yang berkumpul di pelabuhan Genoa, Venice dan Pisa. Hal ini menyebabkan perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan, tata cara barter serta perdagangan yang dianut oleh para merkantilis abad pertengahan. Dari akar penyebutan inilah, wacana tentang keuntungandan profit menjadi bagian integral dalam kapitalisme sampai abad pertengahan.

Setelah kapitalisme purba, muncullah kapitalisme industri. Kapitalisme industri muncul ketika berkembang pandangan merkantilis dan perkembangan pasar berikut sistem keuangan yang telah mengubah cara ekonomi feodal yang semata-mata bisa dimonopoli oleh para tuan tanah, bangsawan dan kaum rohaniawan. Ekonomi mulai bergerak menjadi bagian dari perjuangan kelas menengah dan mulai menampakan pengaruh pentingnya. Ditambah lagi rasionalisasi filosofis abad modern yang dimulai dengan era renaissance dan humanisme mulai menjalari bidang ekonomi.

Tokoh-tokoh yang memberikan pengaruh kapitalisme yaitu Thomas Hobbes dengan pandangan egoisme etisnya yang pada intinya meletakan sisi ajaran bahwa setiap orang secara alamiah pasti akan mencari pemenuhan kebutuhan dirinya. John Locke, dia menekankan sisi liberalisme etis, dimana salah satu adagiumnya berbunyi bahwa manusia harus dihargai hak kepemilikan personalnya. Adam Smith dan David Ricardo yang menjatuhkan pandangan kedua tokoh diatas dengan filsafat laissez faire (ungkapan penyifat) dalam prinsip pasar dan ekonomi. Pandangan ini menekankan bahwa sistem pasar bebas diberlakukan sistem kebebasan kepentingan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah.

Akselerasi kapitalisme semakin terpicu dengan timbulnya revolusi industri. Industrialisasi di Inggris dan Prancis yang mendorong adalah industri raksasa, dimana mekanisme modernnya akan memicu kolonialisme dan imperialisme ekonomi, sehingga tidak mengherankan terjadi Exploitation I’homme par I’homme. Situasi penindasan yang timbul mengakibatkan munculnya reaksi alamiah dari orang-orang yang memiliki keperdulian kolektif yang mengalami trade-off dalam era industri, salah satunya adalah Karl Marx, menurutnya sistem yang tidak beres dalam kapitalisme cenderung menafikan individu dalam konteks sosial.

Pada periode awal kapitalisme industri (1500-1750), kapitalisme ini bertumpu pada industri tekstil yang ada di Inggris pada abad XVI-XVIII. Perkembangan industri di Inggris pada abad XVI-XVIII disebabkan terdapat adanya surplus sosial yang didayagunakan secara poduktif yang menjadikan kapitalisme mampu mengungguli semua sistem ekonomi sebelumnya. Adanya surplus tersebut digunakan untuk berbagai usaha seperti perkapalan pergudangan, bahan-bahan mentah, barang-barang jadi, dan berbagai bentuk

kekayaan lainnya. Dengan demikian, surplus sosial ini telah berubah menjadi perluasan kapasistas produksi (Arif Purnomo, 2007:37).

Pada fase kedua (1750-1914) terjadi pergeseran pembangunan kapitalis dari perdagangan ke industri. Pada masa ini akumulasi modal terjadi secara terus-menerus selama tiga abad. Perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi telah mempermudah proses ekonomi. Mesin-mesin produksi massal digunakan dalam berbagai industri yang menyebabkan terjadinya percepatan prouksi barang, sehingga mempercepat tumbuhnya kapitalisme. Pada masa ini, perdagangan bebas menjadi fakor utama dalam kegiatan ekonomi yang belum penah terjadi sebelumnya.

Fase ketiga ditandai dengan adanya momentum perang Dunia I sebagai titik balik perkembangan sistem kapitalisme. Fase ini ditandai dengan adanya pergeseran hegemoi kapitalisme dari Eropa ke Amerika Serikat dan bangkitnya perlawanan bangsa-bagsa Asia dan Afrika terhadap kolonialisme Eropa. Dilard menyebut fase ini sebagai kapitalisme monoplis, dimana pada masa ini muncul perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai sendi-sendi perekonomian (Ebenstein dan Folegeman, 1987).