Menjelaskan Kelainan Fungsi Netrofil dan Monosit dengan singkat

Fungsi normal netrofil dan monosit dapat dibagi menjadi 3 fase :

  1. Kemotaksis (mobilisasi dan migrasi sel). Fagostik tertarik ke bakteri atau lokasi inflamasi oleh zat kemotaktik yang dilepaskan dari jaringan yang rusak atau oleh komponen komplemen dan juga oleh interaksi molekul perlekatan leukosit dengan ligan dijaringan yang rusak.
  2. Fagositosis. Bahan asing (bakteri, jamur, dll) atau sel pejamu yang mati atau rusak difagositosis. Pengenalan partikel asing dibantu oleh opsonisasi dengan imunoglobulin atau komplemen karena netrofil maupun monosit mempunyai reseptor Fe dan C3b. Opsonisasi sel tubuh normal (misalnya eritrosit atau trombosit) juga membuat sel tersebut dapat dirusak oleh makrofag sistem retikuloendotelia, seperti pada hemolisis autoimun, purpura trombositopenik idiopatik (autoimun), atau sitopenia yang diinduksi obat.
  3. Makrofag mempunyai suatu peran sentral dalam presentasi antigen-memproses dan mempresentasikan antigen asing di molekul antigen leukosit manusia (HLA) ke sistem imun. Makrofag juga menyekresi sejumlah besar faktor pertumbuhan yang mengatur respons inflamasi dan respon imun.
  4. Kemokin adalah sitokin kemotaktik yang terdiri atas dua kelas utama-kemokin CXC(α), yaitu sitokin pro-inflamsi kecil (8-10000 MW) yang terutama bekerja pada netrofil dan kemokin CC (β) seperti protein inflamsi makrofag (macrophage inflammatory protein) (MIP)-1α dan RANTES yang bekerja pada monosit, basofil, eosinofil, dan sel natural killer (NK). Kemokin dapat dihasilkan secara konstitusi dan mengatur  aktivitas limfosit pada kondisi fisiologik; kemokin inflamatorik diinduksi dan diregulasi meningkat oleh rangsangan inflamasi. Kemokin ini berikatan dengan dan mengaktifkan sel melalui reseptor kemokin dan berperan penting dalam merekrut sel yang sesuai ke lokasi inflamsi. Reseptor kemokin telah diidentifikasi sebagai koreseptor untuk masuknya virus HIV ke dalam sel.

Membunuh dan mencerna. Ini terjadi melalui jalur bergantung-oksigen atau tidak bergantung oksigen. Pada reaksi bergantung oksigen superoksida (O2), hidrogen peroksida (H2O), dan spesies oksigen (O2) teraktivasi lainnya, dihasilkan dari O2 dan nikotimanida adenin dinukleotida fosfat tereduksi (NADPH). Dalam netrofil, H2O2 bereaksi dengan mieloperoksidase dan halida intraseluler untuk membunuh bakteri; mungkin juga terdapat keterlibatan oksigen teraktivasi. Mekanisme mikrobisida non-oksidatif melibatkan penurunan pH dalam vakuo fagosit tempat dilepaskannya enzim lisosom. Faktor tambahan yaitu laktoferin-suatu protein pengikat besi yang terdapat dalam granula netrofil bersifat bakteriostatik dengan cara mengambil besi dari bakteri. Monositosis adalah peningkatan jumlah monosit darah ditas 0,8 x 109 /l jarang ditemukan.

Neutropenia kongenital. Batas bawah hitung neutrofil normal adalah 2,5 x 109 /l. Apabila jumlah neutrofil absolut kurang dari 0,5 x 10 9 /l, pasien mungkin menderita infeksi berulang dan jika jumlahnya turun sampai kurang dari 0,2 x 109 /l, resikonya sangat serius, khususnya jika terdapat juga suatu defek fungsional. Netropenia dapat bersifat selektif atau merupakan bagian dari pensitopenia umum.

Netropenia berat terutama disertai dengan infeksi mulut dan tenggorokan. Ulserasi yang terasa nyeri dan sering kali sulit diatasi dapat terjadi di tempat-tempat tersebut, pada kulit atau anus. Septikemia dapat terjadi dengan cepat. Organisme yang biasanya dibawa sebagai komensal oleh individu normal, seperti Staphylococcus epidermitis atau organisme gram negatif dalam usus, dapat menjadi patogen. Pemeriksaan sumsum tulang berguna dalam menentukan derajat kerusakan granulopoiesis, misalnya apakah terdapat pengurangan jumlah prekusor dini atau apakah hanya terdapat pengurangan jumlah netrofil darah dan netrofil sumsum tulang dengan prekusor lanjut tetap dalam sumsum tulang. Aspirasi sumsusm tulang dan biopsi trephin juga dapat membuktikan adanya leukemia, mielodisplasia, atau infiltrasi lain.