Menjelaskan Kekerabatan Suku Donggo dengan singkat

Kelompok kerabat keluarga batih ialah keluarga batih patrilineal, dalam keluarga batih seorang ayah sangat dihormati dan mempunyai kekuasaan yang lebih besar. Apabila terjadi perceraian maka anak-anak akan berada dipihak suami, sedangkan isteri dikembalikan kepada keluarganya dan hanya menerima benda-benda pusaka serta sebagian dari harta yang didapat sebelum bercerai.

Beberapa istilah kekerabatan dalam keluarga inti ialah ama untuk ayah, ina untuk ibu, wi untuk istri, rahi untuk suami, anak sulung ialah ulu, anak bungsi disebut cumpukai dan lain-lain. Satu keluarga yang anggotanya selain keluarga inti, tapi ada anggota kerabat lain, misalnya nenek, bibi atau kemenakan dan kelompok kerabat semacam ini disebut ngge’e la’bo.

Suatu kebiasaan mereka di masa lalu menjodohkan anaknya sejek masih kecil, dan rata-rata kawin muda. Seorang wanita sudah cukup syarat untuk kawin kalau sudah datang masa haid dan sudah pandai bertenun. Sekarang kebiasaan itu sudah banyak berubah. Pranata berpacaran agaknya tidak dikembangkan dalam masyarakat ini, kalau seseorang anak laki-laki menginginkan seseorang gadis ia langsung saja menyatakan keinginan itu kepada orang tuanya.

Orang tuanya akan melakukan peminangan, kalau pinangan itu diterima dan satu waktu mereka pun bertunangan. Kalau sudaha bertunangan maka si perjaka wajib mengabdi atau bekerja menolong calon mertuanya sampai tiba masa perkawinannya, mas kawin yang diminta ialah uang, rumah, kerbau dan ternak lainnya.

Daur hidup masyarakat ini antara lain sesudah melahirkan, sang bayi disusukan oleh saudara dekat dari yang bersalin itu, selama tujuh hari setelah melahirkan api di dapur tidak boleh mati. Setelah bayi berumur tujuh hari ada upacara pemberian nama “cafe sari”. Bagi mereka yang beragama Islam dilakukan sunatan baik untuk laki-laki maupun bagi anak perempuan.

Anak laki-laki disunat pada usia 5-6 tahun, dalam rangka sunatan ini masih juga dilakukan upacara berdasarkan tradisi setempat, misalnya acara mako yaitu memberi semangat kepada sang anak. Anak ini sambil memegang keris mengucapkan pantun-pantun tertentu dengan diiringi bunyi-bunyian seperti gendang.